
Kecurigaan Sean dan Ken terbukti ketika rombongan dari regu Ve dan Luna datang. Regu mereka bebas dari serangan lalat, hingga setelah melakukan tugasnya, ia pun menanyakan sesuatu pada Ve.
"Ehem ..." Ken terbatuk saat Ve datang.
"Uhuk ..." seru Sean yang tau maksud dari Ken.
Ken menyikut lengan Sean.
"Apaan sih, Lo?"
"Ehem, gue tahu kali, Kak, sans aja."
"Hust, diem."
Karena Ve tidak melihat kode mata yang diberikan oleh Ken, maka Ken pun menarik lengan Ve.
Ve menoleh, "Ada apa, Kak?"
"Hm, kalian liat apa yang dilakukan oleh regu sebelum kalian tadi nggak?"
"Maksudnya?" tanya Ve bingung.
Sean mendekati Ve dan mencoba menjelaskannya.
"Hai, Kak, aku Sean. Aku mewakili Kak Ken untuk menanyakan apakah Kakak melihat regu sebelum Kakak tadi memasuki area pemakaman di ujung sana?" tanya Sean to the point pada Ve.
Ve mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke dagu. Mencoba mengingat apakah benar regu tadi melakukan hal seperti yang ditanyakan oleh Sean barusan, atau tidak.
Sesaat kemudian, Ve mengangguk.
"Iya, aku ingat, Sean. Benar regu sebelumnya memasuki area pemakaman itu, dan saat aku tegur, mereka tidak menghiraukan perkataan dariku."
"Hm, dugaan gue benar. Oke, Kak, makasih ya."
"Sama-sama Sean."
Ve lalu melihat ke arah Ken.
"Kalau mau modus nanti aja, ini kan lagi kegiatan, hm, hm ...." ucap Ve sambil menaik turunkan alisnya.
Sontak saja Ken tersenyum.
__ADS_1
"Wkwkwk, gue digombalin cewek nih," batin Ken.
"Hm, sudah-sudah, bubar. Pacarannya nanti malam aja pas ada api unggun, "celetuk yang lainnya.
Ve dan Ken menoleh ke arah Sean meski malu-malu. Tapi memang benar adanya, jika mereka berdua akhir-akhir ini memang jauh lebih dekat. Kenyamanan yang diberikan Ken memberikan rasa yang berbeda di hati Ve.
"Ok, aku lanjutin dulu ya, Kak Ken," pamit Ve.
"Oke, be careful ya."
"Siap, Pak Waketos."
Sesaat kemudian, regu setelah Ve sudah mulai berdatangan kembali. Hingga empat puluh lima menit kemudian, tugas Sean dan Ken selesai. Mereka menyusul para rombongan tadi dengan berjalan di belakang regu yang paling akhir.
"Kak, soal urusan tadi, lebih baik tidak uda dilaporkan ke Guru. Biar aku saja yang mengatakannya."
"Oke, terima kasih, Sean."
"Sama-sama, Kak."
Setelah semua siswa sudah kembali ke arena camping, jam makan siang pun tiba. Para panitia seksi konsumsi juga sudah selesai menyiapkan makan siang untuk para siswa.
Kini para siswa telah berbaris rapi untuk menerima jatah makan siang mereka. SMA TUNAS BANGSA bangsa memang lain dari yang lainnya. Sampai hal sepele seperti ini pun, mereka menyewa jasa beberapa pegawai kantin untuk memasakkan berbagai menu masakan sehat untuk para siswa.
Inilah ajang dimana para siswa bisa bersama kekasihnya di sela-sela kegiatan sekolah. Dion memang sengaja menjauhi Ve untuk memberi kesempatan padanya berdekatan dengan Ve. Sedangkan Al akan berusaha mengejar Ve saat ini.
Dengan senyuman merekah, Al mendekati tenda Ve. Salsa yang melihat hal itu segera berlari ke arah Al dan mencoba mengecoh perhatian Al.
Al sengaja menjatuhkan dirinya ke sungai dan seolah-olah kepleset di sana.
"Awh, tolong ... tolong ...." teriak Salsa dari arah sungai.
Tentu saja bukan hanya perhatian dari Al saja yang teralihkan, melainkan semua siswa di sana. Mereka beramai-ramai mendekati sumber suara untuk memastikan siapa yang sedang terkena musibah saat ini.
"Salsa ...." teriak Tristan yang datang pertama kali ke sungai.
Melihat Salsa yang terluka, ia segera menolongnya.
"Sial, kenapa dia yang datang?" umpat Salsa dalam hati.
Tapi ia sempat melihat Al juga datang padanya tapi sayang, Tristan keburu menggendong tubuhnya. Awalnya ia hanya pura-pura tapi ternyata tanah di sekitar sungai benar-benar licin, akibatnya ia benar-benar terluka saat ini.
__ADS_1
Saat melihat Salsa sudah digendong Tristan menuju ke arah tenda panitia, Al bersembunyi di belakang pohon. Setelah dirasa aman, ia kembali menuju ke tenda Ve.
Untungnya, di sana tidak ada Ken seperti bayangannya. Belum sempat Al memberi salam, Luna keluar dari dalam tenda.
"Eh, Kak Al. Ada apa ya datang kemari?"
"Ve ada?"
Raut wajah yang semula bahagia kini hilang entah kemana.
"Tadi dia dijemput sama Kak Ken, trus nggak tau pergi kemana."
"Sejak kapan?"
"Sejak mendengar teriakan Salsa tadi, mereka sudah pergi lima menit sebelumnya."
.
.
Sementara itu, Ken dan Ve sedang berada di sebuah kawasan air terjun. Ken tak sengaja menemukan tempat itu ketika ia mengantarkan Sean pergi mencari sesuatu. Dari situlah ia mempunyai ide untuk mengajak Ve datang ke tempat ini.
"Kamu suka nggak?"
"Suka banget, Kak. Sumpah bagus banget tempat ini. Hm, udaranya sejuk pula," ucapnya bahagia.
Tanpa Ve sadari Ken sudah berlutut di depan Ve sembari menyerahkan sebuah cincin berlian bermata satu pada Ve.
"Will you be my lover?"
.
.
...🌹Bersambung🌹...
.
.
Hai gaes, othor balik lagi bareng rekomendasi novel remaja yang cocok buat kalian, mampir ya.
__ADS_1