
~~ Incomplete Love ~~
.
.
.
Setelah orang-orang itu pergi dari sana kini hanya tersisa Ken dan Rufella, terlihat tidak ada kegiatan yang menyenangkan karena mereka berada di dalam ruangan pemulihan dan banyak larangan, merasakan kesunyian Rufella melirik keranjang penuh buah-buahan tersebut.
"Ken, aku mau kau mengupaskan jeruk untukku." pinta Rufella menunjuk keranjang buah di atas nakas yang berisi bermacam-macam buah segar di sana.
"Baiklah." sahut Ken langsung melaksanakan permintaan wanita itu.
Ken mengambil buah jeruk berwarna orange terang tersebut dan mengupas kulitnya agar Rufella bisa memakan isi buahnya.
"Ini makanlah." ucap Ken menyerahkan buah jeruk yang sudah terpisah dari kulitnya itu.
"Terima kasih." ucap Rufella tersenyum, mengambil buah jeruk itu dari tangan Ken dan mulai memakannya.
Ken menatap Rufella dengan raut wajah datar seakan dirinya agak jenuh bersama dengan wanita ini, bahkan sudah terhitung seminggu dirinya berada di sana menemani Rufella di rumah sakit.
Merasa di perhatikan Rufella membalas tatapan Ken kepadanya dan tersenyum senang kepada pria itu lalu memberikan satu kedipan mata untuk Ken.
"Apa kau, dasar wanita genit." ucap Ken langsung memalingkan wajahnya.
"Siapa yang genit, aku hanya mengedipkan mataku seperti ini." balas Rufella kembali melakukan hal yang sama.
"Oh ...." sahut Ken dengan malas memutar bola matanya.
Rufella hanya terkekeh geli akan ekspresi yang Ken tunjukkan.
"Kenapa kau tertawa?" tanya pria itu tiba-tiba. Ia mengerutkan kening tidak suka.
"Apa! Aku tidak tertawa, kau pasti salah liat tadi." sahutnya.
__ADS_1
"Kau ini yang benar saja."
"Hum, apa kau mau memakan jeruk juga? Ambilah jangan sungkan-sungkan."
"Aku tidak mau, kau makan saja sendiri, sudah berhenti berbicara." ujar Ken.
Setelah memakan jeruk Rufella membaringkan tubuhnya untuk kembali istirahat sedangkan Ken tampak menerima telepon dari seseorang.
Hari sudah siang, Ken mengerjakan seluruh tugasnya di rumah sakit karena Rufella tidak mau di tinggal sendiri di sini dan sudah di beri perintah oleh Zenia dan Roni agar menemani Rufella di sana saja.
Sorot mata Ken begitu terlihat sangat fokus akan komputer miliknya, mengutak ngatik di sana, Rufella yang awalnya berbaring di bed rumah sakit lantas bangun dari sana medudukkan tubuhnya agar bisa lebih leluasa melihat wajah tampan Ken yang bisa membuat detak jantungnya berdebar tidak karuan.
"Kau butuh sesuatu, mau aku ambilkan?" tanya Ken tanpa memindahkan pandangannya dari laptopnya.
"Ehh, tidak Ken ... kau lanjutkan saja pekerjaanmu."
Sesaat Ken mengangkat wajah untuk sekadar melihat Rufella, lalu menganggukkan kepala.
"Baiklah, kalau kau butuh sesuatu katakan saja kepadaku." ucap Ken.
"Humm ...."
Dua hari kemudian, Rufella sudah di perbolehkan pulang, sekarang ia sudah sampai di rumahnya dengan di jemput oleh Roni sedangkan Ken sudah pulang juga ke apartemennya.
"Roni, hubungi Ken dan suruh dia untuk tinggal di sini saja bersamaku." ucap Rufella sesaat tubuhnya berhasil mendarat di sebuah sofa.
"Kakak jangan meminta yang aneh-aneh, Ken tidak akan mau tinggal di rumah kita. karena dia punya tempat tinggal sendiri dan nyaman untuknya."
"Tapi kalau kami nanti sudah menikah, aku harus tinggal di mana, di sini atau di apartemennya?" tanya Rufella.
"Kakak jangan konyol, selamanya Ken tidak akan mau menikah dengan wanita manapun." ucap Roni.
"Tapi bukannya waktu itu kau berkata, jika aku tidak hemat maka Ken tidak akan mau menikah denganku." Rufella kembali mengungkit perkataan Roni kepadanya, seakan Rufella sangat mempercayai ucapan Roni waktu itu.
Roni mengaruk kepala menyengir seolah dirinya tidak berdosa sama sekali.
__ADS_1
"Waktu itu aku berbohong Kak, Ken sebenarnya tidak pernah berkata kalau dirinya menyukai wanita yang suka berhemat"
"Kau! Berbohong!" bentak Rufella.
"Memang kenapa! Aku berbohong demi kebaikan kakak juga." sahut Roni.
"Oh, demi kebaikan ku atau demi kebaikanmu! Kau pikir aku menyukai Ken hanya main-main saja, cinta biasa saja."
"Roni asal kau tau, setelah Ayah dan Ibu sudah tiada, kebahagiaanku hanya tersisa Ken saja dan kau sama sekali tidak bisa membuat kakakmu ini bahagia."
"Kau pikir setelah memberikan aku hotel akan membuatku senang!" ucap Rufella dengan napas yang mengebu-gebu.
Roni menyadari jika Rufella baru saja pulang dari rumah sakit dan kini mereka malah berdebat.
"Kakak tenanglah dulu, aku minta maaf karena telah berbohong, tenanglah Kakak."
"Tidak, aku tidak mau diam, kau adalah adik yang kurang ajar, aku akan pergi dari rumah ini dan tinggal di apartemennya Ken." ucapnya bangkit dari sofa dengan cepat ia menuju kamarnya mengambil pakaian untuk pergi dari sana.
"Kakak sadarlah, jangan gila." teriak Roni tidak mengubah apapun.
.
.
.
.
**Eps dan ceritanya gak akan panjang. ππ
Jangan khawatir jika ceritanya agak Berbelit-belit. πcoba saja bulan lalu gak buat pengumuman pasti aku gak buat ceritanya Ken, karena jujur aku sudah capek mau berhenti nulis.
ππ Tapi Chan hargai readers yang masih setia dan menunggu.
Aku nulis karena banyak waktu luang dan setidaknya masih ada yang mau baca πΆββ Regulasi baru MT itu bisa berubah setiap saat. π makanya banyak para Author yang berhenti di tengah jalan, tenang aja aku. akan selesaikan Novel terus berhenti.
__ADS_1
Terimakasih banyak untuk para pembaca setia.ππ makasih banyak.
Salam manis dari onthor cantik. π**