
Setelah tiga jam perjalanan, mobil yang mereka kendarai telah memasuki kawasan pedesaan.
"Kak, nanti kita berhenti di depan pasar ya, aku mau beli kembang sama beberapa keperluan untuk nyekar."
"Hu-um."
"Tapi nyekar itu apa?" tanya Al kebingungan dengan kalimat Ve barusan.
Ve menoleh ke arah Al karena ekspresi Al begitu lucu saat ini, yang tanpa ia sadari semua itu terjadi karena ucapannya barusan.
"Wkwkwk, itu, anu ... sebentar."
Tampak Ve masih menahan rasa tertawanya saat ini.
"Jadi begini Kak, aku coba jelasin ya."
Al mengangguk dengan kedua mata masih fokus ke jalan, maklum dia masih nyetir saat ini. Ve menghela nafasnya perlahan, lalu mulai menjelaskan pada Al.
"Kalau istilahnya nyekar itu biasa disebut ziarah yaitu mengunjungi makam orangtua, saudara, atau kerabat yang sudah meninggal, tapi karena aku Jawa, maka lebih sering menyebutnya dengan istilah nyekar."
"Oh gitu, makanya jangan pakai istilah yang aneh dong, aku, 'kan bukan turunan Orang Jawa asli, jadi maaf nggak ngerti."
"Iya, aku yang salah, aku minta maaf ya kak."
"Iya."
Setelah itu mereka kembali menatap jalanan di depannya. Mencoba mengusir kecanggungan yang tiba-tiba menyergap karena beberapa detik yang lalu mereka kedapatan saling mencuri pandang satu sama lain.
__ADS_1
Lalu karena Ve merasa sudah dekat dengan lokasi pasar, ia pun mulai mengingatkan Al jangan sampai melaju dengan cepat karena jaraknya sudah terlalu dekat. Takutnya nanti kelewatan dan harus putar balik.
"Eh, kalau nggak salah ingat, di depan itu kak pasarnya, kita berhenti sebentar, ya."
"Oke."
Beberapa saat kemudian, Al dan Ve sudah memasuki pasar untuk membeli bunga dan beberapa makanan ringan untuk mengganjal perut mereka yang lapar. Tetapi entah kenapa tiba-tiba Ve memegangi kepalanya yang berdenyut. Sesaat Ve merasakan jika hal seperti ini pernah ia alami sebelumnya. Tapi untuk kapan dan tempanya Ve tidak tahu alias masih lupa.
"Kenapa Ve? Sakit lagi?" tanya Al yang menangkap gelagat aneh dari Ve.
"Sedikit."
Al menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari tempat beristirahat sebentar. Setelah melihat warung yang cocok, ia pun mengajaknya ke sana.
"Kita ke warung sebelah sana dulu gih, buat makan siang."
"Buk, pesan satu gelas teh hangat ya."
"Iya, Mas. Sebentar ya
"Minum Ve, siapa tau bisa enakan dikit, oh ya kamu mau makan apa? Biar aku pesankan!"
"Eh, nggak usah kita pergi aja."
"Nggak apa-apa lagi!"
"Kakak nggak keberatan makan di tempat seperti ini?" tanya Ve memelankan suaranya.
__ADS_1
"Iya, yang penting kamu nggak kenapa-napa."
Ve tersenyum. Lalu benar saja, sesaat kemudian, Al membawa dua buah piring berisi nasi plus lauknya yang menggugah selera.
Dengan telaten, Al menyuapi Ve makan lalu bergantian dengan dirinya. Kalau dilihat dari sudut mana pun, Al terlihat berbeda dari sikap yang biasa ia temui di sekolah. Ada kehangatan dari setiap perhatian yang Al berikan padanya.
Setelah cukup kenyang, Al membayar tagihannya lalu mengajak Ve pergi. Untung saja sebelum Ve pusing, ia sempat membeli bunga untuk nyekar. Sehingga saat ini mereka bisa melanjutkan perjalanannya dengan tenang.
Setelah empat jam perjalanan, akhirnya mobil yang mereka kendarai telah sampai di lokasi. Ve segera membuka kaca mobilnya lalu segera turun diikuti oleh Al.
Di tangannya sudah membawa sebuah keranjang bunga. Sebelum masuk makam, Ve mengambil air wudhu lalu masuk ke dalam area makam tanpa mengunakan alas kaki. Hal itu juga dilakukan Al, lalu sesudahnya ia berjalan di belakangnya.
Setelah beberapa saat berjalan, Ve mulai berhenti. Di depannya kini nampak sepasang makam yang berdampingan kiri dan kanan. Sebelum menabur bunga, Ve mencabuti rumput-rumput liar yang ada disekitar makam kedua orang tuanya. Setelah dirasa bersih, ia mulai menaburkan bunga-bunga segar di atasnya.
Untuk beberapa saat, Ve memanjatkan doa dengan kedua matanya yang tertutup. Suasana begitu hening hingga membuat suasana begitu hikmat saat itu.
"Ma, Pa, ini Ve. Kali ini aku datang bersama temanku, maaf jika sudah lama sekali Ve tidak mengunjungi kalian. Tetapi untaian doa selalu Ve panjatkan untuk kalian."
Mata yang sebelumnya berbinar kini terlihat sedu, memendam kerinduan yang amat dalam tapi tak bisa tersalurkan. Hingga hanya kedua mata Ve yang terlihat agak basah saat ini
.
.
Sambil nunggu up jangan lupa mampir di karya Kak Anggraeni.arp dengan judul Papa merindukannya.
__ADS_1