
🍃Pagi harinya.
Hari ini Ve sudah diperbolehkan pulang, tentu saja bukan atas saran dokter, ataupun keputusan dari Al. Hal itu terjadi berkat satu ulah Ve yang mogok bicara. Ve mengancam Al, jika pagi ini ia tidak bisa pulang, maka jangan harap Al bisa berbicara lagi dengannya.
"Gue mau pulang sekarang!"
"Nggak bisa!"
"Bisa!"
"Enggak bisa!"
"Gue bilang bisa, ya bisa!"
"Sekali gue bilang nggak bisa, ya gak bisa!"
"Oke, jika pagi ini gue nggak berada di rumah nenek gue, gue pastikan mulai detik ini sampai kapan pun, gue bakal mogok ngomong sama elu, kanebo kering!"
"Apa! Lu kata apa gue barusan!"
"Kanebo kering, kenapa? Nggak suka, ngamuk, suka-suka elu lah!"
Al mengepalkan tangannya erat-erat. Lalu ia pun berbalik badan menghindari Ve.
"Seriusan, mulai detik ini gue nggak bakal mau ngomong sama lu lagi!" ucap Ve sambil membuang muka.
Kedua remaja ini bisa dipastikan hanya bisa akur pada moment-moment tertentu aja, karena lada dasarnya mereka nggak bisa akur layaknya manusia normal pada umumnya.
Berkat ancaman dari Ve, dengan sangat terpaksa Al mengurus semua keperluan Ve untuk pulang. Tepat jam empat pagi mereka sudah berhasil untuk keluar dari rumah sakit.
Pagi-pagi buta, sekitar jam lima pagi, mereka bahkan sudah sampai di rumah neneknya. Meski dilanda rasa kantuk yang luar biasa, demi gadis yang ia anggap gi-la itu Al menyetir mobilnya untuk mengantarkan Ve pulang. Terlebih karena gadis gi-la ini telah membobol dinding pertahanan Al.
Jauh sebelum Al masuk Sekolah Tunas Bangsa, Al sudah berikrar selama ia bersekolah ia akan fokus pada prestasi dan tidak akan jatuh cinta. Tapi sayang ia harus bertemu dengan Ve.
Di depan gerbang rumah nenek, dengan senyuman tulus, Ve menoleh ke arah Al.
__ADS_1
"Makasih Kak Al yang ganteng, udah bersedia mengantarkan aku pulang," ucapan Ve dibuat semanis mungkin agar Al tidak terlalu marah padanya.
Al yang sedang berada dalam mode On, tidak jadi mengumpat karena melihat kedatangan Nenek Safa yang sudah menyambutnya. Ve lalu mengalihkan pandangannya pada neneknya.
"Ne .... neeeekkkk ... " seru Ve dengan sangat bahagia.
Ia pun berhambur memeluk tubuh sang nenek. Berbeda halnya dengan Al yang tak menyunggingkan senyum sedikitpun. Tak sopan memang rasanya tapi mau bagaimana lagi, ia sangat ngantuk kali ini, terlebih mood nya sudah hancur karena Ve.
Nenek melepas pelukan Ve, "Dasar anak nakal, sudah dibilang jangan berulah, kok malah sampai nggak pulang."
Ve hanya mengerucutkan bibirnya, tapi pandangan matanya melirik Al yang tetap menampilkan wajah datarnya.
"Untung ada Nak Kenzo yang datang semalam dan menjelaskan semuanya," ucap nenek sambil mengelus lembut rambut Ve.
Deg, rasa tidak suka langsung menyergap hati dan pikiran Al.
"Kenapa harus Kenzo yang jadi pahlawan di sini?" batin Al.
Lalu nenek menyadari kalau yang mengantar Ve kali ini adalah Al bukan Kenzo.
"Eh, Nak Al. Makasih banyak ya, Nak, sekali lagi Nenek minta maaf karena cucu nenek sudah banyak merepotkan kamu."
"Wa'alaikumsalam."
Setelah melihat Al pergi, lantas Ve mengajak Neneknya untuk segera masuk ke rumah.
"Kamu nggak apa-apa 'kan Raya?"
"Alhamdulillah enggak apa-apa, kok, Nek."
"Sepertinya setelah ini kamu harus menjaga sikapmu!"
"Kenapa, Nek?"
"Nenek merasakan jika ada beberapa lelaki yang dekat dengan kamu itu menaruh hati padamu."
__ADS_1
"Ah, nenek bisa aja, lagipula Ve nggak akan mudah jatuh cinta kok Nek, jadi sans aja."
"Sans, sans, gundulmu 'kah?" tanya Nenek mengajak bercanda.
"Ngomong sama orang tua itu harusnya lebih hormat, nenek takut nanti jadi kebiasaan kamu."
"Nenek loh, bisa aja, udah ah, Ve mau balik bubuk lagi, bubuk di Rumah Sakit enggak enak."
"Kok bubuk Ve? Anak gadis nggak boleh bubuk pagi, pamali!"
"Tapi Ve nggak bisa masuk sekolah, Nek, belum boleh!"
"Ya, sudah, segera pulih ya cucu Nenek."
"Oke, Nenek Sayang ...."
.
.
..."Terkadang apa yang terlihat itu, enggak selamanya baik, tapi sesuatu yang baik itu pasti dimulai dengan hal yang baik pula."...
...⚜⚜⚜...
.
.
Kenzo masih menyunggingkan senyumnya kali ini ketika melihat mata panda milik Al bertengger sempurna di wajah Al. Tentu saja hal itu terjadi karena Ve. Tapi ia tak mau gadisnya itu terluka ataupun tergores sedikitpun, karena ia tau, Ve adalah masa depannya.
"Kalau soal lain, aku mungkin masih bisa mengalah tetapi kalau soal urusan cinta atau tentang Veeya Nazia Raya, gue pastikan bahwa ia akan menjadi milikku selamanya," ucap Kenzo dari balik pintu kelas Ve.
Karena bel sekolah sudah berbunyi, Kenzo segera berbalik menuju ruang kelasnya.
.
__ADS_1
.
...🌹Bersambung🌹...