
"Kerahkan semua anak buahmu untuk mengejar seorang gadis yang berada di dalam mobil dengan nomor plat xxx55xx."
"Siap Nyonya."
"Pastikan dia tidak selamat dalam kecelakan kali ini, rapikan pekerjaan kalian dan buat seolah ini adalah kecelakan tunggal."
"Siap Nyonya."
"Uang akan aku transfer jika semua sudah selesai kalian kerjakan!"
"Baik."
Setelah memastikan rasa amarah dan tidak terima di hatinya tersalurkan, ia baru bisa merasa sedikit lega. Ibunya Salsa langsung terduduk di kursi mencoba meraih apa yang ada di dalam laci. Belum sempat ia membuka album foto tersebut, pintu kamar itu diketuk.
"Permisi Nyonya, bolehkah saya masuk?" ucap salah seorang laki-laki yang sangat ia hafal suaranya.
"Ya, silakan masuk!" ucap wanita itu dengan sangat tegas.
Tidak lama kemudian muncullah seorang lelaki berperawakan tinggi dan tegap, berkaca mata di depan pintu. Dia adalah pengacara resmi keluarganya.
"Ada apa Paman Tan?"
"Maaf mengganggu acara Anda. Ini laporan yang Anda butuhkan Nyonya. Ada satu lagi berkas yang di dalamnya tertulis lengkap tentang semua aset yang beratasnamakan Nona Salsa sebelumnya, kini semua sudah dalam masa pengalihan nama."
"Terima kasih Paman Tan, taruh saja di situ."
__ADS_1
"Baik!"
Lelaki itu segera meletakan laporan penyelidikan kasus kecelakan yang menimpa Ve dan Salsa satu bulan yang lalu ke atas meja dan berkas pengalihan hak nama. Tidak mau merusak suasana hati majikannya ia langsung permisi pergi.
"Kalau tidak ada yang Anda butuhkan saya permisi terlebih dahulu."
"Iya, sekali lagi saya ucapkan terima kasih Paman Tan."
"Sama-sama Nyonya."
Setelah Paman Tan pergi, ia segera melihat foto-foto kenangan putrinya, Salsa semasa hidup.
Wajah manis dengan lesung pipit di kedua pipinya itu tidak pernah terlihat lagi sekarang. Salsa telah menyusul kepergian suaminya.
Hingga kini di saat ia sudah berhasil memulihkan semua perusahaan yang pernah anfal itu, putrinya malah ikut meninggal. Semua karena satu keluarga yang selalu menindasnya.
"Aiden, sebentar lagi kau akan merasakan bagaimana rasanya kehilangan putri yang baru saja kau temukan itu, ha ha ha ...."
.
.
Mobil yang dikendarai Al masih melaju pelan di jalanan. Kali ini ia mengemudikan dengan kecepatan sedang karena saat ini ia masih ingin menikmati quality time bersama Ve.
"Al, memangnya kamu serius dengan ucapanmu itu?" tanya Ve memberanikan diri.
__ADS_1
"Serius dong, masa enggak?"
"Jangan becanda, aku tanya serius nih!"
"Aku dua rius malah."
"Hm, mulai deh. Soalnya sampai kapan pun aku nggak mau terpisah dengan nenek. Jika aku menikah nanti aku ingin nenek juga ikut serta bersamaku."
"Kalau soal itu tenang saja, karena aku juga sudah memikirkannya sejak dulu. Jadi kamu nggak usah khawatir."
"Syukurlah."
Secara tidak sengaja Al melihat salah satu mobil mengikuti mereka sejak tadi. Ia memperhatikan hal itu dari kaca spion di sampingnya.
"Ve, coba kamu liat mobil dibelakang kita, kok dari tadi ngikutin kita, ya?"
Ve menoleh, "Mobil yang mana?"
"Yang berwarna merah."
"Sebentar, kayaknya tadi aku juga nggak sengaja liat mobil itu sejak kita dari tempat pengisian bahan bakar tadi deh."
"Nah, makanya dari itu. Kayaknya kita harus waspada."
Al mencoba memainkan tuas gas mobilnya lalu mulai melaju cepat membelah jalanan. Namun sayang, dari arah depan ada sebuah truk container yang melaju dan menyerempet mobil yang dikendarai Al dan Ve. Lalu apakah yang akan terjadi selanjutnya?
__ADS_1