
Setelah mengatakan isi hatinya, dan menyusun rencana yang matang bersama Al, Ve sedikit merasa tenang. Tidak lama kemudian Dion muncul.
"Al, Ve ... sudah belum mengobrolnya, makanannya sudah siap."
Al dan Ve sama-sama menoleh, "Oke."
Ketiga remaja itu segera menuju ke ruang makan. Nenek yang baru saja bergabung kaget karena melihat kedatangan Al. Sementara itu Al mengulas senyum kepada Nenek Safa.
"Selamat sore, Nek."
"Sore, Nak Alfarizi ya? Maaf nenek suka lupa," ucapnya sambil tersenyum.
"Eh, iya, tidak apa-apa, Nek."
"Jihan, maafkan Nenek, ya. Malah semakin kesini kami semakin merepotkanmu."
Jihan memegang tangan Nenek Safa, "Nek, sampai kapan pun, nenek sudah aku anggap sebagai orang tuaku sendiri. Begitu pula dengan Ve."
"Terima kasih, tante."
"Sudah, sudah, ayo kita makan," ajak Jihan pada tamu-tamunya.
__ADS_1
Akhirnya makan malam bisa dimulai saat itu. Mereka menikmati semua makanan yang tersaji di depan meja.
"Terima kasih, Jihan. Entah kebaikan mana yang selalu menyelamatkan kami. Doaku hanya satu, semoga kamu bahagia selalu," doa nenek sambil melihat Jihan.
.
.
🍂Keesokan harinya.
"Dion kamu sudah bawa video itu?" tanya Al sebelum turun dari mobil.
Kebetulan Salsa juga berada di sana. Setelah mereka turun, tidak lama kemudian, Jihan datang bersama nenek. Mereka datang ke sekolah karena mendapat panggilan dari guru BK kemarin. Begitu pula dengan Neneknya Salsa yang baru saja turun dari mobil yang sama dengan Salsa.
Pandangan mereka saling menusuk satu sama lain. Sama-sama memancarkan aura kebencian. Sepertinya anak-anak jaman sekarang sangat kurang memahami attitude. Buktinya mereka sampai menyeret orang tua mereka sampai ke sekolah.
Semua dewan sekolah juga turut hadir pagi itu, begitu pula dengan Kenzo dan Aiden sudah menunggu kedatangan Ve bersama pengacara keluarga Brawijaya. Salsa sama sekali tak merasa terjebak saat ini. Karena ia merasa saat ini justru Ve yang akan kalah saat ini.
Orang yang pertama kali masuk ke dalam ruangan adalah Ve dan Dion, disusul kedua orang tua mereka. Tak lama kemudian Salsa masuk bersama neneknya. Sekarang mereka semua tinggal menunggu kedatangan orang paling penting di sekolah Kusuma Bangsa, yaitu Al bersama ayahnya Tiyan.
Padahal jika bukan masalah penting seperti ini, ayah Al tidak pernah muncul ke permukaan, tetapi kali ini demi putra dan calon menantunya ia menyisihkan waktunya untuk datang ke sekolah.
__ADS_1
Suasana tampak hening, di depan masing-masing orang yang hadir di ruangan itu sudah ada beberapa berkas laporan tentang kejadian perkelahian antara Salsa dan Ve di halaman sekolah. Beruntung Al sudah menjelaskan semuanya tadi malam. Bahkan website sekolah sudah diretas. Sehingga siapa pelaku yang mengirimkan isu tersebut dapat dilacak oleh semua orang, termasuk para dewan sekolah.
Sayangnya, Salsa tidak membuka website tadi pagi, sehingga ia tetap berpenampilan tenang saat ini.
Dari tempat duduknya, Salsa memandang remeh ke arah Ve, "Rasakan Veeya, kamu akan menanggung semua akibatnya jika mengambil apa yang bukan menjadi hakmu."
"Sepertinya riwayatmu akan berakhir hari ini," batin Al.
Sejujurnya Al sudah jengah akan semua tingkah laku Ve, hanya saja ia tidak pernah menunjukan kebenciannya pada Salsa. Sayang, tindakannya kali ini sudah melebihi batas.
"Marahnya orang sabar itu mengerikan, lo. Salsabila," bisik Dion.
Sementara itu Salsa sangat geram mendengar ucapan Dion barusan. Bagaimana seorang Dion berani mengusik dirinya. Bahkan jika dibandingkan dengan dirinya ia tidak ada apa-apanya.
Di saat seperti ini pun, Salsa masih bersikap sombong. Dia tidak tahu jika yang ia lawan saat ini adalah orang besar.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1