MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU

MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU
DASAR COWOK NYEBELIN


__ADS_3

Di perjalanan ke Rumah Sakit, mulut Ve mengerucut ke depan. Sejak awal Ve sebenarnya tak suka diajak Al untuk berobat, sayangnya Al tak mau mendengarkannya.


Sejak tadi kedua tangannya yang bersedekap di depan dada, tanda ia sedang protes. Dari awal masuk mobil, Ve pun tak mau menengok ke arah Al. Baginya Al selalu se-enaknya sendiri. Makanya ia pun mogok ngomong.


Sedari tadi Al sebenarnya memperhatikan Ve, tetapi karena ekspresinya tetap saja datar, Ve pun tidak peka akan hal itu. Dengan sudut matanya sesekali ia mencuri pandang pada gadis di sampingnya ini.


Sebenarnya mulutnya sudah gemas ingin berbicara dari tadi, tetapi sepertinya Ve marah karena sikap egois Al. Sedangkan Al sendiri bingung harus bersikap seperti apa pada Ve. Al sama sekali tidak berpengalaman menghadapi seorang gadis. Jangankan membujuknya agar tidak ngambek, ngobrol aja jarang.


Karena Al tipikal cowok pendiam, kalau enggak di ajak ngobrol pun nggak masalah baginya. Tetapi saat ini situasinya lain, terlebih ia sangat khawatir pada Ve.


"Dasar kulkas berjalan, muka tembok, kanebo kering, suka se-enaknya sendiri," umpat Ve kesal.


"Ve, sampai kapan sih kamu mau bungkam kayak gitu."


"Suka-suka gue!" ucap Ve tak kalah sengit.


"Tapi 'kan aku khawatir sama kamu, apa nggak boleh?"


"Hm, hm, hm ..." ucap Ve sambil bergeleng.


"Ya udah kalau nggak boleh."


Tiba-tiba Al menginjak rem mobilnya dengan mendadak. Hingga kening Ve hampir terantuk ke dashboard mobil.


"Aaaallll ..." jerit Ve.


"Apa!" Al menoleh dan menatap tajam ke arah Ve.


"Kalau mau nge-rem, bilang-bilang dong!"


Ve menoleh pada Al, sedangkan Al bersikap seolah tidak ada masalah apa pun. Wajahnya tetap saja datar persis kanebo kering.


Ve yang kesal menjejak-jejakkan kakinya di lantai mobil. Al menahan tawanya di dalam hati. Ia sangat senang melihat Ve kesal.


"Bukankah kau yang meminta?" tanya Al tanpa rasa bersalah.


"Kapan?" Ve yang tak terima segera menghardik Al.

__ADS_1


Al memajukan wajahnya, tetapi Ve beringsut mundur, ia pun memundurkan wajahnya.


"Ka-kau, mau apa!"


"Kenapa? Takut?" tanya Al seolah memancing Ve untuk berdebat.


"Takut apa?"


"Aku cuma mau lihat seberapa besar luka di sudut bibirmu itu, lagian aku juga nggak mau disalahkan jika membawamu pulang dalam keadaan seperti ini."


Ve memainkam matanya, ia menjadi salah tingkah karena perbuatan Al barusan. Meski Al menyebalkan tetapi sebenarnya ia sangat baik padanya.


"Lanjut atau pulang?"


"Terserah kau saja, Kak."


"Diam dan jangan memancing amarahku, Oke."


Ve mengangguk. Setelah berhasil menaklukkan Ve, Al segera memacu mobilnya untuk kembali ke Rumah Sakit. Ve masih sebenarnya tak bisa menahan emosinya tetapi ia lebih takut jika Al meninggalkannya di tengah jalan.


"Asem bener, deh. Mana aku nggak bawa uang lagi."


Al memarkirkan mobilnya lalu membuka pintu mobil untuk Ve. Ia mendongakkan wajahnya ke arah Al lalu sebelum ia menyentuh tangannya Ve sudah keluar dari mobil.


Setelah memastikan Ve baik-baik saja, ia mengajak Ve menuju dokter spesialis kulit. Al yang tau Ve risih akibat tatapan orang-orang karena seragam sekolah mereka, segera menarik Ve ke toilet lalu melepas jaketnya lalu memakai-kan pada tubuh Ve.


Sementara ia melepas seragam atasnya dan kini tinggalah kaos putih yang ia pakai.


"Sudah siap, ayo!" ajak Al kemduian.


Kini seragam Ve sudah ditutupi oleh jaket Al, sedangkan Al kini hanya memakai kaos berpadu celana sekolah. Mereka segera mendaftar ke bagian spesialis kulit.


Beberapa saat setelah mendaftar kini giliran Ve. Al pun menemaninya masuk dalam ruang pemeriksan.


"Siang, dokter!"


"Siang, silakan duduk."

__ADS_1


"Jadi apa yang bisa saya bantu?"


"Begini, Dokter. Ini teman saya terkena pukulan di wajahnya, kira-kira bisa sembuh nggak?"


Dokter wanita di depan Al dan Ve terlihat menahan senyumnya.


"Bisa-bisa kok, saya periksa dulu ya."


"Silakan, Dokter."


Ve kini sedang diperiksa oleh dokter, ditekannya sudut bibir Ve.


"Awh, sakit dokter."


Dokter itu tersenyum.


"Ini luka ringan, cuma ada lebam sedikit, biar saya berikan resep obat dan beberapa obat antiseptik.


"Nyeri nggak, saat aku saya pegang tadi?"


"Lumayan, Dokter."


"Ya sudah nanti aku kasih obat pengilang rasa nyeri dan juga salep ya."


"Makasih dokter."


"Sama-sama."


Setelah diperiksa dan diberi obat, kini kedua remaja tadi segera meninggalkan rumah sakit.


"Ve, makan siang dulu ya, aku lapar."


Ve mengangguk. Mendapat persetujuan dari Ve, melajukan mobilnya menuju sebuah rumah makan padang kesukaannya.


"Suka pedas nggak?"


"Suka."

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, ayo."


...🌹Bersambung🌹...


__ADS_2