
Happy reading all😘
.
.
Bau obat-obatan seketika menyeruak dalam indera penciuman milik Ve. Ia yakin jika dirinya saat ini sedang berada di Rumah Sakit. Tapi untuk apa? sementara, terahir dalam ingatannya ia masih berada di dalam mobil milik Dion saat adu tanding balap mobil. Tapi kenapa ia bisa sampai di sini?
"Oh, No." Ve tersentak ketika ia menyadari saat ini ia kembali berada di Rumah Sakit.
Kedua matanya terbuka lebar, menyisir ke sekeliling kamar.
"Sepi."
Tapi, rasa mual dan pening masih menjadi satu saat ini. Ve merasakan gejolak dari dalam tubuhnya. Kalau di rumah, nenek pasti menyebutnya dengan masuk angin. Karena masih merasa tidak enak pada perutnya, Ve segera berlari ke toilet untuk memuntahkan isi perutnya saat itu juga.
"Hoek ... Hoek ...."
Benar saja, cairan kuning bercampur dengan beberapa bulir nasi, jelas terlihat berceceran di atas lantai kamar mandi. Sementara terdengar seseorang membuka pintu kamarnya.
"Kemana dia?" gumam Al mencari sosok Ve.
Karena melihat Ve tidak berada di atas brankar, Al yang baru saja dari kantin segera berlari menuju sumber suara yang mengusiknya sedari tadi.
Benar saja, Ve tampak berada di bibir toilet sembari salah satu tangannya berpegangan pada dinding pintu. Wajahnya terlihat pucat pasi. Dengan lembut Al memijat tengkuk Ve, agar gadisnya itu tidak kesakitan lagi. Setidaknya bisa mengurangi rasa mual yang dirasakannya.
"Masih mual?" tanya Al.
Ve tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan hanya dengan menggunakan bahasa isyarat, Ve terlihat mengelengkan kepalanya.
"Oh, ya sudah, aku bantu pijit aja."
Setelah merasa agak enakan, Al memapah tubuh Ve agar kembali ke brankar. Saat memapah Ve, terlihat dengan jelas ada luka di salah satu tangan Ve.
Terlihat dari salah satu tangannya megeluarkan darah. Reflek, Al menyaut tisu lalu menyeka darah itu agar berhenti.
Al paham, ia tidak berhak marah-marah lagi. Mungkin karena buru-buru, Ve sampai tidak memperhatikan jika dirinya masih di infus. Hingga akhirnya selang infus tidak sengaja terlepas dari sana.
Setelah darah segar itu terlihat berhenti, Al mengecek suhu tubuh Ve. Sedari tadi Ve hanya diam tanpa melakukan perlawanan. Ia bahkan terlihat menikmati setiap perhatian yang diberikan Al padanya.
__ADS_1
"Diam di sini dan nggak usah bertingkah, gue mau panggil dokter buat chek keadaan kamu!" titah Al.
Ah, bagaimana tidak menyebutnya titah, bahkan wajahnya yang garang tadi lebih tepat dipanggil sebagai my body guard, ketimbang "KETOS". Jadi seakan-akan ia harus patuh padanya jika tidak ingin celaka.
Jika bukan karena butuh dan terpaksa mana mau dia berurusan dengan Al lagi. Apalagi semalam ia bertemu lagi dengan Darren, kakaknya Al. Ia tidak mau berurusan dengan dua pemuda tadi.
Sesaat setelah Al menghubungi dokter, kini ia mulai membersihkan kamar mandi, tempat bekas Ve muntah tadi. Lalu sesudahnya ia kembali mendekati Ve.
Beberapa saat kemudian datanglah dokter yang dimaksud. Dokter itu terlihat heran kenapa selang infusnya tidak terpasang di tubuh pasien. Dokter itu melirik Al lalu pasiennya.
"Bukan saya, dokter! Pesien tadi terburu-buru muntah di kamar mandi dan melupakan infus yang masih menempel di tangannya itu."
"Benarkah begitu?" tanya dokter pada Ve.
Ve mengangguk pelan, lalu hanya bisa meringis pada dokter tersebut, memamerkan barisan gigi putihnya itu.
Saat dokter memeriksa Ve, suster mulai membetulkan letak selang infus milik Ve. Sementara Al terus memperhatikan saat dokter memeriksa kekasih hatinya.
"Bagaimana dokter?"
Dokter mulai melepas stetoskop miliknya lalu menoleh pada Al. Lalu ia pun tersenyum.
Seketika bibir Ve mengerucut, seperti ingin dikuncir.
"Sue, kenapa mesti berujung di Rumah Sakit sih jika berhubungan dengan Al," batin Ve.
"Dua kali sama dia, ujung-ujungnya Rumah Sakit."
Tanpa ia sadari dia bahkan berhitung dengan jarinya. Dan hal itu tak lepas dari penglihatan Al dan dokter. Hingga Al memberi kode pada dokter dengan isyarat matanya.
"Otaknya nggak ikut gesrek "kan dokter?"
Begitulah arti tatapan Al pada dokter. Hingga membuat dokter itu tersenyum.
"Perasaan cuma demam, tapi nggak nyangka kalau hasilnya bakal kek gini," gumam Al penuh arti sambil menatap Ve.
Sesudah dokter pergi, Al mendudukkan dirinya di kursi di sebelah brankar miliknya.
Al melambai-lambaikan tangannya di depan Ve dengan tujuan agar Ve sadar dari lamunannya. Sontak tangan Ve menampik keras tangan Al barusan.
__ADS_1
"Apa-an sih lo Al," ucap Ve menoleh pada Al.
"Ya sorry, gue kira lo kesambet apa, kok sedari tadi diem."
Ve menoleh ke arah Al.
"Jelasin ke gue, kenapa gue bisa sampai di sini?" tanya Ve seolah menginterogasi Al.
Al menyugar rambutnya ke belakang, lalu membuang kasar nafasnya, "Lu nggak inget kejadian semalam?"
Sialnya Ve terpaku akan pesona yang ditunjukan Al barusan. Hanya dengan melihat Al menyugar rambutnya barusan, Ve seperti terhipnotis akan ketampanan Al yang tidak bisa ia pungkiri saat ini
Karena Al sampai mengulang kembali pertanyaannya pada Ve, membuatnya tersadar dari lamunannya.
"Enggak inget apa pun, cuma inget saat terakhir, sebelum gue pingsan ada yang nolongin gue".
"Oh, pantes."
Lalu ia mulai memikirkan bagaimana cara ia membalas budi pada Al.
"Ngelamunin apa sih, lo. Kalau banyak pikiran berbagi aja sama gue, mana tahu aku bisa kasih solusi."
"Eh .... "
"Andai saja ada itu bukan elu, tanpa lu suruh pun gue bakal cerita!"
"Kok gue yang salah?" tanya Al heran.
Tapi Ve membiarkan Al tenggelam dalam pemikirannya sendiri tanpa mau menjelaskannya.
Kali ini Ve benar-benar tak mau bermulut ember, apalagi dia juga bukan host acara di mulut ember itu, maka ia pun berjanji akan menjaga rahasia ini dengan sepenuh hati. Ia tak mau membagi kisah hidupnya pada siapapun dan sampai kapanpun.
Al hanya mengdengkus kesal saat itu, apalagi Ve sengaja membuang muka saat Al mulai menatapnya.
"Dih, dasar gadis gi-la!" rutuk Al dalam hatinya.
.
.
__ADS_1
...🌹Bersambung🌹...