
Akhirnya waktu yang ditunggu tiba, keajaiban itu muncul tatkala Ve membuka mata. Kondisinya mulai stabil kali ini. Dokter dan suster memeriksa keadaan Ve, setelah dinyatakan aman, ia dipindahkan ke ruang perawatan.
Benturan keras yang terjadi di kepalanya membuat Ve sempat kehilangan kesadarannya selama dua puluh empat jam lebih. Beruntung ia masih bisa membuka mata dan tidak koma. Doa-doa yang dipanjatkan seluruh keluarga dekatnya membuatnya kembali.
Di sisi brankar terlihat Al yang setia menemaninya. Lingkaran mata panda menjadi bukti jika ia tidak kurang tidur dalam beberapa hari terakhir ini. Rasa bersalah terus menghantuinya selama beberapa hari ini. Meski keluarga Ve telah memaafkan hal ini, tetapi nyatanya tidak mengurangi rasa bersalahnya.
Sementara itu, pelaku tabrak lari tersebut telah dinyatakan meninggal dunia. Karena rasa amarahnya Al tidak pergi untuk takziah ke rumah pelaku. Ia lebih memilih bersama Ve. Lagi pula yang menjadi pelakunya adalah orang yang selama ini selalu mengganggu Ve. Siapa lagi kalau bukan Salsa.
Seorang gadis yang penuh ambisi, selalu berniat hal-hal kejahatan pada Ve. Rasa cemburu dan ambisi telah membuatnya hilang akal, hingga berujung kematian.
.
.
Rumah duka masih banyak didatangi oleh para kerabat dan relasi kerja kedua orang tua Salsa. Mereka tidak menyangka jika putrinya akan meninggal dengan cara yang tragis. Kedua orang tua Salsa langsung kembali ke Indonesia ketika mendapatkan kabar jika putrinya sudah meninggal dunia.
Pihak kepolisian juga telah menjelaskan dengan detail apa saja hal dan kemungkinan yang terjadi sesaat sebelum kecelakaan. Mereka juga mengatakan ada korban lain di dalam kecelakaan tersebut, dan kini masih dirawat di Rumah Sakit.
Pihak keluarga sudah menemui keluarga besar Ve dan meminta maaf secara pribadi, tetapi saat pertemuan itu Al tidak ikut serta dan lebih memilih menjaga Ve di Rumah Sakit.
"Maafkan atas keteledoran putri kami yang membuat putri Anda terbaring lemah di Rumah Sakit," ucap Ibu Salsa mewakili pihak keluarga.
__ADS_1
"Sebagai seorang ayah sebenarnya saya kecewa dengan cara mendidik putri Anda, tetapi hal ini diluar kapasitas saya sebagai orang luar. Saya hanya bisa mendoakan semoga Almarhum Salsa bisa tenang di sisi Allah dan semoga dosa-dosanya diampuni Allah SWT. Aamiin."
"Terima kasih untuk doa-doanya."
"Sebagai permohonan maaf dari kami ijinkan kami selaku orang tua Salsa menanggung seluruh biaya perawatan Ve selama di Rumah Sakit."
"Tidak usah repot-repot," tolak Aiden.
"Tidak, Tuan, biarkan kami yang menanggungnya. Karena kami sungguh menyesal dengan semua kejadian kali ini. Maaf dan maaf."
.
.
"Pa, bolehkah aku berbicara sebentar."
Aiden menoleh, "Bicaralah."
"Apa aku boleh melakukan pengobatan untuk penyakitku yang sering kambuh ini?"
"Kau sungguh-sungguh?"
__ADS_1
Lisa mengangguk, "Aku merasa pantas untuk melakukannya agar di kemudian hari tidak menimbulkan masalah lagi."
Ia menunduk, Aiden memandangi Lisa lekat-lekat.
"Aku hanya takut jika sampai suatu hari penyakitku kambuh dan bisa melukai kalian semua. Belajar dari kasus Salsa yang membenci Ve berujung hal seperti ini. Aku sungguh takut hal itu terjadi padaku."
"Sudah kau pikirkan baik-baik keinginanmu itu?"
"Sudah, Pa. Aku sungguh menyayangi kalian, dan tidak ingin kalian pergi. Aku juga sudah bertekad untuk menerima kehadiran nenek dan Ve dalam rumah kita."
"Tidak, untuk yang satu itu, biarkan Ve hidup tenang bersama neneknya di rumah yang lain. Lagi pula Ve tidak terbiasa hidup dengan orang asing."
"Tapi, Pa."
"Hal ini sudah aku pikirkan sejak jauh hari, kamu tenanglah. Untuk keinginanmu itu kita bisa bicarakan dengan dr. Richard setelah ini."
"Terima kasih untuk kepercayaannya, Pa. Maaf jika sikapku ini pernah membuat jarak diantara kita berdua."
"Tidak apa, setidaknya kamu akhirnya sadar jika ada sesuatu hal yang kurang aku sukai dari dirimu. Beruntung kamu sadar tepat pada waktunya."
Lisa tersenyum, ia bersyukur karena ia masih diberikan kesempatan sekali lagi. Meski ia sadar hal itu akan terasa sangat menyulitkan setelah ini, tetapi ia sadar semuanya akan indah pada waktunya. Lagi pula kehilangan orang-orang tersayang lebih menyakitkan dari pada terus memendam benci yang semakin lama semakin menyakitkan diri kita.
__ADS_1