
Lisa berjalan gontai ketika Aiden menurunkannya di tepi jalan. Ia melihat ke sekeliling untuk meminta tumpangan. Karena tas dan barangnya tertinggal di jok mobil suaminya. Ia tak bisa memesan taksi online.
Bahkan untuk naik angkutan umum, ia seperti merasa alergi. Tapi teriknya sinar matahari membuat kulitnya memerah.
"Dasar, lelaki breng**k. Bisa-bisanya menurunkan aku di tengah jalan," omel Lisa.
.
.
...⚜⚜⚜...
...Kediaman Ve....
"Nenek, istirahat dulu, biar aku yang ambil barang-barang yang ada."
Tapi beberapa saat kemudian tak ada barang yang ia bawa. Sesuai perkataan Ken kapan hari, bahwa semua pakaiannya telah dipindahkan ke rumah baru.
Sedangkan Dion sudah berhasil menyusul Ve. Kini ia segera menyusul Ve ke rumahnya. Melihat pintu rumah Ve terbuka, hati Dion dan Jihan lega.
"Alhamdulillah, Ve kembali ke rumah ternyata."
Sepasang ibu dan anak itu segera menyusul masuk. Tak lupa sebelum itu ia mengucap salam.
"Wa'alaikum salam, Dion, tante Jihan."
Ve segera bersalaman dan mencium tangan Jihan. Sementara itu Jihan langsung memeluk tubuh Ve. Dielusnya rambut Ve dan punggungnya.
"Kamu nggak kenapa-napa, 'kan Ve?"
"Alhamdulillah enggak, tante. Mari masuk dulu."
Setelah dipersilakan masuk, keduanya segera duduk di ruang tamu. Nenek Safa yang mendengar suara wanita yang sangat ia kenali, ia buru-buru datang.
__ADS_1
"Loh ada Jihan, dan Dion."
"Maaf, Nek. Kami kawatir dengan Ve, makanya menyusul."
"Terima kasih sudah khawatir pada Ve. Maaf jadi merepotkan kalian."
"Maaf, tante, Dion, karena aku, kalian sampai bela-belain ke sini."
"Nggak apa-apa, Sayang. Kami sangat sayang sama kamu bahkan sudah menganggap kamu dan nenek bagian dari keluarga kita."
"Terima kasih," ucap Ve dengan terharu.
Setidaknya ia masih merasa dicintai saat ini. Keluarga Dion memang penyelamat untuknya Sejak kecil bahkan mereka selalu ada, sampai saat ini pun, di mana ia berada di dalam situasi sulit, mereka tetap ada bersamanya.
"Memangnya ada apa dengan wanita tadi?" tanya Jihan.
Nenek dan Ve saling memandang, hingga salah satu di antara mereka mulai menceritakan apa yang sedang menimpa keluarga mereka. Jihan mengelus dada, mendengar cerita Ve sama saja membuka luka lamangnya.
Meski ia belum mengenal secara pasti siapa Lisa. Tetapi Jihan yakin, jika Lisa bukan orang baik-baik.
"Ve, bagaimana kalau sementara waktu kalian tinggal di rumah kami saja," usul Dion.
Ve dan nenek memandang haru mereka, kemudian Nenek mengangguk menyetuji usulan Jihan, ibu Dion. Akhirnya semua mengangguk setuju dan segera meninggalkan rumah itu sesaat sebelum Al datang.
Al meminta kedua orang tuanya untuk menunggu di mobil saja. Sementara Al berlari ke rumah Ve dengan segera. Tetapi sayang, rumah itu kosong tak berpenghuni.
"Kemana mereka pergi?"
Belum sempat Al keluar, Kenzo sudah datang.
"Kenapa sepi?"
"Mereka tidak ke sini, Ken."
__ADS_1
Ken memegang bahu Al, "Biar aku cari Ve ke rumah baru, kamu pulang saja. Nanti kita saling bertukar kabar, oke."
Al mengangguk paham, "Oke."
Setelah itu mereka berpisah. Ken mengambil ponselnya lalu segera menelpon orang suruhannya untuk melacak keberadaan Ve. Memastikan keadaan aman. Ken meninggalkan tempat itu dan kembali ke rumah lamanya.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Ken terpecah. Tapi ada bayangan Lisa yang terlihat di pinggir jalan.
"Mama?"
Ken menepikan mobilnya dan berjalan beberapa meter untuk melihat kembali apa benar yang ia lihat barusan adalah mamanya.
Terlihat wanita itu terduduk di tepi trotoar dengan kulit memerah karena terkena terik matahari. Tetapi dari pakaiannya jelas terlihat jika busana yang dipakai bukan barang murahan.
"Mama .... "
Lisa menengadahkan wajahnya. Mendengar suara yang ia kenali seperti mendapatkan oase di tengah gurun.
"Kenzo .... "
Lisa berdiri dan memeluk putranya. "Mama nggak betah di sini, Mama ingin balik ke Swiss aja."
Kenzo mendekap tubuh mamanya, lalu mengajaknya untuk masuk ke dalam mobilnya. Setelah dirasa tenang, Kenzo melajukan kembali kuda besinya menuju rumah. Ia ingin mendengarkan penjelasan ayahnya tentang kejadian siang ini.
"Ma, meski rasa sayangku tak sebesar dulu, tapi aku tak tega jika Mama diperlakukan seperti ini."
Wajah Lisa begitu berbeda. Keangkuhan yang ia banggakan kini menghilang entah pergi kemana. Kenzo tak tau lagi dengan keadaan mamanya saat ini. Kenzo bahkan tak tau jika ibunya memang sakit sejak lama. Alasan itu pula yang dipakai Aiden untuk menyelamatkan Kenzo dari ibunya sendiri.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1