MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU

MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU
BAB 79. KEMBALI SEKOLAH


__ADS_3

Karena keberadaan Ve sangat tidak aman, maka mulai detik ini, Ve tinggal di rumah Al, itu pun atas persetujuan Ken. Darren yang telah membuntuti adiknya selama seharian kemarin sedikit banyak tau tentang kisah adiknya dan Ve.


"Jadi ini yang kamu sembunyikan dari kami, Al," batin Darren.


Kehidupan Ve memang tidak sebaik yang terlihat. Justru kehidupan Ve ternyata jauh lebih pelik dari kisah perjalanan cintanya. Maka dari itu, sejak semalam, saat Al membawa Ve pulang, kedua orang tuanya tak keberatan.


Mereka sudah mendengar kisah Ve dari Darren yang tidak sengaja menemukan informasi tentang sekelumik kisah pelik Ve dan Al. Kedua orang tua Al sangat menyayangi Ve melebihi rasa sayangnya pada Al dan Ken. Tentu saja karena Ve adalah perempuan yang mempunyai satu hobby yang sama dengannya.


Sementara itu, Ve merasa tidak nyaman ketika disuruh tinggal di rumah orang lain. Ia juga merasa canggung saat Al mengajaknya sarapan bersama kedua orang tuanya dan juga kakaknya Darren.


"Aku nanti aja ya makannya, nggak enak sama Mama dan Papa kamu," rengek Ve ketika Al mengajaknya sarapan pagi.


"Kamu tuh bilang apa, mereka sangat menunggu kedatangan kamu di ruang makan. Masa kamu tega membuat mereka menunggu kamu lama begini?"


"Ta-tapi ...."


"Nggak usah tapi-tapian, ayo!"


Akhirnya Al mengajak Ve bersama menuju ruang makan. Ve tersenyum canggung karena ia merasa ia belum siap berada di sana.


Di saat yang lain makan, Ve masih belum memasukkan apapun ke dalam mulutnya. Hingga Mama Putri menegurnya dengan halus.


"Loh, kenapa cuma diaduk-aduk, Sayang. Nggak enak ya masakan tante?" ucap Putri dengan mimik wajah seolah cemberut.


"Eh, enggak Tante, cuma masih panas," ucap Ve yang tidak enak hati pada Mamanya Al.


"Oh, ya sudah kalau begitu, kalau dingin supnya juga ngga enak, jadi dimakan aja sedikit-sedikit, oke."


Karena pikirannya masih berputar tentang kehidupannya setelah ini, ia pun kehilangan selera makan. Tapi pegangan tangan Al membuat Ve segera memasukan makanan itu ke mulutnya.


"Jangan sampai, beban pikiran membuatmu tak berselera, karena mau bagaimana pun orang yang tak suka dengan kita memiliki banyak cara untuk membuat pikiran kita melemah, sehingga mereka dengan mudah menyerang kita," ucap Tiyan, ayahnya Al.


Ve menengadahkan wajahnya untuk melihat Tiyan, ayahnya Al. Sementara itu Putri merasa tidak enak karena suaminya sampai turut berbicara.


"Jangan dipikirkan perkataan Om barusan. Yang penting kamu makan yang banyak biar nggak gampang sakit," ucap Putri kemudian.


Ve mengangguk paham. Lalu ia mulai menyuapi satu persatu makanan ke dalam mulutnya. Al begitu senang memandangi Ve yang makan, rasanya selera makannya menjadi bertambah setelahnya.


Lalu setelahnya Darren ikut berkomentar. Melihat Ve yang dengan mudah dapat diterima di rumah itu membuat Darren teringat Bella, pacarnya."


"Ma, Bella ijin mau maen ke rumah minggu besok, bolehkah?" ucap Darren di sela sarapan pagi.


"Hm, boleh, nanti suruh dia menginap sekalian buat temani Ve."


"Nggak, nggak usah, sebentar lagi Ken juga mencari rumah yang aman untuk Ve, kok!" ucap Al yang tidak terima atas usulan mamanya barusan.


Darren hanya memicing ke arah Al yang menyela obrolan dirinya dan sang Mama. Padahal Al tahu sendiri jika Darren sangat tidak suka di sela. Tapi Al kemudian masa bodoh dengan kemarahan kakaknya, dan lebih memilih untuk melanjutkan acara sarapan paginya.


"Masa bodoh lah, Bang, yang penting Ve tidak berdekatan dengan Bella," batin Al.


Sepuluh menit kemudian, Al dan Ve sudah sampai di sekolah. Ia sangat menyukai suasana pagi itu berduaan dengan pujaan hati sepanjang hari membuat hari-hari Al lebih berwarna.


"Alhamdulillah, akhirnya sampai," ucap Ve sambil melepas seat belt miliknya.


"Terima kasih, Kak."


"Sama-sama, Sayang."

__ADS_1


"Al, ini sekolah," cicit Ve yang takut siswa lain mendengar ucapan Al barusan.


Sementara si pelaku dengan entengnya tertawa bahagianya. Rasanya mengerjai Ve setiap hari membuat dirinya lebih bahagia.


"Panggil biasa aja!"


"Oke, tapi nanti di luar sekolah aku boleh memanggil sayang, 'kan?"


Ve tersenyum, "Iya."


"Yes, yes, yes!" ucap Al senang.


Tak mau melihat kekonyolan Al lebih lama, Ve bergegas keluar dari mobil. Melihat hal itu, Al berniat segera menyusulnya. Belum sempat ia menyusul Ve, tangannya di cekal oleh Salsa.


"Kek demit, muncul nggak diundang dan sesukanya!" omel Al dalam hatinya.


Dengan senyum secerah mentari pagi, Salsa mencoba mendekati Al. Sementara Al yang sudah geram dengan tingkah Salsa segera melepas pegangan dari tangan Salsa.


"Mau apa?" gertak Al.


"Mau bareng kamu menuju kelas," ucap Salsa tanpa dosa.


Sementara Al masih direpotkan oleh Salsa. Dion sudah datang menyambut Ve.


"Pagi Ve?" sapa Dion.


"Pagi Ndut."


"Aish, aku udah kurus Ve, jangan kau panggil aku Ndut mulu."


Ve melenggang pergi meninggalkan Dion yang sudah mengerucut bibirnya. Sementara itu Al juga terjebak akan kehadiran Salsa.


"TTunggun napa, sih. Kan gue makin sayang kalau disuruh ngejar-ngejar kaya gini," gumam Dion sambil berlari mengejar Ve.


Sementara itu di tempat parkir, lebih tepatnya di samping mobil Al.


"Oh, ya menurut kabar Dion bakal naik pangkat lo, menggantikan posisi Ken yang kosong di OSIS."


Al menoleh sebal ke arah Salsa, apalagi dengan tingkahnya yang tambah lama tambah menyebalkan di mata Al.


"Trus kenapa, bukankah lebih bagus begitu?"


"Eh, aku kan cuma cerita, kamu kok ngomelnya ke aku sih."


"Suka-suka gue, lah."


Al yang risih mencoba menghempas tangan Salsa, tetapi bukannya lepas eh malah semakin dekat dengannya.


"Kamu tu ngapain sih, Sal? Nempel mulu kek perangko," gerutu Al.


"Wkwkwk, karena aku emang perangko di amplop perjalanan cinta kita, sehingga kemana pun kamu pergi akan kembali lagi ke hatiku," ucapnya bangga.


"Dih, ngarep! Mimpi Lu ketinggian!" cibir Al.


Al berusaha melepas tautan tangan Salsa yang malah mengeratkan pegangannya. Dengan senyum yang dipaksakan, akhirnya Al berjalan bersama Salsa, si Ratu omesh.


Bangga banget, ketika keinginannya tidak dipatahkan oleh sikap egois Al. Ingin rasanya ia menempel setiap hari pada lelaki pujaan hatinya itu sejak kelas dua belas.

__ADS_1


Tetapi sayang, saat itu ia tidak seberani saat ini. Perlu waktu selama dua tahun untuk mengubah sikapnya yang penakut darinya menjadi gadis yang pemberani seperti saat ini.


"Cie ... cie ... pasangan baru nih ye?"


"Uhuk, permaisuriku, pujaan hatiku, krek ..."


"Ce-ileh, patah hati, Bro."


Sementara tatapan Salsa seolah tidak menginginkan para cecurut itu mengikutinya. Siapa lagi kalau bukan para penggemar Salsa n the geng.


"Dih, nggak level, pergi sana!" usir Salsa lewat sorotan matanya.


"Semoga Ve nggak marah akan hal ini, kenapa juga harus bareng sama Salsa," gerutu Al sepanjang jalan.


.


.


"Hallo, saya Lisa Brawijaya."


"Iya, ada yang bisa saya bantu?"


"Persiapkan surat-surat yang sudah saya tandatangani satu tahun yang lalu dan persiapkan soft copy-nya. Saya butuh hari ini juga."


"Baik, Bu. Surat yang Anda butuhkan akan saya proses secepatnya."


"Terima kasih."


"Sama-sama."


"Ken, kamu mau kemana lagi?"


"Mau kemana juga bukan urusanmu!"


"Jaga ucapanmu, Ken, aku ini ibumu!"


"Ya, ibu yang tega membunuh kebahagian orang lain demi memenuhi ambisinya bukanlah sifat seorang ibu, tapi sikap seorang iblis!"


"Kenzo!" gertak Lisa menahan amarahnya.


Tapi sepertinya ia tidak bisa menahan amarahnya saat ini. Dengan segala emosi yang ia rasakan dan telah bercampur dengan kebencian, ia mendekati putra satu-satunya itu.


PLAK!


Satu tamparan berhasil ia berikan pada putranya itu. Tangannya yang masih bergetar, ingin rasanya ia meminta maaf pada putranya itu. Tetapi apa daya, nasi telah menjadi bubur, ia sudah pergi meninggalkan rumah itu dengan hati yang porak-poranda.


Sementara itu Lisa sangat menyesali perbuatannya barusan. Dari Kenzo kecil sampai saat ini, inilah pertama kali ia menampar Ken.


"Ma-maafkan Mama, mama melakukan semua ini demi menciptakan kebahagiaan untukmu."


.


.


..."Janganlah kau luapkan emosi yang kau rasakan ketika ia benar-benar sudah menguasai pikiranmu, tapi tunggulah sampai ia benar-benar sudah berlalu setelah beberapa saat, agar tindakan yang kau ambil tak kan kamu sesali setelahnya."...


...⚜⚜⚜...

__ADS_1


__ADS_2