
Sejak kepergiannya, hari-hari Ve di sekolah berasa sepi. Terlebih ada sebagian hatinya yang ikut pergi bersama seseorang yang sama sekali tidak ia ketahui siapa dia dan sedang berada di mana.
Hari ini ia juga menolak saat Al mengajaknya pulang bersama. Ve beralasan ingin berjalan sendirian siang itu. Entah kenapa siang itu berbeda.
Saat Ve baru saja keluar dari gerbang sekolah, ia duduk sebentar di halte. Sambil menunggu bus yang datang ia memperhatikan sekitar. Tak banyak anak sekolah yang berlalu lalang karena Ve sudah terlambat pulang. Tadi jam kelasnya ditambah karena esok pagi ada kegiatan vaksin jadi pelajaran untuk esok hari di kurangi dan ditambahkan hari itu juga.
Beberapa saat kemudian, Bus yang ditunggu Ve datang dan berhenti di depannya. Ternyata ada beberapa anak menunggu bus yang sama dengan Ve.
Saat ia hampir naik, ada salah seorang siswa laki-laki yang menyerobot ketika ia mulai naik bus. Bukan hanya menyerobot tapi dia juga menyenggol lengan Ve hingga ia hampir terjatuh, beruntung siswa di belakangnya menangkap tubuhnya hingga ia tak jadi jatuh.
Ve menoleh, siswa laki-laki itu tersenyum padanya.
Deg.
"Kenapa aku merasa pernah berada di posisi ini?" batin Ve.
"Jadi naik nggak, ayo buruan naik," seru siswa yang lebih dulu naik dan menyenggol lengan Ve tadi.
Ve tersadar lalu menyusul siswa lain yang sudah lebih dulu naik. Ia tak mau ketinggalan bus tentunya. Saat di dalam bus, secara tak sengaja Ve duduk bersebelahan dengan siswa tadi.
Ve tersenyum padanya dan tak lupa berterima kasih.
"Terima kasih untuk yang tadi," jawab Ve berbasa-basi.
"Sama-sama."
Setelahnya tak ada obrolan yang terjadi saat itu. Bus pun melaju meninggalkan sekolah. Tapi ternyata Al tidak membiarkan Ve pulang sendiri, ia tetap memantau Ve dari belakang. Mobil yang ia kendarai melaju pelan di belakang bus.
Ve sempat melihat sekelebat bayangan mobil Al di sana, tapi ia tak bisa berbuat banyak, apalagi melarangnya. Kedekatan mereka selama ini juga hanya sebatas teman tak lebih dari itu. Bukan ve tak menghargai Al, tapi hatinya menolak hal itu.
Tiba-tiba ponselnya berdering, ia pun melihat siapa yang menelponnya barusan.
"Kenzo?" batin Ve bertanya-tanya.
"Hallo?"
__ADS_1
"Hai, Ve, aku sudah ingat semuanya, tunggu aku kembali, kita akan bersama, I love you."
"Ha-ah, kakak barusan bilang apa?" tanya Ve kebingungan.
"Tunggu aku Ve, aku sudah ingat semuanya, tunggu aku dua hari lagi, aku pasti datang."
Semakin lama percakapan mereka terjadi Ve semakin bingung dengan arah pembicaraan mereka. Sementara itu Salsa baru saja pulang dari luar negeri. Esok hari ia mulai bersekolah kembali. Tapi saat ini ia lagi hangout bersama teman satu gengnya.
"Hai ... " sapa Salsa pada teman-temannya.
"Hm, Ratu cantik dah datang rupanya, mana oleh-olehnya."
"Sabar, bentar lagi gue kasih ke kalian."
"Ehem, jadi gimana nih?"
"Gimana apanya nih, Ratu?"
"Selama gue di LN, apa si Ve itu berani deketin Al?" tanya Salsa.
BRAK!
"Katakan sekali lagi!"
"Sabar, Ratu."
"Jadi gini, sejak pulang dari camping kan Lu nvva ada, jadi kita-kita ini yang jadi saksi bisu kedekatan mereka berdua. Bahkan nih, ya, saking tidak kuat melihat kedekatan mereka, Kenzo si WAKETOS kita sampai pindah ke Swiss."
"Apa? Sehebat itukah pesona Ve?"
"Eh, Ratu, gimana kaki kamu, dah sembuh, 'kah?"
"Justru karena itu gue berobat ke Luar Negeri untuk mengobati hal itu sama melakukan operasi plastik."
"Ha-ah, apanya lagi yang dipermak woi, sumpah Lu, 'kan udah cantik paripurna, kenapa pakai operasi segala?"
__ADS_1
"Kalau gue cantik, nggak mungkin Al milih Ve ketimbang gue!" gertak Salsa kemudian.
"Sabar, menurut gue kalau Lu masih kayak gini, mau dipermak sampai berapa kali pun akan tetap sama hasilnya."
"Benar, makanya lebih baik sekalian Lu ubah sedikit sikap Lu agar Al tertarik sama perilaku kamu."
Salsa tampak memikirkan saran dari sahabat-sahabatnya itu.
"Oke, karena kalian telah memberikan saran buat gue, nih hadiah buat kalian!"
Salsa kemudian menjetikkan jarinya, lalu sesaat kemudian datanglah dua pengawalnya yang membawa beberapa paper bag untuk diberikan pada teman satu geng-nya.
Binar-binar kebahagian mulai muncul ketika paper bag yang diberikan pada mereka tersebut besar-besar. Bayangan mendapatkan sesuatu yang berharga mulai bermunculan di benak mereka.
Setelah mendapatkan paper bag itu, masing-masing teman geng Salsa yang berjumlah empat orang itu bergegas membukanya. Betapa terkejutnya ketika Salsa benar-benar mewujudkan keinginan masing-masing temannya itu. Seketika ke-empat gadis remaja itu saling berpelukan satu sama lain.
"Makasih, Ratu-ku sayang."
"Sama-sama."
Meskipun Salsa selalu bertindak semena-mena, tapi di dalam teman satu geng-nya, ia amat menghargai arti sebuah persahabatan. Jika ada salah seorang dari mereka yang terluka ataupub kesusahan, Salsa tak segan untuk membantunya.
.
.
...“Salah satu keindahan persahabatan sejati adalah kemampuan untuk saling memahami dan dipahami satu sama lain”...
...⚜⚜⚜...
.
.
Sambil nunggu up jangan lupa mampir di karya Kak Lady Meilina ya, judulnya My Husband Is My Secret Lover, ditunggu jejaknya ya kak, semoga suka
__ADS_1