
...Sebuah rahasia yang tersimpan rapat sekalipun, suatu saat pasti akan terbongkar. Entah itu dalam waktu yang dekat ataupun lambat....
...⚜⚜⚜...
"Gimana les hari ini? Nggak susah, 'kan?"
"Enggak, kok. Lumayan sih, cuma ada beberapa rumus yang sebenarnya bisa disederhanakan tapi tetap saja pakai rumus yang lama."
Al menoleh pada Ve.
"Kamu kok tahu?"
"Tahu lah, semuanya sudah pernah aku baca dan pelajari dari buku-buku peninggalan Ayahku."
"Ha? Memangnya kalau boleh tahu, Ayah kamu bekerja apa?"
Ve tersenyum dan menoleh pada Al.
"Ayahku sudah meninggal Al, jadi sudah tidak bekerja."
"Ma-af, aku tidak tahu."
Al kemudian fokus kembali pada mobil yang ia kendarai. Ia tak mau mengungkit luka lama yang dialami oleh Ve. Baginya sudah cukup ia bersama Ve saat ini. Toh soal Ken, Tuhan sudah menjauhkan mereka.
Jahat, iya, mungkin memang ini terkesan jahat. Tapi ini lebih baik untuk jantung dan hati Al. Sedikit demi sedikit hati Ve terbuka pada kehadiran Al.
"Oh ya, Kak. Boleh mampir pasar sebentar, Nenek pengen makan ayam ungkep buatanku. Jadi bagaimana kalau kita ke pasar tradisional di jalan A."
"Ok, kebetulan itu arahnya searah kok."
Mobil yang mereka kendarai akhirnya berhenti di sebuah pasar tradisional. Ve hendak keluar sendiri, tapi Al tak tega, hingga ia pun ikut bersamanya.
Karena hari baru saja hujan, tanah di area pasar menjadi becek. Untungnya Ve bukan gadis yang menye-menye. Mau becek kek, nggak ada ojek kek, dia mah tetap aja jalan dengan santainya. Toh jika sepatunya kotor, nanti bisa dicuci lagi.
__ADS_1
Lain lagi dengan Al, ada sedikit rasa tidak nyaman ketika ia menginjakkan kakinya ke tanah. Belum lagi mimik wajahnya yang sangat lucu menurut Ve.
"STOP! Kak Al mau kemana?"
"Mau jagain kamu? Eh, bu-bukan ... maksudnya, aku mau nemenin kamu beli ayam."
"Nggak usah, kak, jalannya becek loh! Mending Kak Al tunggu aku di mobil aja, lagian cuma sebentar kok, sans aja."
"Oke, kalau itu yang kamu mau."
Bukannya kembali ke dalam mobil, Al malah menarik Ve untuk segera masuk ke dalam pasar, meski kakinya kotor, ia lebih memilih untuk menemani pujaan hati ketimbang di suruh jagain mobil.
"Daripada kamu suruh aku buat jaga mobil, lebih baik aku jagain kamu, lah."
Ve yang ditarik paksa oleh Al, mau tak mau mempercepat langkahnya. Tapi belum juga beberapa menit, Al tiba-tiba berhenti di tengah jalan.
Hingga kening Ve terantuk ke punggung Al karena mata Ve hanya fokus mengamati jalanan yang baru saja mereka lewati.
"Aww ...." pekik Ve.
"Masih sakit nggak?" ucap Al disela-sela meniupi kening Ve.
"Udah nggak kok, Kak."
Ve yang merasa diberi perhatian manis dari Al menjadi malu. Blush, semburat merah muda tiba-tiba muncul di kedua pipi Ve.
Di saat sedang uwu-uwuan, ponsel Al yang terlihat mengintip dari salah satu celana yang ia kenakan membuat seorang preman berniat untuk mencurinya. Saat itu ia berpura-pura lewat di samping kedua remaja tadi. Tapi saat ponselnya diambil Al sudah mengetahuinya.
"Ponselku .... " teriak Al lalu mengejar preman itu.
"Po-ponsel? Ha? Ponsel Kak Al di curi?" ucap Ve kebingungan lalu beberapa saat kemudian sudah terkoneksi dengan sangat baik.
"Pencuri ... pencuri .... " teriak Ve.
__ADS_1
Hingga terjadilah kejar-kejaran di antara mereka bertiga. Pada dasarnya Ve jago bela diri, sehingga dengan cekatan ia bisa mengejar dan membekukan pencuri itu.
Ve melompati penjual buah lalu tinggal beberapa langkah, tas ranselnya ia lemparkan ke arah pencuri itu, dan "BUGH" pencuri itu jatuh terjungkal. Melihat pencuri itu sudah terjatuh, Ve meningkatkan kecepatan larinya dan berhasil merebut ponsel Al. Sedangkan saat ini, pencuri itu sudah berhasil diamankan para warga.
Al hanya membeku di tempatnya. Matanya mengerjap beberapa kali, berusaha memastikan apakah itu tadi benar-benar Ve gadis yang ia kenal atau pun bukan?
Setelah memastikan pencuri itu pergi, Ve segera berbalik dan mendekati Al yang masih diam itu. Diarihnya tangan Al dan ponselnya segera ia berikan padanya. Al menunduk melihat ponselnya telah kembali dan segera memeluk Ve.
"Eh ..." reflek Ve kaget mendapati pelukan itu.
Al juga mengecup pucuk kepala Ve.
"Terima kasih, kamu enggak apa-apa, 'kan Ve?"
Ve melepas pelukan dari Al.
"Aku enggak apa-apa, Kak. Santai saja."
"Terima kasih ya, maaf tadi aku malah nggak bisa bantu kamu."
"Nggak masalah, yuk buruan beli ayam, takut keburu hujan."
Tanpa meminta pesetujuan dari Al, Ve sudah menarik tangannya dan mengajaknya menuju penjual ayam langganan nenek.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
.
.
__ADS_1
Sambil nunggu up, jangan lupa mampir di karya teman literasi Fany ya... karya kak R. Angela dengan judul "Satu Atap Tiga Hati"