My Devil Wife'S

My Devil Wife'S
"Cinta Hal yang Tabu"


__ADS_3

Nesya kini duduk di samping Lina yang menatapnya tidak seperti biasa, nesya menepis pikiran yang konyol itu lebih baik ia menyampaikan keluhannya kepada Keluarga Louis.


Namun sebelum membuka suara terlebih dahulu Zenia menatapnya dengan senyuman misterius.


"Kenapa dengannya.." guman Nesya dalam hati.


Lalu..


"Tante.."


Lirihnya ke arah Lina yang duduk tepat di sampingnya.


"Kenapa.? Ada apa.!, kenapa kau menangis"


Tanya Lina tidak bersuara datar. Nesya merasa ada yang aneh dengan mamanya Louis hari ini, ia menelan salfianya sendiri dengan paksa.


Nesya memasang wajah sedihnya lalu..


"Tante.. Izinkan aku tinggal di sini, kemarin Apartemenku di rusak oleh orang tidak bertanggung jawab bahkan semua barang berharga milikku ikut di bakar habis"


Lina beserta yang lainnya terbelalak kaget. Merasa kasihan lina mengangguk demi rasa kemanusiaan.


Terkecuali Marget yang dari awal tidak suka dengan Nesya bahkan beberapa kali ia sudah menujukan rasa tidak sukanya secara langsung.


"Apa kau sudah melaporkan ke pada Polisi, Baiklan tinggal di sini sesukamu"


Ucap Lina memegang pundak Nesya lalu memeluknya, sesekali ia melirik Zenia dan Louis yang hanya terdiam tanpa kata.


"Terimakasih Tante"


Ucap Nesya tersenyum miring, ia harus memanfaatkan kesempatan bagus ini untuk mendapatkan Louis kembali ke sisinya.


Alexander menghela napas pelan, Entah apa lagi yang akan terjadi kali ini. Nesya akan tinggal di rumahnya pasti kedepannya akan ada sebuah kejadian yang tidak enak yang akan terjadi lagi mengingat Marget sangat tidak suka dengan wanita yang pernah menjadi Kekasih Louis dulu.


***


Di kamar Louis terus memperhatikan gerak gerik Zenia yang tampak sibuk dengan ponselnya tidak mengalihkan pandangan sama sekali, Pikiran Louis melayang-layang.. Mereka masih berada di Rumah orang tuannya karena tadi Lina dan Marget terus memaksa agar Zenia dan dirinya tidur di sini malam ini.


"Honey.. Duduk disini"


Panggil Louis pada akhirnya ia tidak tahan melihat Istri tidak berada di sampingnya.


Zenia mengalihkan tatapan matanya ke arah Louis yang duduk di tempat tidur.


"Kenapa... ?"


Jawab Zenia singkat ia masih belum bergerak di tempatnya.


"Kesinilah duduk, jangan berdiri terus, ada yang ingin kusampaikan kepadamu"


"Apa.. Katakan saja"


"Duduk dulu baru kusampaikan kepadamu"


Desak Louis tidak sabar.


Zenia perlahan melangkah ke arahnya. Lalu duduk tepat di depannya dengan wajah datar.


"Cepat katakan.."


"Honey.. Apa kau tidak masalah jika Nesya ada di sini, apa sebaiknya kita pulang saja.. Aku takut jika wanita itu akan menyakitimu lagi"


Ucap Louis memegang kedua tangan Istrinya lalu mengecupnya lama.


"Masalah..? Sama sekali tidak, bukannya dia adalah tunanganmu jadi wajar saja, jika ia ingin lebih dekat dengan keluargamu"


Ucap Zenia santai, Nesya sama sekali bukan masalah baginya.


Mendengar ucapan Istrinya Louis memalingkan wajahnya kecermin besar di sampingnya yang tepat menghadap ke arahnya..

__ADS_1


"Kau tidak Marah.. atau cemburu dengan Nesya, Honey."


Ujar Louis tanpa mau melihat istrinya.


"Untuk apa Aku cemburu.. Yang kurasakan hanya marah saja, karena telah membuatku keguguran saja.. Cemburu sama sekali tidak ada dalam hatiku"


Zenia berdiri dari tempat tidur, ia tidak tau apa yang ada di benak Louis yang tampak enggan menatapnya.


Zenia berjalan ke arah pintu, ia ingin keluar jalan-jalan mengelilingi semua sudut mansion sang mertua, namun sebuah ucapan dari Louis membuatnya menghentikan Langkahnya..


" Apa kau tidak mencintaiku Zenia, Kau menganggapku apa..?, Apa artinya diriku di kehidupanmu..?"


Zenia berbalik sekilas. Menjawab


"Cinta..? Adalah hal yang tabu bagiku, dan Aku menganggapmu Sebagai Suami saja tidak lebih dari itu"


Ujar Zenia melanjutkan langkahnya keluar dari kamar.


Louis menatap kepergian dari Zenia tanpa tau harus berbuat apa, Ternyata selama mereka berdua menghabiskan waktu bersama Zenia tidak memiliki perasaan Cinta untuknya dan Hanya di anggap sebagai suami tidak lebih, Louis menyesali pertanyaannya tadi yang membuat hatinya sakit.


"Aku harus membuatnya Jatuh cinta kepadaku apa pun caranya, di dunia ini tidak ada yang mustahil"


Ucap Louis bertekad penuh keyakinan, terlebih dahulu ia harus memiliki anak yang akan semakin mengeratkan hubungannya dengan Zenia, agar kelak Istrinya itu tidak pernah pergi dari dirinya.


***


Zenia berjalan sambil menilai yang di lihat dan di lewatinya, pandangannya terhenti di sebuah Kolam renang besar, sudah beberapa tahun ia berusaha belajar untuk berenang namun tetap saja ia tidak tau caranya.


Dengan perlahan ia mendekat. Ternyata di sana ada bibi marget Zenia berjalan ke arah marget dengan senyuman di wajahnya.


"Bibi.. Apa yang kau lakukan di sini sendiri lagi.."


Ucap Zenia mengagetkan Marget..


"Ya.. Ampun, Zenia kau membuatku Kaget"


"Maaf Bibi"


Tanyanya mencari keberadaan Louis.


"Ada di kamar, Istirahat"


Jawab Zenia malas..


Marget merasa ada yang terjadi di antar keduanya, lebih baik ia tidak usah ikut campur dengan urusan orang lain. Lalu mengalihkan pembicaraan..


"Aku suka berenang Zen.. Ayo kita masuk ke kolam"


Ajak Marget, ia tadi hendak berenang menyegarkan diri.. Tua-tua begini ia tipe orang yang suka dengan kebugaran tubuh .


Zenia menggeleng cepat. Bisa tenggelam dia jika harus menemani Bibi marget berenang terlebih tidak ada Ken yang akan menolongnya.


"Tidak perlu.. bibi saja, aku duduk dan melihat bibi berenang aja deh"


Tolak Zenia.


"Ya... Sudah"


Marget menceburkan diri ke kolam berukuran panjang dan lebar yang sama 10 meter sedangkan kedalamannya sendiri 4,5 meter.


Zenia berdiri dekat kolam memperhatikan seberapa dalam kolam tersebut, Ia begidik geri baru pertama kalinya ia merasa sangat takut hanya karena hal sepele seperti ini.


"Hah.. Jika saja aku tau berenang pasti sangat menyenangkan"


Zenia berguman melihat betapa licahnya gerakan bibi marget.


Dari kecil ia tidak di biarkan oleh Kakek ataupun kedua orangtuanya untuk berenang takutnya Zenia akan tenggelam.


Tanpa di sadari olehnya Nesya sudah berada di belakangnya menatapnya dengan geram..

__ADS_1


Byuur...


Tubuh Zenia terdorong masuk ke dalam kolam..


"Tolong.. To. Long.. "


Zenia mengepakkan kedua tangannya panik ia tidak bisa berenang dan tidak mau mati begitu saja.


"Bibi.. to.. lo..ng.."


"Louis... Tolong.."


Panggil Zenia perlahan kehabisan tenaga dan tenggelam.


Marget yang masih terfokus tidak mendengar panggilan minta tolong dari Zenia sama sekali. Semua suara hilang ketika berada di dalam air..


Barulah beberapa saat ia melihat seseorang mengambang di dasar air betapa terkejutnya.


"ZENIAAAA"


Teriaknya panik menghampiri Zenia.


Sesegera mungkin ia membawa Zenia ke tepi kolam dan memberinya pertolongan pertama.


Memeriksa denyut nadi dan Nafas Zenia..


"Masih ada.."


"Zenia Bangun.. zenia.. Zenia.."


Ucap Marget menepuk kedua pipi Zenia, namun tidak ada reaksi sama sekali.. Ia takut jika terjadi kemungkinan hal mengerikan terjadi.


"LOUISSS.. Kesini Cepat"


Marget melihat Louis berjalan mencari keberadaan Zenia.


Louis mendengar panggilan itu menoleh ke arah asal suara, Matanya terbelalak sempurna dengan secepat Kilat ia sudah berada di disana.


"Honey.. Bangun, Honey.."


Menepuk kedua pipi Zenia wajah istrinya tampak pucat, Louis takut badannya bergetar hebat.


"Bibi apa yang terjadi.?"


Tanya Louis meneteskan air mata.


"Cepatlah beri dia nafas buatan, sebelum terlambat"


Bukannya menjawab Marget menyuruh Louis untuk segera memberikan nafas buatan.


Louis mengangguk dengan pengetahuan medisnya ia segera melakukan CPR agar Istrinya segara tersadar..


beberapa saat kemudian Zenia memuntahkan semua air yang di telan olehnya tadi..


"Zenia..."


ucap Louis lega..


"Hukhh.. Louis.."


ucapannya sadar namun seketika Ia kembali Pingsan tidak berdaya. Louis mengangkat tubuh Zenia panik menuju kamar mereka.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Tbc...!!!


__ADS_2