
"Balas dendam terindah adalah dengan mengambil kebahagiaanmu, Veeya."
Keputusan sekolah siang ini bukannya membuat Salsa jera, tetapi membuat ia semakin nekad dan berambisi. Dengan kekuasaan ayahnya ia masih bisa kalah dari Ve, membuat Salsa tidak pernah puas jika belum bisa mencelakai gadis itu.
Rencana kali ini sudah dipikirkan secara matang. Hanya karena cinta, mata hati dan pikirannya telah menggelap, tergantikan oleh ambisi yang akan membuat siapa saja semakin tenggelam dalam lembah kegelapan. Tidak adanya perhatian dari keluarga membuat Salsa salah langkah.
Salsa sudah berubah, keceriaan dan kebaikan hatinya telah raib sejak kedua orang tuanya tinggal di luar negeri dan meninggalkan dirinya di Indonesia. Rasa haus kasih sayang ia alihkan pada obsesinya mendapatkan Al.
Sejak sekolah menengah pertama hanya Al yang mau berteman dengannya, sampai suatu saat Al tiba-tiba menjauh dari dirinya. Salsa tidak tau kenapa itu terjadi, tetapi ia merasa kehilangan untuk yang kedua kalinya.
Salsa tidak pernah menyerah karena ia yakin hanya Al yang sayang padanya. Sejak saat itu rasa cinta untuk Al berubah menjadi sebuah obsesi. Jika Al dekat dengan gadis lain, tanpa mereka sadari Salsa membuat isu palsu sehingga gadis yang mendekati Al akan pergi menjauh dengan sendirinya.
Perbuatan Salsa yang diam-diam menjauhkannya dari teman-teman dekatnya membuat Al lama kelamaan menyadarinya. Meski ia tidak menegur Salsa bukan berarti ia tidak peduli. Selama Salsa tidak melukai mereka, Al masih memaafkannya.
Mungkin karena sikap Al yang terkesan cuek, membuatnya berbangga diri dan semakin bertindak tidak wajar. Kekuasaan ayahnya seringkali dijadikan tameng olehnya.
__ADS_1
Sampai dimana titik sabar berubah menjadi amarah, Al mulai bersikap tegas. Sebelumnya ia tidak mau menggunakan kekuasaan ayahnya, tetapi situasi kali ini membuatnya jengah dan memakai cara ini.
Tiyan menepuk bahu Al hingga membuatnya tersentak. "Peran Papa sampai di sini, setelahnya kamu bisa mengatasinya bukan?"
Al mengangguk tanda mengiyakan ucapan ayahnya barusan. Setelah semua orang kembali dan meninggalkan area sekolah. Kini tinggalah beberapa remaja itu di sana.
Veeya, Dion, Kenzo menunggu kedatangan Al di depan ruang meeting sekolah. Sebelum liburan panjang dimulai, mereka harus membahas langkah selanjutnya.
"Sorry, kalian lama menunggu, ya?"
"Ya sudah, bagaimana kalau kita membahas hal ini sebentar di roof top sekolah."
"Sepertinya jangan di sekolah, deh. Gimana kalau kita nongkrong di cafe langganan gue aja!"
"Terserah deh, yang penting nyaman."
__ADS_1
"Oke lah, kalau begitu."
Keempat remaja itu segera meninggalkan halaman sekolah menuju cafe terdekat. Mereka akan mulai melakukan pembahasan rencana apa yang akan diambil setelah ini. Al masih yakin jika Salsa masih belum seratus persen menyerah. Ia sangat tau watak Salsa seperti apa.
Sementara itu pengumuman Ve sebagai anak kandung Aiden sepertinya masih terhambat. Tentu saja ini berkaitan dengan Lisa yang belum berdamai dengan Ve.
"Jika Anda memang berencana untuk mengakui saya sebagai putrimu, sepertinya Anda salah orang."
"Lakukan saja tugasmu sebagai suami dan ayah yang baik lebih dahulu, baru sesudahnya datang kepadaku. Itu pun jika Anda benar-benar ingin mengakui saya sebagai putrimu."
Ucapan Ve terngiang-ngiang sepanjang perjalanan pulang. Kali ini ia hanya bisa mengandalkan Ken yang belum dibenci oleh Ve.
Aiden tau Ken pernah menaruh hati pada Ve, sama seperti saat pertama dia mengenal Maya. Kepribadian Maya menurun pada Ve. Sementara kepribadiannya menurun pada Kenzo.
"Andai waktu bisa diulang, aku yakin semuanya akan berubah menjadi lebih baik."
__ADS_1