
21+Warning Adegan Kekerasan π©
~~ My Devil Wife's ~~
.
.
.
.
Sekarang ini Rufella dan kedua orang tuanya berlutut di hadapan Jeffry seperti seorang budak tidak berdaya di hadapan Tuannya. Sudah lewat dari sepuluh menit tapi Zenia sama sekali belum memunculkankan diri semakin membuat Rufella bergetar ketakutan apa lagi saat ini Jeffry sudah membawa sebuah tali dan juga pistol.
"Apa kalian sudah siap?" tanya Jeffry dengan suara dingin bahkan aura di sekelilingnya saat ini menghitam.
Tidak ada satupun dari ketiga orang itu yang menjawab pertanyaan, Jeffry tanpa berkata kembali langsung menghajar Robin membabi butanya hingga pada akhirnya Robin babak belur tidak berdaya.
"Kenapa?, apa kau sekarang sudah menyesal?, Tuan Robin yang terhormat" ucap Jeffry mencengkam dagu Robin, terlihat dengan jelas wajah tua Robin tampak sayu.
Creekkk..
"Aaammmpunnnn, Tuan, Arrhhhh"
Suara retakan tulang lengan Robin, karena Jeffry memelintirnya hingga retak hingga patah.
"Apa kau masih mau?, baiklah" ujar Jeffry, Robin dengan cepat menggeleng.
"Kau mau lehermu yang di patahkan?" tanya Jeffry tersenyum sinis.
"Tidak Tuan, aku---"
"Aku-aku apa?, kau mau mati sekarang juga"
"Aa..k..u, aku... min. ta. ampun, Tuan" kata Robin terbatah-batah, jujur saja napasnya menjadi sangat sesak seluruh tubuhnya seakan remuk padam, ia benar-benar menyesal talah mencari masalah dengan saudara dari iparnya yang telah tiada itu.
Jeffry menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman miring, ia tidak mungkin membiarkan orang yang telah membuat adiknya celaka begitu saja, pria itu kembali menarik tubuh Robin yang tidak berdaya dan mencekiknya tanpa dengan keras.
"Uhukkk.. uhukkk.."
"Kau sebaiknya mati saja menyusul mereka bertiga" kata Jeffry mengeratkan cekikannya.
"Jangannnnnn" Teriak Rufella berusaha mendekat namun Jeffry langsung menepis dan mendorong tubuhnya hingga jatuh ke lantai dengan keras.
"Jangan menghalangiku wanita liar, setelah ini giliranmu, persiapkan dirimu" Jeffry menatap tajam ke arah Ruffela yang tersungkur ke lantai namun kedua tangannya kembali mencekik leher Robin.
"Bersiaplah untuk mati" ucapnya kembali.
Robin sudah tercekal, ia tidak bisa melawan Jeffry sama sekali karena pria di hadapannya ini lebih pintar dan lebih cerdik dari yang ia perkirakan.
"uhhhh, Le..pas..kan Tuan,.. a. ku.. akan.. me.. nebu..semua..nya..as.. al.. jangan.. membunuhku" Dengan susah payah ia mengeluarkan sebuah ucapan, mendengar hal itu Jeffry sesaat terdiam mengerutkan kening dan langsung melepaskan Robin begitu saja dan melempar tubuh itu hingga membentur tembok dengan keras.
"MAU MENEBUSNYA DENGAN APA, UANG?, KEHORMATAN KELUARGAMU, ATAU APA?"
"Hei baji*ngan, aku tidak membutuhkan semua itu, uang tidak akan bisa mengembalikan kehidupan adikku, kau tau selama ini Zenia sudah sangat berusaha untuk kembali ke sisi kedua orangtuanya dan saat mereka hampir memulainya justru kau yang menghancurkan segalanya, aku tidak mengerti jalan pikiran dangkal kalian semua, aku memang pernah membunuh seseorang tapi aku melakukan semuanya hanya semata-mata melindungi keluargaku dari serangan orang jahat" seru Jeffry menunjuk wajah ketiga orang itu secara bergantian, ia dari dulu sangat tidak menyukai keluarga yang hanya mementingkan uang dan kehormatan lebih dari apapun.
Dengan susah payah Robin merangkak menuju kaki Jeffry dan bersujud di sana.
"Akan kelakuan apapun yang anda minta Tuan" serunya.
"Melakukan apa saja, Yakin? " tanya Jeffry ia berjongkok hingga bisa menarik rambut Robin dengan kasar
"Iya Tuan, akan kulakukan apapun" Robin langsung mengangguk ia akan melakukan apa saja agar bisa selamat dari kematian.
__ADS_1
Jeffry terlihat menoleh ke arah Juan seakan memberi kode kepada putranya itu agar mengambil sesuatu di dalam mobil dan Juan langsung melaksanakannya. namun belum beberapa langkah, Juan di kejutkan akan kehadiran sepupunya Zenia yang tampak turun dari mobil hitam baru saja terparkir.
"Gawat, kenapa Zenia datang kesini, rencana ayah akan gagal total nanti" Gumannya dalam hati, ia berdiri mematung. Zenia berjalan semakin dekat.
"Apa yang harus kukatakan?" guman Juan kembali, ia sangat bingung dan gelisah saat ini.
Zenia mengambil langkah lebar bahkan wajah wanita itu sudah mengeras menahan amarahnya, ia terpaksa datang ke sini karena Rufella mengatakan bahwa paman Jeffry tiba-tiba mendatangi kediamannya dan ingin menghabisi semua anggota keluarganya.
"Juaannnn, apa yang kau lakukan di sini bersama paman?" teriak Zenia menghampiri Juan.
Wajah Zenia merah menyala, menandakan bahwa suasana hatinya saat ini tidak dalam keadaan baik.
"Apa yang kalian lakukan di sini, Katakan!" Bentak Zenia melototkan kedua bola mata.
"ya ampun, apa yang harus kuperbuat" guman Juan dalam hati.
"Ya sudah, kalau kau tidak mau mengatakannya, menyingkir dari jalanku.." pinta Zenia ia mendorong tubuh Juan dengan kasar.
"Jangan masuk, biarkan ayahku membalas perbuatan mereka Zen" cegah Juan, Zenia mengerutkan kening tidak mengerti dengan ucapan Juan barusan.
"Apa maksudmu. membalas apa..? memang apa yang mereka perbuat hingga harus membalas perbuatan apa?" tanya Zenia.
Juan terdiam sesaat lalu menarik tangan Zenia ke halaman rumah tapi sebelum itu ia memberikan ponselnya kepada Zenia.
"apa ini?" tanya Zenia dengan raut wajah bingung.
"Kau lihat sendiri Zen, seharusnya kau tidak datang kesini dan kenapa kau datang?" tanya Juan.
"aku datang Karena Rufella menelponku, katanya paman ingin menghabisi nyawanya, apa yang terjadi sebenarnya" Ujar Zenia bersamaan dengan itu ia di buat kaget akan beberapa bukti penyebab ketiga anggota keluarga meninggal dalam kecelakaan mobil.
"Juan!" panggil Zenia matanya menyepit seakan tidak percaya akan bukti-bukti itu.
"kau tidak percaya?, Huh.., Zenia kau jangan terlalu melunak, asal kau tau pamanmu Robin itu otaknya selalu kotor bahkan ia pernah berniat untuk menculik putrimu dan kau tau ia berniat seperti itu karena apa?" ujar Juan kembali membuat Zenia meledik tidak percaya.
"Apa kau tidak percaya kepadaku, Zenia?"
"Tidak, aku tidak bisa percaya kepadamu begitu saja dan bukti ini bisa saja kau merekayasanya" seru. Zenia membanting ponsel Juan ke tanah hingga pinggiran layar ponsel tersebut terlihat retak namun tidak rusak.
Juan melihat Zenia yang tidak percaya dengannya hanya menghela napas lalu langsung menarik lengannya masuk ke dalam rumah mewah itu.
"Ayo ikut denganku, kau ini sungguh sudah keterlaluan dan menyebalkan seperti suami mu itu" omel Juan.
Sesampainya di dalam..
Zenia kembali di buat tidak percaya dengan yang ia lihat kini, Rufella dan Kedua orangtuanya di tenggelam ke sebuah bak berisi air dan ada es batu yang tentu saja bisa membuat ketiganya kehabisan nafas dan mati kedinginan di sana, sedangkan Ken hanya memperhatikan tanpa berkelit.
"Paman Jeffry, apa-apa ini" bentak Zenia dengan suara meninggi.
"Hah..,sudah kutebak pasti sepupu sialamu ini menghubungi mu, bukan adiknya" kata Jeffry seakan tidak kaget akan kehadiran keponakannya.
"Ken bawa tua bangka itu kesini, dan untuk kedua wanita sialan itu turunkan saja dari sana, aku sudah puas" ujarnya.
Ken melaksanakan perintah itu, ia tersenyum ke arah Jeffry dan tindakan selanjutnya yang di ambil oleh Jeffry adalah mengambil sebuah pisau tumpul lalu berjalan menghampiri Robin.
"Maafkan aku, kau harus mati" bisiknya sebelum menancapkan pisau tersebut ke lengan lalu ke paha pria itu.
"aaaarrrhhhh"
"Tidakkkkk, Ayahhhh" teriak Ruffela terdengar perih, ia menyaksikan langsung bagaimana ayahnya di siksa ia ingin berjalan menghampirinya namun tubuhnya mati rasa.
"ini belum cukup sialan, kau masih saja bertahan, cukup sulit juga" kata Jeffry.
Ketika hendak menancapkan pisau itu kembali tiba-tiba Zenia berdiri di hadapan Jeffry mencegah pamannya.
__ADS_1
"Jangan membunuhnya paman, kakek, Ayah, dan ibu sudah tenang di surga, paman tidak perlu membalas dendam untuk mereka" kata Zenia.
Jeffry yang mendengar penuturan keponakan-nya itu justru semakin geram, Zenia benar-benar mencegahnya, Jeffry mengepalkan kedua tangannya bahkan pisau yang berada di tangannya itu justru melukainya tanpa sadar.
"Jangan menghalangi ku Zenia!, Kau benar-benar sudah berubah" bentaknya.
Zenia memandang pamannya itu dengan tampang wajah dingin dan datar.
"berhentilah mencari masalah, biarkan saja paman Robin hidup, jangan mengotori tanganmu lagi paman, lihatlah sekarang dia akan cacat apa paman belum puas juga!, yah memang benar perkataan mu aku sudah berubah dan hal itu membuat diriku semakin baik, paman Zenia mohon jangan membunuhnya" pinta Zenia mengatupkan kedua tangannya memohon.
"Sial" umpat Jeffry, ia melempar tubuh Robin dan sebelum pergi dari sana ia terlebih dahulu memendang dan menginjak perut Robin.
"Uhhkkkkk"
"aku melepaskan mu kali ini, tapi kalau kau mengulang perbuatan mu lagi, akan kupastikan kau mati dengan sekali tembakan dari pistol ini dan menggantung mayatmu di. pusat kota" Ancam Jeffry.
"Juan, Ken.. ayo kita pergi saja" ajak Jeffry, ia di buat kecewa akan pembelaan Zenia kepada keluarga sialan itu.
***
Setelah Jeffry dan kedua lelaki itu pergi, Zenia berdiri dengan melipat kedua tangan di atas dada, ia memejamkan mata agak lama.
"Apa benar apa yang di katakan oleh paman Jeffry?" tanya Zenia dingin.
"Hah..," sahut Rufella masih dalam kebingungan.
"kenapa kalian hanya diam!, jawab!" bentak Zenia, Robin maupun Rufella di buat kaget akan bentakan itu.
"Hummm" hanya itu yang keluar dari mulut Rufella, Zenia mengerutkan kening.
"Oh.. ternyata benar apa yang di katakan oleh paman dan Juan tentang kecelakaan mobil yang di sengaja itu"
"Berengsek, kalian sungguh tidak tau malu.., di kasih hati minta jantung, apa kalian mau semua aset di perusahaan di kembali kepadaku"
"Tidak Zen, kami minta maaf" Kata Valecia tiba-tiba saja menyahut.
"Heh.., Rupanya harta lebih berharga dari apa pun, kalian sungguh Konyol!"
"Kami minta ampun Zen, Paman kala itu khilaf karena semua aset dari kakekmu akan berahli ke ayah dan ibumu sedangkan aku dan keluarga ku tidak mendapatkan apa?" ujar Robin, walau tubuhnya terluka bahkan masih terlihat darah menetes akibat tusukan Jeffry sebelumnya.
"Bodoh!, paman jika saja saat ini aku belum menjadi seorang ibu sudah pasti aku akan membiarkan paman Jeffry untuk membunuh mu tadi, tapi aku tidak membiarkannya karena aku tidak mau anakku kelak akan memiliki kakek seorang pembunuh"
"Jadi kuminta kepada kalian semua agar bertobat, sebelum aku berubah pikiran dan justru aku akan menghancurkan segalanya"
"dan satu lagi, besok aku tidak mau tau kalian harus menemui paman Jeffry dan memohon kalau bisa kepadanya agar tidak menghancurkan perusahaan mendiam kakek" tukas Zenia ia melirik sinis Robin, jujur ia tidak begitu suka dengan pamannya yang satu ini.
Rufella dan kedua orang tuanya mengangguk menyiakan.
"ini ambillah salep dan obat ini.., obati luka mu itu dan tidak perlu mendatangi rumah sakit, kalau kalian sampai kesana bersiaplah untuk menanggung akibatnya.. aku pulang dulu, dan jangan macam-macam lagi, ini terakhir kalinya aku menolong kalian, mengerti" ujar Zenia.
"Terima kasih Zen" kata Rufella, Zenia menatap ke arah sesaat lalu tersenyum menganggukkan kepala dan segera beranjak pergi dari rumah mewah yang berantakan itu.
.
.
.
π³π³π³
kalian Belum Puas... πΆπΆ.
Part ini lumayan panjang Loh.. π³.
__ADS_1