MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU

MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU
Bab 109. ALHAMDULILLAH SIUMAN


__ADS_3

Akhirnya Ve sudah siuman, tetapi ia belum diperbolehkan pulang untuk sementara waktu. Sementara itu Nenek Safa dalam perjalanan kembali ke Ibu Kota.


Beberapa hari yang lalu ia meminta Jihan untuk mengantarkannya pulang kampung. Ada hal yang sedang diurus saat itu, sehingga dengan terpaksa ia harus meninggalkan Ve dan Dion.


Selama di desa sebenarnya perasaan nenek tidak begitu nyaman, tetapi ia tidak bisa menghubungi Ve yang berada di kota sebab di desa sangat susah sinyal. Meski begitu insting seorang nenek tidak pernah salah. Hanya doa-doa yang bisa ia lantunkan saat ini untuk keselamatan dan kebahagiaan Ve.


"Jangan khawatir, Nek. Ve dan Dion pasti baik-baik saja."


Jihan memegang tangan Nenek dan mengusapnya secara perlahan. Ia juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh nenek, hanya saja ia tidak bisa memperlihatkan hal tersebut di depan nenek agar tidak membebani pikiran nenek. Begitu pula ia yang tidak ingin menambah pikiran Jihan. Nenek pun hanya bisa membalasnya dan tersenyum menatap Jihan.


"Untung ada kamu, kalau tidak, mana mungkin aku bisa setenang ini di desa."


"Iya Nek. Selama ada aku dan Dion, kami akan selalu mendampingi Nenek dan Ve."


"Terima kasih Jihan, maaf nenek tidak bisa membalas semua kebaikanmu saat ini, semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu dengan berlipat ganda."


"Aamiin."


Nenek kemudian memeluk Jihan sebagai wujud kasih sayangnya. Beruntung dengan sabar, Jihan selalu mendampinginya. Baginya Nenek Safa adalah ibu yang baik. Lagi pula kedua orang tua dan mertuanya sudah meninggal dunia.


Dalam perjalanan kali ini pula, mereka menggunakan supir pribadi. Ia tidak mengajak Dion karena tugasnya mengawasi dan menjaga Ve.


"Ingat pesan Mama, jangan pernah meninggalkan Ve kecuali dia pergi bersama kekasihnya."


"Siap Mommy."


"Dan kamu Ve, tolong ingatkan Dion agar tidak telat makan."


"Siap."


Itulah kenangan terakhir yang Dion ingat saat ini, tetapi ia malah mengecewakan semua tanggung jawab yang diberikan oleh Mamanya. Ken yang baru saja datang menepuk bahu Dion.


Ketiga remaja itu secara bergantian menjaga Ve. Tidak ingin merepotkan orang tua mereka, secara mandiri mereka bertiga bagaikan bodyguard pengawal tuan putri.


"Kamu sudah makan?" tanya Ken.


"Belum."


Al muncul membawakan makanan untuk mereka bertiga. Secara tidak sengaja Ken bertemu dengan Al di lobby.


"Tumben kalian berdua datang bersamaan?" tanya Dion penasaran.


"Ha ha ha, iya ketemu Ken waktu di lobby tadi, makanya aku ajak bareng."


"Untung saja aku bawa makanan berlebih," celetuk Al.


Lalu ketiganya tertawa secara bersamaan. Tidak lama kemudian Ve terbangun. Ketiga pemuda tadi segera menghampiri brankar Ve.


"Mau minum?"

__ADS_1


"Apa yang kamu butuhkan?"


Ken tersenyum karena adiknya banyak yang suka, mungkin juga Dion menaruh hati padanya. Sedangkan Ve kebingungan melihat ketiga pemuda tampan itu berada di sana. Untung Ken ingat sesuatu, ia menekan tombol nurse call untuk memanggil tenaga medis.


Hal yang seharusnya dilakukan jika pasien siuman memang harus memanggil dokter atau tenaga medis agar mengetahui keadaan pasien sampai tahap apa.


Benar saja sesaat kemudian dokter datang ke kamar Ve dan memeriksanya.


"Bagaimana dokter?"


"Alhamdulillah keadaan pasien sangat baik."


"Alhamdulillah."


.


.


"Alhamdulilah sudah hampir sampai, udah kangen banget sama Ve," ucap Nenek Safa dengan berbinar.


Tidak butuh waktu lama, mereka sudah memasuki pekarangan rumahnya, tetapi suasana tampak sepi.


"Kok sepi, ya?" tanya nenek ketika menyadari ada yang salah dengan keadaan di sana.


Keduanya langsung keluar dari dalam mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah. Bukannya disambut oleh Dion tetapi kedatangan mereka disambut oleh seorang pelayan.


"Selamat datang Nyonya."


Asisten rumah tangga itu hanya terdiam dan menunduk.


"Kok diem?"


"A-anu Nyonya ...." ia masih tampak ragu-ragu menjawab pertanyaan tersebut.


"Bik, ada apa sebenarnya?"


"Non Ve kecelakan jadi semuanya masih berada di Rumah Sakit."


"Ha-ah, kapan? Trus gimana keadaan Ve saat ini?'


"Den Dion sedang menjaga Nona Ve di Rumah Sakit sekarang, sebentar lagi pasti pulang."


Jihan mengusap dadanya perlahan, sementara itu Nenek Safa baru saja sampai di sisinya, tadi beliau cuci kaki dan tangan di depan rumah terlebih dahulu, makanya sedikit tertinggal kali ini.


"Ada apa Jihan?"


"Itu Nek, Dion sedang menjaga Ve."


"Memangnya kenapa?"

__ADS_1


Jihan mengajak nenek untuk duduk. Ia menggenggam tangan Nenek dan mengusapnya perlahan. Sesaat kemudian pelayan datang membawa teh untuk nenek.


"Di minum dulu, Nek."


Nenek pun mengikuti arahan Jihan. Setelah dirasa ia tenang, Jihan mulai mengatakan semuanya.


"Nek, maaf, Ve sedang sakit saat ini, ia baru saja mengalami kecelakaan."


"Apa? Trus gimana keadaannya Jihan?"


"Alhamdulilah sudah membaik, hanya saja belum bisa pulang saat ini."


Nenek menghela nafasnya sekali lagi. "Apa ini juga ulah Lisa?"


"Bukan Nek, sepertinya Lisa tidak terlibat dalam kecelakaan kali ini. Menurut Ken, ia sudah lebih membaik keadaannya saat ini. Jadi sangat mustahil jika Lisa terlibat."


"Sungguh?"


Meski ragu ia tidak mengatakannya pada nenek, ia takut semakin membebani pikiran Nenek saat ini.


"Oh, ya sudah kalau begitu."


"Nenek beristirahat saja dulu, nanti kalau ada kabar terbaru, aku bangunkan."


"Baiklah, semoga Ve tidak apa-apa."


"Aamiin."


Setelah melihat nenek tenang, Jihan membawanya ke kamar tidur. Memastikan jika nenek beristirahat dengan baik. Sesudahnya ia kembali ke bawah.


"Karena kondisi Nenek Safa yang sudah tidak seperti dulu, beliau sering sekali kelelahan. Sebaiknya aku harus mencari tahu kesehatan Ve saat ini," batin Jihan sambil menuruni tangga.


"Semoga kamu tidak kenapa-napa ya Ve. Nenek sangat mengkhawatirkanmu."


Sebenarnya nenek belum tertidur, hanya saja ia tidak enak pada Jihan yang telah banyak ia repotkan. Sehingga ia memilih memendam perasaannya sendiri.


Saat ini harta yang ia miliki hanya Ve seorang, meski Ve bukan cucu kandungnya, hal itu tidak akan mengurangi kadar kasih sayangnya terhadapnya.


.


.


"Terima kasih banyak dokter."


"Sama-sama, jangan lupa setelah ini masih harus terapi lanjutan."


"Siap dokter, terima kasih."


Meski badannya masih terasa lemah, dukungan dari teman, keluarga dan sahabat selalu menyertai Ve. Kini Al akan menjaga Ve selayaknya calon istrinya. Meski masih ada dua pria tampan yang juga selalu menjaga Ve, yaitu Ken dan Dion.

__ADS_1


...🌹Bersambung🌹...


__ADS_2