MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU

MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU
NGGAK PAKEK NOLAK


__ADS_3

"Gi-la, lu!" seru Al sembari bangkit dari tempat duduknya.


"Calm, Bro, gue kan cuma ngasih usul, mau lu pakek boleh, enggak juga nggak apa-apa!" ucap Dion sambil menyeringai.


Entah apa yang mereka bahas barusan sehingga mematik api kemarahan di hati Al.


"Gue rasa, tanpa ide dari lo, gue sama Ve bakal dekat!"


"Oh, ya, buktikan!" tantang Dion sama Al.


Tak mau berdekatan dengan Dion, Al lebih memilih pergi meninggalkan Dion.


"Gue yakin, gue yang bakal menangin hatinya Ve," ucap Dion penuh keyakinan.


Sementara itu, Ve sedang dibawa Ken sebuah Rumah Sakit. Panik, jelas lah, apalagi luka Ve sudah membiru. Andai saja tadi bel sekolah nggak bunyi, pasti Ve sudah diobati di UKS.


Lima belas menit membelah jalanan ibu kota, membuat mobil Honda Jazz RS putih milik Ken sudah terparkir rapi di pelataran Rumah Sakit.


.


.


...⚜⚜⚜...


...Ruang Praktek Dr. Weni...


Brak!


Dokter muda itu tampak sewot sesaat sebelum meninggalkan ruangan prakteknya saat ini. Bahkan ia membuka pintu ruang praktek miliknya secara kasar.


Belum lagi, sebelumnya ia harus meminta maaf pada pasien yang sedang diperiksanya agar ia mau menunggu sebentar. Terlebih pasien darurat itu adalah anak pemilik Rumah Sakit, hingga kedatangannya harus diutamakan dari pada pasien yang lain.


"Kenapa anak orang kaya selalu seenak jidat sih, nyuruh datang cepat-cepat," omel dokter muda itu sepanjang perjalanan.


Sudah menjadi kebiasaannya mengomel setiap hari, apalagi jika anak orang kaya itu menganggu jadwal prakteknya seenak jidat.


"Kalau bukan mereka anak pemilik Rumah Sakit, udah gue maki-maki deh!" ucapnya kesal.


"Sabar, Bu."


"Sabar tu ada batasnya."


"Hm, salah lagi kan," batinnya.


Sedangkan suster yang menjadi asistenya hanya menahan tawa sambil mengiringi dokter itu ke salah satu ruangan VIP di lantai paling atas Rumah Sakit.


Lima menit kemudian ....

__ADS_1


"Ini kenapa sampai luka seperti ini?" tanya dokter wanita itu sambil membersihkan luka pada lutut Ve yang sudah membiru.


Setelah selesai membersihkan luka itu, ia pun memberikan obat bubuk lalu membalut luka tersebut.


"Perih ...." rintih Ve.


Kenzo ngilu melihat Ve yang sedari tadi terus menahan sakitnya. Ia juga merasa bersalah karena ia terlambat membawa Ve untuk berobat.


"Nah, sudah selesai."


Dokter Weni segera membereskan semua peralatan tempurnya. Lalu ia seolah mengingat sesuatu.


"Kok kayak familiar sama cewek ini ya?" batin dokter.


"Ah, sudahlah, lupakan!" ucap dokter.


Setelah memastikan luka Ve dirawat baik oleh Dokter Weni, Ken segera mendekati dokter bersama Ve. Kedua remaja tadi sudah duduk berdekatan satu sama lain sambil memperhatikan penjelasan dari dokter.


"Untuk lukanya, tiga hari lagi balik sini ya, ini ada obat antibiotik sama obat dalam, dan ini salep dipake setelah luka agak mengering biar nggak ada bekas luka."


"Siap, dokter."


"Terima kasih dokter."


Perjalanan ke rumah begitu lancar, tapi sebelum mereka sampai rumah, Ken sempat menepikan mobilnya untuk membeli kue.


"Mau kemana, Kak?"


"Hm, oke deh."


"Ge pe el ya, Kak!"


"Siap, manis," ucapnya sambil mengerling.


Sontak saja membuat rasa aneh di dalam hati Ve menjadi tidak karuan.


"Apa aku jatuh cinta?" tanya Ve dalam hatinya.


Rencananya buat camilan saat Ve di rumah, biar dia juga anteng. Ken tau banget kalau Ve sangat aktif di mana aja. Ia juga tak rela jika nantinya ia akan banyak bergerak.


Lima belas menit kemudian, satu buah kotak kotak cup cake rasa cokelat, satu buah kotak rasa strawberry, dan satu buah lagi brownies rasa pandan.


"Kayaknya sudah cukup," batin Ken.


Setelah mendapatkan apa yang ia mau, ia pun membawa sebuah paper bag itu ke mobil.


"Lama nunggu nggak?" tanya Ken sesaat sampai mobil.

__ADS_1


"Enggak juga sih, mayan bikin gerah!"


"Sorry, aku kelamaan ya, maaf ya."


"Nggak apa-apa kok."


Setelah itu, Ken segera melajukan mobilnya menuju rumah Ve.


"Kak, menyetir mobil itu susah nggak sih?" tanya Ve malu-malu.


Ken menoleh, "Kamu pengen latihan, 'kah?"


"Hm, nggak juga, cuma penasaran aja."


"Hm, lain kali aku ajarin, tapi janji luka kamu harus sembuh dulu."


"Beneran?" tanya Ve dengan mata berbinar.


"Iya, kenapa enggak?"


"Asyik ...." ucapnya senang.


Ken menoleh, ia tersenyum karena melihat Ve juga bahagia.


Lima belas menit kemudian mereka telah sampai di gang depan rumah Ve.


"Hm, akhirnya dah sampai."


"Ayo aku antar, gendong depan atau belakang?"


"Ha-ah."


"Kenapa?"


"Aku bisa jalan sendiri kok."


"Nggak usah protes, ayo, nggak pakek nolak."


Tiba-tiba Ken sudah berdiri di samping mobil. Posisinya jongkok, dan sembari menunggu Ve naik.


"Ayo, kok pakek mikir lagi?" tanya Kenzo sengaja menggoda Ve.


"Eh."


Tanpa penolakan, Ken sudah menggendong Ve menuju rumahnya.


.

__ADS_1


.


...🌹Bersambung🌹...


__ADS_2