
Setelah berganti pakaian, Ve bersiap untuk mengunjungi nenek di Rumah Sakit. Begitu pula dengan Salsa yang sudah sampai di rumah Al.
Salsa menekan klakson mobilnya hingga membuat satpam di rumah Al membuka gerbang rumah. Tak lupa Salsa berterima kasih karena itu.
Setelah memarkirkan mobil, Salsa segera turun lalu menekan bel pintu rumah. Datanglah seorang asisten rumah tangga di sana.
"Cari siapa, Non?"
"Alfariz ada, Bik?"
"Oh, aden Al, sebentar saya panggilkan, silakan masuk."
Sementara itu, Al sedang berjalan bersama Ve dari dalam rumah. Mereka sudah berpamitan pada Mamanya tadi. Karena Al harus mengambil kue, Ve berjalan lebih dulu.
Salsa terperanjat ketika melihat Ve ada di rumah Al. Ia bahkan sampai berdiri dari tempat duduknya.
"Veeya ... " ucap Salsa terhenyak.
Karena merasa terpanggil tentu saja Ve menoleh.
"Salsa?"
Salsa bergerak cepat mendekati Ve yang berdiri mematung.
"Ngapain kamu di sini? Bukannya rumah kamu di kolong jembatan?"
"Jaga bicaramu Sa, nggak gitu juga kali kalau nggak suka sama orang!" hardik Al yang sudah berdiri di belakang Ve sambil membawa paper bag.
Mendengar ada keributan di ruang tamu, Putri segera menyusul putranya.
"Ada apa ini?" tanya Putri heran.
"Siang, Tante," sapa Salsa mencoba bersikap manis.
"Siang," jawab Putri.
Sementara Al berdecih karena tiba-tiba Salsa bersikap manis tapi palsu. Ve yang jengah akan ucapan Salsa yang kepalang manis hanya membuang muka.
"Ada apa ini Al?"
"Kamu nggak apa-apa, Sayang," ucap Putri sambil membelai kepala Ve.
"Nggak apa-apa, Tante," jawab Ve.
Salsa yang melihat interaksi di depannya seperti kebakaran jenggot. Ingin ia menampar Ve tapi ada Mamanya Al di sana, sehingga ia harus menahan egonya lebih dalam.
Putri memandangi wajah Salsa yang kebingungan. Lalu melihat Al dan Ve.
"Loh katanya kalian buru-buru, cuzz berangkat nanti keburu sore, nggak baik anak gadis pulang malam, jangan lupa pulang sore ya."
Putri mendorong tubuh Ve dan Al secara bersama. Di saat yang sama pula, Putri memberi kode buat Al agar membawa Ve segera pergi dari rumah karena ada Salsa yang sepertinya tidak suka dengan Ve.
__ADS_1
Al pun tersenyum lalu pamit pada mamanya itu, begitu pula dengan Ve. Salsa begitu kesal karena sepertinya Mama Al juga sudah kena pelet dari Ve, bahkan kedatangannya tidak dianggap di rumah itu.
Setelah memastikan anaknya pergi, Putri kembali ke dalam rumah. Ia kembali menemani Salsa.
"Maaf ya, tadi Tante nyuruh Al sama Ve buat pergi ke rumah Neneknya. Oh ya, tumben kamu ke sini ada apa, Sayang?"
Tergambar jelas raut sedih dan kecewa di wajah Salsa. Tapi ia tetap berusaha tersenyum meski terluka.
"Kok sedih?" tanya Putri pura-pura iba.
"Sebenarnya aku ke sini mau ngajak Al buat keluar bareng, Tante. Tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat."
"Ups, maaf Sayang, Tante benar-benar nggak tahu."
"Iya, nggak apa-apa kok, Tante."
"Ya sudah, gimana kalau kamu yang temani tante bikin kue, soalnya asisten tante berhalangan jadi nggak ada yang bantu."
Seketika hati Salsa bersorak.
"Waktu yang tepat buat pedekate sama Tante nih, otewe," batin Salsa.
"Ya udah, ikut Tante yuk."
Karena senang Salsa langsung mengekor di belakang Putri. Sedangkan Al dan Ve sedang dalam perjalanan ke Rumah Sakit.
...⚜⚜⚜...
"Selamat siang."
"Siang, dokter."
"Bagaimana keadaannya, Nek?"
"Alhamdulillah sudah mendingan, dokter."
"Baik, saya periksa untuk terakhir kali, ya."
"Iya."
Setelah itu, Ken permisi untuk keluar sebentar karena dokter akan memeriksa kondisi Nenek Safa untuk terakhir kalinya. Dari arah lorong terlihat sang ayah yang mendekati tempat duduk Kenzo.
"Papa?"
Aiden menepuk bahu Kenzo.
"Bagaimana keadaan Nenek?"
"Hari ini sudah boleh pulang, kok."
"Oke, ini ada satu unit rumah atas nama Ve di daerah A, setelah nenek keluar ajak mereka pindah ke lingkungan yang baru. Di sana lebih aman dan ibu kamu tidak akan bisa menjangkaunya."
__ADS_1
Kenzo menatap nanar lelaki di depannya ini. Ada rasa kecewa yang mendalam jika mengingat kelakuan papanya, tapi ia tidak bisa berbuat banyak. Mungkin ada sebuah alasan yang tidak bisa ia ungkapkan sehingga semuanya terjadi seperti saat ini.
Melihat putranya melongo, Aiden hanya bisa menahan gejolak di dalam dadanya. Ia juga tidak bisa mengatakan semuanya saat ini. Tapi ia yakin, Kenzo tak akan lama membenci dirinya.
Selama ini Kenzo tak pernah melihat cela di dalam tubuh Aiden, sampai akhirnya sebuah kejahatan besar terbongkar di depan matanya.
"Ken, maafkan Papa."
"Untuk apa?"
"Untuk semuanya, untuk saat ini hanya ini yang bisa Papa lakukan, tapi setelah ini Papa akan mempertaruhkan segalanya untuk kebahagiaan Ve."
"Jangan sebut nama itu, jika Papa masih bersama Mama, aku yakin Mama pasti kesakitan karena ulah Papa."
"Stop Ken! Jangan ajak Papa berdebat saat ini."
Aiden terduduk di kursi tunggu, ia menatap kosong ke depan. Sampai beberapa saat kemudian terdengar derap langkah dari Ve dan Al yang sudah sampai di Rumah Sakit dan sebentar lagi akan sampai di depan Aiden.
Langkah Ve sedikit melambat ketika melihat sosok orang yang tadi siang bertemu dengannya. Masih dengan baju dan jas yang sama. Ve menatap penuh tanya ke arah Al. Al pun mengerti jika Ve akan menanyakan banyak hal setelah ini.
Sampai tak terasa mereka sudah sampai di depan kursi tunggu tempat Ken dan Aiden berada.
"Kak Ken? Kenapa ada di sini?"
Aiden yang familiar dengan suara itu segera menengadahkan kepalanya. Dilihatnya sosok Maya kembali berdiri di depannya saat ini. Oh bukan, tetapi ini Veeya, putri kandungnya.
"Veeya?"
"Siang, Om," jawab Veeya sungkan.
Ken yang tadi duduk sudah berdiri dan menyambut kedatangan Ve dan Al.
"Kamu sudah ketemu sama, Papa Ve?"
"Pa-papa?"
Ken mengangguk dan sorot matanya melihat ke arah Aiden yang saat ini juga sudah berdiri dari tempat duduknya. Ve kehilangan keseimbangan tubuhnya. Beruntung Al menopangnya.
Aiden tersenyum ramah pada dirinya. Tapi Ve tidak bisa seramah tadi. Ada kemarahan yang terlihat dari kedua matanya, menatap tajam ke arah Aiden.
Bagaimana mungkin ia bisa ramah pada lelaki yang telah merusak harga diri ibunya. Tapi Ve masih waras, ia tidak mungkin bersikap tidak sopan padanya. Lagi pula ada Ken yang berada di sana.
Ketegangan, keheningan terjadi saat itu. Tapi suara pintu yang terbuka dan menampilkan sosok dokter keluar dari ruang rawat neneknya membuat kebekuan yang terjadi sedikit melumer.
Lalu apakah yang akan terjadi setelah ini? Tunggu update selanjutnya, ya. Jangan lupa like n komennya, terima kasih.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1