
Mobil yang membawa Ken dan Lisa sudah sampai di sebuah Rumah Sakit. Karena rasa sakit yang terus menyerang kepala Kenzo, Lisa segera melarikan Kenzo ke ruang praktek dr. Dominic.
"Apa yang bisa saya bantu?" tanya suster itu pada Lisa.
"Saya Nyonya Lisa Brawijaya telah melakukan janji bertemu dengan dr. Dominic jam tiga sore, tapi karena ternyata saat ini penyakitnya sudah kambuh, maka saya memajukan jadwalnya."
"Oke, sebentar saya chek datanya."
Beberapa saat kemudian, suster itu mempersilakan mereka untuk masuk. Berhubung kemarin Lisa sudah membuat janji bertemu dengannya, maka saat ini mereka tak perlu mendaftar kembali, dan hanya mengechek data untuk kepentingan Rumah Sakit.
Saat ini, Kenzo sedang dalam perawatan medis di dalam ruangan itu. Setelah menanyakan beberapa hal yang berkaitan dengan Kenzo, dr. Dominic melakukan pemeriksaan kesehatan lainnya untuk mendeteksi adakah penyakit tertentu. Saat ini suster sedang melakukan pemeriksaan darah lengkap untuk mendeteksi adakah infeksi atau defisiensi vitamin yang bisa menjawab mengapa seseorang mengalami hilang memori jangka pendek.
Selesai pemeriksaan darah, dr. Dominic juga akan mengadakan tes kognitif untuk menguji daya ingat pasien. Dengan melontarkan beberapa pertanyaan mendasar, berhitung, menanyakan hal yang baru terjadi, hingga menguji kemampuan menyelesaikan masalah.
"Bagaimana dokter?" tanya Lisa khawatir sesaat setelah dr. Dominic duduk di kursinya.
"Sebenarnya tidak ada hal yang serius dengan lukanya. Hanya saja mungkin saat ini, Ken sedang berusaha untuk mengingat masa lalunya."
"Lalu, apa yang harus saya lakukan?"
"Ijinkan Ken mendapatkan perawatan intensif dan terapi di sini selama beberapa hari. Sepertinya hilangnya ingatan Ken disebabkan oleh Pendarahan atau penyumbatan darah di otak, atau mungkin cedera kepala."
"Iya, memang seperti itu kejadiannya dokter. Beberapa waktu yang lalu Ken mengalami kecelakaan terjatuh dari tebing."
"Dan ia pun mendapat vonis dari dokter jika Ken mengalami short term memory."
__ADS_1
"Seharusnya jika di masa lalu tidak ada ingatan yang penting, bukankah lebih baik tidak usah berusaha untuk memulihkan ingatannya?"
"Nggak, aku mau memory aku balik, bagaimana pun caranya," ucap Ken dari balik tirai.
Lisa dan dr. Dominic memandang Ken dengan tatapan yang sulit ia artikan.
"Apa sebenarnya rencana Mama?" batin Ken.
Kenapa ia tidak melihat sosok Mama yang dulu sangat ia dambakan? Apakah kehidupan di negara ini sudah mengubah sifat Mamanya? Banyak sekali pertanyaan yang menyelimuti pikiran Ken, sehingga membuat otaknya harus berpikir lebih keras dan mengakibatkan kepala Ken berdenyut kembali.
"Argghh!" keluh Ken sambil memegangi kepalanya.
Dr. Dominic kemudian memberikan instruksi pada suster untuk memberikan suntikan pereda nyeri pada lengan Ken.
"Sebaiknya Ken dirawat di sini untuk sementara waktu sampai hasil tes keluar."
Setelah mendapat suntikan Ken perlahan sudah tidak merasakan kesakitan. Ia pun terlelap untuk beberapa waktu.
.
.
"Kak Ken, terima kasih sudah pernah hadir dalam hidupku, aku merasa sangat beruntung bisa mengenalmu."
"Si-siapa kau?" tanya Ken terbata.
__ADS_1
"Mungkin kita memang tidak bisa bersama."
"Ke-kenapa?"
"Karena kedua orang tua kakak tidak akan pernah merestui kita. Selamat tinggal, Kak."
"Ja-jangan pergi, katakan kamu siapa?"
Gadis itu hanya tersenyum lalu segera meninggalkan Ken sendiri di sana.
.
.
"Hosh ... hosh ... hosh .... "
Deru nafas Ken tidak beraturan saat ini, bulir-bulir keringat mulai membasahi keningnya. Netra matanya menyisir ke seluruh ruangan, seolah sedang mencari seseorang yang selalu hadir dalam mimpinya beberapa hari ini.
Harum obat-obatan memang tak tercium di sana. Tapi dari tata letak ruangannya ia bisa menyimpulkan jika dirinya saat ini sedang berada di Rumah Sakit.
"Siapa kamu? Kenapa selalu datang dalam mimpiku. Akhh ... sial, andai aku bisa melihat wajahmu, aku tidak akan frustasi seperti ini."
.
.
__ADS_1
Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke karya teman Fany ya.. dengan judul Scarlet (In The Snow) karya author Dyoka.