
Melihat kedatangan Aiden, Ken berdiri dari tempat duduknya. "Pa, bisa bicara sebentar?"
Aiden menoleh ke arah sumber suara, ia kira karena pulang larut tak ada seorang pun yang tau, tetapi ternyata pemikirannya salah. Ken menunggu kepulangannya sampai semalam ini. Padahal lampu ruang tengah saat itu sudah dimatikan.
"Kenapa belum tidur, Ken. Ini sudah larut malam."
Ken menghela nafasnya, terlalu banyak pikiran yang menderanya saat ini. Tapi untuk masalah kedua orangtuanya, tanpa dirinya ikut campur mungkin akan bertambah runyam nantinya.
Oleh karena itu, ia sengaja menunggu kepulangan ayahnya. Tetapi Aiden yang banyak pikiran tak menyadarinya. Setelah melihat Ken berdiri, Aiden mendekati putranya.
"Ada apa? Apa kau punya sesuatu yang mau kamu bicarakan?"
"Pa, aku minta maaf sebelumnya jika nanti mungkin aku akan marah pada Papa dan meminta sesuatu kejelasan tentang masa lalu Papa dan Mama."
"Iya, Papa yakin kamu sudah lebih siap saat ini, jika Papa mengatakan kebenarannya."
Ken tampak menyimak semua ucapan Aiden dengan seksama. Bermula dari kisahnya saat masa kuliah sampai dimana mereka sudah sama-sama merintis bisnis dan menikah. Kalau dilihat dari sudut pandang ayahnya, Ken mungkin bisa bertindak tegas, tetapi jika ia melihat dari sisi ibunya, seharusnya ia tak boleh memaksakan rasa sukanya.
Akibatnya jelas terlihat saat ini, dimana terlalu banyak obsesi ibunya sampai hal sebesar ini ia sembunyikan selama bertahun-tahun. Masih ada satu korban lagi yang sebetulnya tidak mengetahui apa-apa tetapi harus terlibat sampai sejauh ini, Veeya.
"Lalu apa yang akan Papa lakukan setelah ini?"
"Papa, mungkin akan berpisah dengan Mama kamu."
__ADS_1
"Lalu Papa akan menebus semua kesalahan papa di masa lalu dengan membiayai hidup Ve dan memberikan apa yang seharusnya menjadi miliknya."
"Aku harap, Papa jangan menyakiti Ve lagi. Dia tidak tau apa-apa tetapi dipaksa untuk menanggung amarah Mama dan kejahatan kalian."
"Kalau Papa memang mau bercerai dengan Mama. Hanya satu permintaan Ken, Papa harus mau membantu kesembuhan Mama sebelum papa berpisah dengan beliau."
"Setidaknya Mama akan hidup lebih baik setelah ini. Selesaikan semuanya secara baik-baik."
"Ken, maafkan Papa, sebenarnya bom yang papa tanggung selama bertahun-tahun ternyata akhirnya meledak juga saat ini."
"Dan harus melukai banyak orang karenanya. Andai waktu bisa diputar kembali, Papa lebih memilih untuk tidak dilahirkan jika harus menyakiti orang lain. Maaf .... "
Ken memegang bahu Aiden, "Pa, semua garis takdir kita memang sudah digariskan, tetapi Tuhan juga memberikan kesempatan pada kita untuk menjalani dan mengubah garis takdir kita jika memanhmg menurut kita itu kurang baik."
Aiden memeluk tubuh putranya, "Terima kasih Ken, Papa sangat menyanyi kalian berdua."
Suasana malam itu yang bermula dengan ketegangan kini sudah berangsur membaik dan setidaknya bisa mengurangi beban pikiran keduanya. Setelah itu, Ken kembali ke kamarnya, begitu pula dengan Aiden.
Aiden melangkahkan kakinya ke dalam kamarnya bersama Lisa. Wajah yang dulunya cantik dan sama menawannya dengan Maya harus dicoreng dengan perbuatannya yang sangat minus.
Karena lelah, Aiden hanya melepas sepatunya lalu merebahkan dirinya di atas sofa yang berada di sudut kamar.
.
__ADS_1
.
🍂Keesokan hari.
Karena hari ini adalah hari Minggu, Ve berniat untuk datang ke rumah kontrakan yang baru. Ia berniat untuk mengemasi barang-barang miliknya. Seperti biasa Ve bangun pagi, lalu setelahnya membantu bibi memasak.
"Loh, Non Ve kenapa ke sini, Non kan tamu, nggak enak kalau jam segini malah di dapur bantuin bibik.
"Nggak apa-apa, lagian saya sudah biasa kok Bik."
"Tapi saya takut nanti Nyonya Jihan narah loh, Non."
"Asal nggak bilang juga nggak bakal tau loh, Bik."
"Ya sudah kalau begitu, tapi jangan yang berat-berat ya, Non."
"Siap."
.
.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1