
Semua makhluk yang berada di bumi pasti akan mati pada suatu saat nanti. Melihat teman ataupun sahabat meninggal bukan hanya bisa membangkitkan kenangan saat bersamanya melainkan juga membuat hati se-seorang menjadi sakit.
Al menepuk bahu Ve agar tidak terlalu tenggelam pada bayangan kelam saat bersama Salsa. Ia juga tidak mau jika Ve kembali sakit karena terlalu banyak berfikir.
"Ve, pulang yuk!" ajak Al yang ikut berjongkok di samping Ve.
Ve menoleh dan tersenyum, "Bentar lagi ya, janji cuma bentar kok."
"Oke."
Ve memejamkan kedua matanya untuk sesaat mendoakan untuk arwah Salsa. Meski semasa hidupnya ia tidak pernah berbuat kebaikan padanya, Ve tidak pernah mendendam.
Suara guntur terdengar mulai dekat. Angin yang dulu hangat kini telah berubah menjadi hembusan angin dingin yang menyapa tubuh. Dilihatnya matahari sudah berselimut awan tebal. Tidak ingin mengecewakan Al, Ve berdiri lalu menyelipkan tangannya di sela tangan Al. Tentu saja perlakuan romantis Ve membuat Al melayang dan semakin jatuh cinta pada Ve.
"Pulang yuk," ajak Ve dengan senyuman manisnya.
"Ayok."
Ve kini sudah duduk di dalam mobil. Tidak lama kemudian terdengar suara deru mobil yang mulai berjalan meninggalkan area pemakaman, ya itu mobil yang dikendarai. Pertanda jika mereka benar-benar melanjutkan perjalanan.
Sesaat kemudian Ve mencoba mengingat tentang sesuatu hal yang seharusnya ia lakukan bersama Al.
"Al bukankah kita mampir dulu ke rumah duka?"
__ADS_1
"Memangnya nggak apa-apa, kondisi sekarang hujan lebat loh."
"Ya mau gimana lagi, bukankah kita memang berencana untuk ikut pengajian empat puluh harinya Salsa?"
"Terserah kamu deh, aku ikut aja."
Kalau sebelumnya Al ingin langsung pulang, tetapi Ve mempunyai keinginan lain. Hingga mau tak mau ia akan tetap menyanggupi keinginan pujaan hati.
Beberapa saat kemudian ia telah sampai di rumah Salsa. Sebenarnya ada sedikit ketakutan karena kedatangannya kali ini takut ditolak oleh keluarga korban.
"Kenapa, nggak jadi masuk?"
"Entahlah, aku nggak tau kenapa tiba-tiba aku menjadi ragu untuk masuk."
"Kalau nggak jadi ya enggak kenapa-napa. Aku masih di sini untukmu."
"Oke."
Karena hujan masih turun dengan deras. Ia mengambil payung dari arah belakang dan akan ia pakai setelah ini.
"Makasih ...." ucap Baby sambil mencoba tersenyum.
Saat mereka datang, banyak sorot mata yang memandang mereka berdua. Bisik-bisik tidak dapat dihindari karena kecelakaan Salsa yang begitu cepat dan berakhir tragjs.
__ADS_1
"Ngapain Ve datang kemari, Ma?" tanya Bella sambil berbisik kepada Mamanya.
"Memang kenapa?"
"Dia kan penyebab saat Salsa kecelakan, hingga saat ini yang terlihat hanya tinggal kenangan."
"Selamat datang Veeya ...." sapa Mama Salsa yang kebetulan hadir secara khusus di acara empat puluh hari meninggalnya Salsa.
"Selamat sore, Tante."
"Kenapa diam di situ, silakan duduk."
"Terima kasih."
Kini pandangan Mama Salsa beralih pada Al. Sosok pemuda yang menjadi ambisi Salsa agar ia bisa menjadi kekasihnya.
"Kamu Alfarizi ya, ayo silakan duduk saja, tetapi maaf tempat mengaji untuk laki-laki dan perempuan berbeda."
"Oh iya tante, nggak apa-apa kok."
Al kemudian meminta izin pada Ve terlebih dahulu. Ia menganggukkan kepalanya sebagai tanda ia menyetujui hal itu. Setelah itu Ve duduk bersanding dengan Mama Salsa. Meski mata beliau melihat para tamu dan sesekali mengulas senyum pada tamu undangannya tetapi semua itu terlihat aneh di wajah Ve.
"Apa Mama Salsa tidak suka akan kehadiran gue ya?"
__ADS_1
"Sabar, sebentar lagi kamu akan mendapatkan balasan dariku anak manis," ucap Mama Salsa terhadap Ve.
Lalu apa yang akan dilakukan Mama Salsa terhadap Ve? Simak di kisah selanjutnya. Oh ya jangan lupa ramaikan cerita baru di Novel Love in Paris ya, ditunggu like, komen dan favoritnya. Terima kasih.