
Happy reading all😘
Bukannya berterimakasih, Al malah pergi meninggalkan Ve bersama Darren. Ia lebih memilih menenangkan ibunya yang menangis dan membawanya ke kamar.
Di tengah kecanggungan itu, Ve memilih pergi dan kembali ke ruang tamu. Beberapa saat kemudian, Darren menyusulnya ke ruang tamu. Karena rasa penasaran yang cukup tinggi terhadap kehadiran Ve. Darren mulai mengulik kehidupan Ve.
"Sorry, kamu sebenarnya ada hubungan apa dengan adik saya?"
Karena Ve yang cerdas ia mampu dengan cepat mengetahui arti dibalik pertanyaan barusan.
"Cuma teman sebangku, Kak. Memangnya kenapa ya?"
Dari cara berbicara Ve, ia sudah tau kalau Ve bukanlah gadis sembarangan. Oleh karena itu ia pun semakin mencecar Ve dengan berbagai pertanyaan. Tak mau bertele-tele, Darren langsung melanjutkan misinya.
"Masalahnya selama ini, Al jarang dekat sama cewek, kok bisa-bisanya dia membawa pulang kamu ke rumah ini."
Ve menunjukan rasa tidak nyamannya akan tuduhan Kakak Al barusan, apalagi ia belum tau betul karakter pemuda di depannya itu. Ve pun menyusun kalimat yang tepat agar Al juga tidak akan terpojok pada akhirnya.
"Memangnya kenapa ya, Kak? apa teman satu kelas Kak Al tidak boleh main ke sini?"
"Bukan, karena adik saya nggak suka dekat dengan cewek, tentu saja aku heran dong!"
"Oh, bukankah kakak baru saja kembali dari luar negeri, mungkin selama kakak tinggal di sana, sikap adik kakak sudah berubah."
Darren mulai memikirkan perkataan Ve barusan. Tak berapa lama kemudian, Al muncul dari belakang. Tanpa menyapa Darren, Al mengajak Ve untuk pulang. Ditariknya lengan Ve agar gadis itu mengikuti langkahnya.
Sayangnya Ve berontak, ia merasa tidak sopan karena belum berpamitan pada ibu dan kakaknya.
"Eh, sebentar Kak, aku lom pamit sama ibu dan kakak kamu," seru Ve mencoba melepas tangan Al.
Tentu saja itu membuat Al menoleh dan memandang tajam ke arahnya. "Gak usah pamit sama Mama, lagian Mama yang nyuruh aku buat antar kamu sekarang!"
"Owh," ucap Ve dengan mengangguk.
"Tapi kakak kamu?"
"Nggak usah dipikirin, anggap aja dia nggak ada!" seru Al dengan nada meninggi.
__ADS_1
Ve pun mengedikkan bahunya lalu segera naik ke atas motor Al. Dari kejauhan, Darren melihat mereka berdua. Tak berapa lama kemudian, ia menghubungi Bella, kekasih hatinya.
Kring ....
"Hallo, sayang."
"Hai, tumben kamu telepon, ada apa?"
Tak butuh waktu lama, Bella segera mengetahui hal itu. Lalu ia pun berjanji untuk segera menyelidiki hal itu. Setelah memastikan dengan baik, Darren memutus sambungan teleponnya.
"Kita lihat sampai di mana kamu dekat dengan gadis itu, Al!"
🍃 Keesokan harinya.
Bella mempunyai banyak teman di sekolah. Hal itu membuatnya mudah untuk menyelidiki hal sekecil tentang Ve. Bahkan tak butuh waktu lama, ia tau kalau Ve adalah anak pemilik kedai rujak, ia juga seorang yatim piatu.
Hal itu membuatnya menjadi bahan bully-an di sekolahnya. Apalagi di sekolah elit seperti itu. Kesenjangan sosial masih terlihat kentara di sana.
Mulut anak-anak di usia Ve sangat pedas ketimbang mulut julid tetangga. Terlebih anak jaman sekarang yang melek akan teknologi membuat bahan bully dapat menyebar dengan cepat melalui sosial media.
Sayangnya Ve tidak punya ponsel, hingga ia tidak tahu kalau rumor yang beredar tentang dirinya sudah memenuhi halaman beranda sekolah di sebuah situs online milik SMA TUNAS BANGSA.
Tentu saja Al yang aktif sebagai calon KETOS dengan mudah mengakses berita itu. Ia pun tau kalau pasti ada yang tidak suka dengan keberadaan Ve. Tetapi yang mengetahui jati diri Ve hanya dia dan Kenzo. Mana mungkin Kenzo yang melakukan ini!
Sementara itu, Ve kebetulan ingin pergi ke kantin. Kebetulan saat itu ia pun diajak Luna ke sana untuk sarapan pagi. Di sepanjang perjalanan, Ve melihat tatapan anak-anak memandang rendah dirinya. Bahkan tak jarang ada yang mengatakan kalau anak penjual rujak nggak pantas bersekolah di sini.
Ia pun acuh terhadap hal itu, sayangnya saat melewati papan mading, terpampang jelas wajah Ve yang dipajang di sana dengan caption "Anak penjual rujak."
Pantas saja perasaanya nggak enak sedari tadi. Ve memilih untuk kembali ke kelas dan makan bekal miliknya.
"Loh, Ve, mau kemana?" tanya Luna heran karena Ve memutar arahnya.
"Enggak jadi ke kantin, balik ke kelas aja!"
"Maaf ya, Lun, kayaknya aku nggak jadi menemani kamu ke kantin, maaf."
"Nggak apa-apa kok Ve, sans aja. Ya sudah aku temani kamu balik."
__ADS_1
Akhirnya mereka tidak jadi ke kantin. Lalu kedua remaja tadi mengurungkan niatnya untuk kembali ke kelasnya. Tetapi sayang, di sepanjang jalan menuju kelasnya, anak-anak itu masih saja menghina dan mengejek kalau dirinya tidak layak sekolah disana. Tentu saja Ve tidak terima, dan ia berjanji akan membuktikan kalau ia juga layak sekolah disana.
Luna pun ikut kesal karena bully-an masih terjadi di lingkungan sekolahnya.
"Aku janji, bakal bantu kamu, Ve," ucap Luna dalam hatinya.
Belum lagi reda gosip yang beredar kalau Ve anak penjual rujak. Kedekatannya dengan Al juga disalah artikan dan bahkan menjadi gosip selanjutnya di sekolah. Hampir setiap hari gosip tentangnya semakin beredar luas. Tetapi hal itu malah membuat Ve terkenal seketika di sekolah.
Di saat yang sama, ada siswa baru yang datang dari luar negeri. Kebetulan pula ia masuk ke kelas Ve, Dion namanya. Pemuda itu memang sudah lama tinggal di luar negeri.
Karena kedua orangtua Dion sudah tidak bertugas di sana, mereka memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Begitu pula dengan study Dion yang terpaksa harus ia lanjutkan di Indonesia.
Mungkin karena kebiasaan Dion yang hidup bebas di luar negeri, membuat ia menjadi berandalan ketika di sekolah. Hal itu tentu dimanfaatkan oleh Salsa.
"Sa, dia cocok nih dijadikan partner buat ganggu Ve."
Salsa pun mengangguk. Lalu ia mendekati Dion.
"Hai, kenalkan aku, Salsa."
Dion segera meraih uluran tangan Salsa dan berkenalan dengannya.
"Dion."
Sejak saat itu mereka mulai dekat. Tentu saja Dion senang karena ia mendapat teman baru yang cantik dan seksi seperti Salsa.
Tak lupa, Salsa mulai membuat Dion selalu mendukung setiap tingkahnya di sekolah. Salsa juga mengajak Dion ikut serta mengerjai Ve.
Sayangnya Ve adalah gadis yang tangguh, sehingga ia pun dengan mudah melawan Dion dan Salsa. Terkadang ada Al yang diam-diam membantunya dari belakang.
"Meski kamu bukan siapa-siapa gue, tapi aku juga nggak bakal tega liat kamu digituin sama Salsa," gumam Al.
...🌹Bersambung🌹...
Oh ya jangan lupa dukungan like, rate dan favorit ya kak. Jangan lupa 🌹☕ dan VOTE untuk menyemangati Author, makasih banyak🙏🤗
Sambil nunggu up, mampir di karya teman Fany yuk
__ADS_1