
Happy reading!
.
.
"Semoga dia tidak membuat ulah di sini," doa nenek dalam hati.
Di tempat duduknya, Lisa masih menyisir kedaan di sekelilingnya.
"Kenapa mereka tidak terlihat?" batin Lisa.
Ken yang melihat Lisa masih memperhatikan sekitar, segera mengajaknya duduk, "Ma, duduk sini aja!"
"Eh, iya."
Lisa mendudukkan dirinya dibarisan terdepan, satu baris dengan tempat duduk Ve. Sayang, ia tak menyadarinya. Hanya saja mereka terpisah tempat karena jarak mereka dari ujung ke ujung.
Setelah beberapa guru dan staff duduk di barisan kursi khusus. Acara pagi itu segera dimulai, semuanya tampak hikmat mengikuti acara tersebut. Sampai akhirnya, tibalah di mana pengumuman para bintang kelas.
Satu persatu bintang kelas mulai dipanggil dan dipersilakan maju ke depan, untuk diberikan sebuah apresiasi yaitu sebuah piagam dan piala.
Awalnya semua berjalan lancar. Begitu tiba nama Veeya Nazia Raya dipanggil untuk maju ke depan, dada Lisa mulai bergemuruh. Gangguan identitas disosiatif yang ia alami mulai kambuh tanpa ia sadari. Kecemasan ditambah rasa dendam itu semakin menguasai diri Lisa.
Tangan Lisa mencengkeram erat, belum lagi giginya yang gemertak. Aiden yang menyadari itu lalu menggenggam tangan istrinya.
__ADS_1
"Kamu tenang, atau aku masukan Rumah Sakit Jiwa!" bisik Aiden tepat di telinga Lisa.
Sontak Lisa menoleh geram, "Kamu kira aku gila!"
"Ya, kamu gila karena ambisimu yang terlalu berlebihan, aku muak dengan semua topengmu!"
"Cih!"
Lisa membuang muka. Sedangkan Aiden kembali memfokuskan perhatiannya pada putrinya. Ia tak menyangka darah dagingnya sangat cerdas bahkan melebihi darah dagingnya dengan Lisa.
Sepasang suami istri itu saling memancarkan aura permusuhan. Ken yang menyadari itu menjadi waspada. Meski Lisa adalah ibunya, tetapi Ve lebih penting saat ini.
Dari arah panggung masih terdengar panggilan yang menyebutkan nama Ve agar segera maju ke depan.
"Kepada saudari Veeya Nazia Raya siswi dari kelas satu A silakan maju ke depan!"
Setelah, Ve menjadi juara umum, ternyata juara kedua diraih oleh Alfariz. Suara gemuruh dari anak-anak kelas satu A semakin bergemuruh. Mereka memberikan tepuk tangan paling meriah untuk Ketua dan Wakil Ketua Kelas satu A.
Suatu kebanggaan melihat anak didiknya berprestasi. Tanpa ia sadari, Pak Prapto sampai menitikkan air matanya. Lalu sesaat kemudian mengusapnya karena takut ketahuan siswa lain terutama anak-anak kelasnya.
Beruntung, sampai acara pemberian piala selesai, semua masih berjalan lancar. Aiden bisa menghadle Lisa. Mereka juga menjaga sikapnya, karena Kenzo menjadi juara ketiga. Aiden dan Lisa tampak meredam emosinya sesaat demi putra mereka.
Saat Ken kembali ke tempat duduknya, Lisa dan Aiden memberikan ucapan selamat kepadanya.
"Selamat, Sayang. Mom dan Daddy tidak menyangka jika kamu sangat berprestasi."
__ADS_1
"Terima kasih, Mom, Daddy."
Dari kejauhan, Al masih memperhatikan keberadaan Ken dan keluarganya. Sedangkan Dion menatap curiga pada gerak-gerik sahabatnya itu. Ada sesuatu yang mereka tutupi darinya.
"Ada apa ini? Kenapa mereka agak aneh, ya. Apa karena para orang tua mereka ikut dalam kegiatan ini?" batin Dion.
Dari tempat duduknya, Salsa mengabadikan setiap tingkah Al secara diam-diam. Senyumnya tak pernah pudar, apalagi menyangkut keberadaan Al, Salsa tak pernah bosan untuk memandangnya. Meski kedua orang tua Salsa agak risih, tetapi mereka tak menegurnya.
Suasana hari itu cukup aman terkendali. Sehingga sampai berakhirnya acara, semua warga sekolah dan para wali murid tampak bahagia dan puas dengan kegiatan tahunan kali ini. Setelah selesai, mereka segera kembali ke rumah masing-masing.
Kini suasana sekolah sudah agak sepi. Karena melihat keberadaan Ve cukup sepi dan hanya berjalan sendirian, akhirnya Lisa berlari mengejar Ve. Lisa menjambak rambutnya dengan kuat. Tentu saja hal itu membuat Ve kesakitan.
Melihat Ve dan Lisa bertarung, membuat keluarga mereka segera menghampirinya dan tak lupa melerai keduanya.
Cengkeraman erat dari Lisa membuat Ve susah melepaskan dirinya. Meski kesakitan, Ve bisa menahannya. Tapi ia tidak bisa menggunakan ilmu bela dirinya di tempat sembarangan. Apalagi ini masih di area sekolah
Namanya bisa saja tercemar karena hal itu, hingga Ve hanya meluapkannya dengan meringis kesakitan.
Dari kejauhan, Aiden, Al, Ken dan Dion segera berlari mendekati Ve dan Lisa. Mereka berusaha untuk melerai Lisa dan Ve. Awalnya mereka yang merasa mudah, tetapi ternyata memisahkan manusia itu lebih sulit datipada binatang.
Selain menjambak, Lisa juga mencakar, beruntung cakaran Lisa tidak mengenai wajah Ve dan berakhir pada punggung Al.
Perih, tentu saja perih, terlebih kuku Lisa panjang, tapi yang terpenting Ve selamat. Setelah pertolongan mereka, akhirnya Ve bisa lolos.
.
__ADS_1
.
...🌹Bersambung 🌹...