MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU

MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU
Bab 90. BERTEMU LISA


__ADS_3

Barisan mobil terlihat terparkir rapi di halaman sekolah SMA TUNAS BANGSA. Hari ini adalah hari penerimaan raport untuk kenaikan kelas. Banyak siswa dan wali murid yang datang ke sekolah untuk mengambil raport. Begitu pula dengan Ve, Ken dan Nenek Safa datang bersama.


"Bagaimana, Nek, sekolah Ve bagus, 'kan?"


"Iya, bagus, alhamdulillah kamu bisa bersekolah di sini."


"Iya."


Ve menggandeng mesra lengan neneknya, meski begitu sudah membuat Ken iri.


"Bu Wakelas, aku juga pengen digandeng kek gitu, boleh," bisik Ken pada telinga Ve.


"Nggak."


"Ish, kok gitu, 'kan aku juga pengen," ucap Ken sambil menaik turunkan alisnya yang tebal.


Ve menyikut lengan Ken, "Ish, sama nenek aja cemburu, dasar WAKETOS bucin, weeekk!" cibir Ve.


Tapi Al tidak jera, "Bibir dimonyongin gunanya buat apa sih?"


"Buat ditabok, ish."


"Wkwkwk, bukan minta dicium, ya?"


Ve hanya membalasnya dengan pelototan matanya.


"Bisa-bisanya bilang kek gitu di depan nenek."


Ve yang kesal dengan tingkah manja Ken geleng-geleng kepala dan berjalan lebih cepat meninggalkan Ken sendirian di belakang.


"Tuh, 'kan, jadi manis, wkwkwk."


Ken tersenyum jika membayangkan dirinya yang entah sejak kapan jadi gila sejak dekat dengan Ve Bahkan terkadang ia lupa jika Ve adalah adiknya. Saat sadar ia ditinggal oleh Ve, ia segera mengejarnya.


Setelah berhasil di kejar, Ken menyamakan langkahnya. Lalu ketiga orang itu segera menuju aula sekolah.


Tapi Ken membisikkan sesuatu pada Ve. Ken menarik tangan Ve, "Ikut aku sebentar."


"Mau apa lagi, sih?" protes Ve.


"Penting Bu Wakelas."


"Ish, nggak usah panggil kek gitu bisa, 'kan?"


"Enggak!"


Nenek tertawa lucu melihat tingkah kedua cucunya itu. Tapi akhirnya Ve mengiyakan permintaan Ken.


"Nek, kami keluar sebentar, ya."


"Iya, jangan lama-lama."


"Apa nenek takut?"


"Bukan, nenek hanya tak ada teman bicara saja."


"Owh, oke."


Tak lama kemudian, Al datang bersama kedua orang tuanya. Dari kejauhan ia melihat Ken dan Ve hendak pergi, melambaikan tangan pada mereka, berharap mereka melihat. Ve yang melihat Ken segera mendekati Al. Ia juga menyapa kedua orang tua Al.


"Al, titip nenek gue, ya. Aku ada urusan penting sebentar sama Ve."


"Kemana?" tanya Al penasaran.

__ADS_1


"Kepo!"


"Lah, kok gitu," protes Al.


"Dah, nggak usah ganggu, kita ada urusan mendadak."


"Oh, oke, jangan lama-lama."


"Wkwkwk, udah kaya nenek," ucap Ken.


Lalu Ve segera pamit pada kedua orang tua Al dan beranjak meninggalkan mereka.


"Kami permisi dulu, tante, om."


Putri dan Tiyan mengangguk. Lalu Ve dan Ken segera pergi.


🍂Di tengah perjalanan.


"Sebenarnya kita mau kemana, Kak?"


"Menyusun rencana, agar Mamaku nggak berbuat onar di sini."


Ve menghentikan langkahnya sejenak. Ia masih ingat betul siapa wanita itu.


"Bu-buat apa dia ke sini?" ucap Ve sambil menunjuk ke arah Lisa dan Aiden yang ternyata sudah datang.


Ken mengikuti arah pandang Ve. Sorot mata Ve sudah berubah, terlihat jika ia tidak menyukai kehadiran mereka. Sayang, ada Salsa dan kedua orang tuanya yang berjalan di belakang mereka.


"Gimana, nih!"


"Kita balik!" ucap Ve sambil berbalik badan untuk menuju ke aula.


Ken segera menyusul kepergian Ve. Jika ia tidak di samping Ve dan Nenek Safa, ia takut, sang Mama akan hilang kendali setelah ini. Apalagi sampai saat ini hubungan mereka belum membaik.


Ve membuang nafasnya secara kasar dan sedikit menoleh pada Ken.


"Sebaiknya, kakak bergabung dengan ayah dan ibu kakak, dan aku menemani nenek, mungkin dengan begitu tidak akan mematik rasa cemburu dari Tante Lisa."


"Oke, sebaiknya memang begitu, kamu hati-hati dan ingat, selalu hubungi aku jika memerlukan bantuan."


"Sip, dah sana pergi!"


"Oke, oke, fix kita pisah dulu, salam buat nenek."


Ve mengangguk lalu berjalan menjauh dari Ken. Sedangkan Ken berbalik arah untuk menjemput ayah dan ibunya.


"Hai, Ken?" sapa Salsa ramah.


"Hai."


"Ma, Pa ayo segera masuk, acara akan dimulai sebentar lagi."


"Iya, Sayang. Maaf kami permisi masuk dulu ya Salsa.."


"Iya, silakan, Tante ," ucap Salsa.


Kemudian Ken mengajak kedua orang tuanya untuk segera masuk ke aula karena sebentar lagi akan dimulai acaranya.


"Semoga Mama dan Ve nggak ketemu, Aamiin."


Sementara Lisa masih menyisir sekolah Ken berharap ia bisa melihat Ve dan neneknya. Meski ia sudah berjanji tidak akan membuat onar, tapi entah kenapa hawa panas sudah mulai merasuki tubuhnya. Sedangkan Aiden selalu siaga di dekat Lisa.


.

__ADS_1


.


🍂Aula Sekolah


“Dion, dimana Ve dan neneknya?”


“Enggak tau, Ma. Sebentar aku hubungi Ve dulu.”


Karena merasa tidak nyaman, Jihan ingin bersama dengan orang yang ia kenal. Saat itu yang berada di pikiran Jihan adalah Nenek Safa dan Ve. Ingin sekali rasanya bertemu dengan Nenek Safa, dan menceritakan semua kegundahan hatinya. Mungkin karena Ibunda Maya merupakan orang yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri, sehingga saat ia ada masalah ia akan mencari Nenek Safa.


Lagi pula para wali murid yang hadir juga kurang dikenali Jihan. Terlebih putranya baru satu semester sekolah di sana.


Kondisi mental Jihan juga agak memburuk sejak kedatangan Dimitri, suaminya kemarin. Oleh karena itu ia merasa kurang nyaman berdekatan dengan orang yang tidak ia kenali. Meski sudah bersama Dion sekalipun, tapi entah kenapa rasanya beda.


Ponsel di saku Ve bergetar, ia segera mengecek notif di ponselnya. Melihat nama Dion yang tertera, Ve segera mengangkat panggilan telepon.


"Hallo, Dion."


“Hallo, Ve, kamu di mana?"


"Di sekolah kok."


"Di bagian mana, Mama ingin duduk dekat dengan nenek, nih."


“Oh, aku duduk di dekat pintu masuk, Dion.”


“Jika mama ke situ, masih ada tempat nggak?”


Ve menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia melihat di belakangnya ada dua kursi kosong.


“Ada, cepet ke sini.”


“Oke."


"Gimana, ketemu?"


"Udah, Ma. Ayo ikut."


Jihan lalu mengikuti arah langkah Dion. Beruntung jarak tempat duduk mereka tidak terlalu jauh, sehingga beberapa saat kemudian Dion dan mamanya sudah datang mendekati Ve.


"Selamat pagi, nenek."


"Pagi, silakan duduk."


"Makasih, Nek."


Tapi tak lama kemudian, Lisa dan Aiden lewat di depan mereka. Sesaat nafas Ve berhenti. Melihat kedatangan Lisa seperti melihat kedatangan penjahat. Begitu pula dengan nenek. Jihan yang melihat raut wajah Ve dan nenek berubah menjadi bingung.


"Kalian kenapa?"


"Eh, nggak apa-apa, kok, Tante."


Tapi Dion melihat ekspresi perubahan wajah Ve saat melihat Ken lewat.


"Ada apa ini?" batinnya.


.


.


...🌹Bersambung🌹...


Semoga Lisa bisa menjaga sikapnya, Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2