
...⚜⚜⚜...
...SMK TUNAS BANGSA...
Selama pelajaran berlangsung, Ve sama sekali tidak melirik pada Al. Sedangkan perasaan Al sama sekali tidak enak sejak Ve meninggalkannya di parkiran tadi pagi. Bahkan saat istirahat pun, Ve juga tidak mengajaknya.
Ingin rasanya Al mengumumkan jika ia dan Ve sudah pacaran, tapi Ve memberinya satu pilihan yang sulit. Hanya berdekatan dengannya di sekolah saja, Ve sama sekali tidak memberinya kesempatan sama sekali.
Tentu saja hal itu membuat mood Al tiba-tiba menjadi tidak baik-baik saja. Jam istirahat ini harusnya ia bersama Ve bukan bersama Salsa, tetapi ternyata justru Salsa yang kini bersamanha dalam satu meja makan. Sementara Al sama sekali tidak melihat keberadaan Ve.
"Sedang dimana sih, Sayang. Aku kangen tau," batin Al sambil mengaduk es jeruk di depannya itu.
Salsa yang merasa diacuhkan sejak tadi pun merasa jengah, tetapi ia tetap berusaha imut dan bersikap sabar demi mendapatkan perhatian dari Al. Ia tidak boleh bersikap seperti sebelumnya agar Al kembali ke dalam pelukannya. Dengan sangat hati-hati Salsa mulai berbicara.
"Al, kenapa murung sih, sejak tadi aku perhatikan kamu banyakan melamun ketimbang menikmati kebersamaan kita."
Mau bagaimanapun Salsa berbicara, Al sama sekali tidak menggubrisnya. Lama kelamaan Salsa juga merasa sabarnya berbatas, sikap Al yang seperti ini akhirnya membuat Salsa geram.
"Al, ngomong dong, masa dari tadi diem aja, sih!"
"Percuma juga kalau begini. Buat apa mau diajak ke sini kalau cuma diam-diam aja. Al kamu keterlaluan!" ucap Salsa yang kemudian berdiri meninggalkan Al sendirian di kantin.
Al memandang jengah ke arah Salsa. Akhirnya unek-uneknya keluar juga.
"Sejak tadi kek perginya," batin Al bahagia.
Setelah Salsa pergi, Al segera menenggak habis minumannya lalu berusaha untuk kembali ke kelas secepatnya. Baginya berduaan bersama Salsa lama-lama, membuatnya kadar kebahagian dirinya berkurang drastis. Tujuannya hanya satu, mengatakan kebenarannya pada Ve agar tidak terjadi salah paham diantara mereka berdua.
"Lebih baik bareng Ve, daripada sama kamu kaya bumi dan langit yang gak bisa bersatu."
Langkah kaki Al begitu cepat, sehingga tidak butuh waktu lama, ia sudah sampai di kelasnya, tetapi saat pandangannya menyapu seisi kelas ia tidak menemukan keberadaan Ve.
"Di mana dia?"
Tidak lama kemudian bel tanda masuk kelas berbunyi, semua siswa sudah berhamburan kembali ke kelas masing-masing. Begitu pula dengan Ve dan Al. Ve yang baru saja tiba sempat dicekal Al saat mau memasuki kelas. Di depan pintu kelas, mereka sempat beradu pandang untuk beberapa detik. Belum lagi kedua tangan Al yang memegang bahu Ve sejenak membuat anak-anak bersorak.
"Acie ... cie ... uhuk!"
"Pandangan pertama saat aku berjumpa, ehek!"
"Uhuy, Pak Ketos sama Bu Wakelas kenapa diem-diem di situ, saling tersepona, 'kah?"
Begitulah euforia yang terlihat ketika melihat sepasang anak laki-laki dan perempuan yang saling berpandangan dan terlihat malu-malu, membuat siswa lain yang melihatnya seperti baru saja menikmati drama korea di sekolah. Sehingga tanpa mereka sadar, mereka telah bersorak gembira.
Sayangnya, tidak berapa lama kemudian, wali kelas mereka tiba-tiba datang dan berdiri di belakang Ve dan Al.
"Pagi-pagi sudah bersikap romantis, tidak sadarkah mereka, jika sikap kalian itu membuat hati jones seperti saya meronta. Kalian sungguh terlalu," batin Pak Prapto.
Demi membuyarkan lamunan kedua remaja di depannya ini, ia sengaja batuk dengan suara yang cukup keras.
"Uhuk!"
Suara batuk dari wali kelasnya membuat Ve dan Al memutus ikatan kontak mata diantara keduanya. Tangan Al segera terlepas dari bahu Ve ketika melihat pelototan tajam dari Pak Prapto. Lalu sesaat kemudian mereka segera masuk kelas dan duduk di meja mereka.
"Untung aja duduk sebangku, kalau enggak, nggak bisa curi-curi kesempatan kayak gini deh."
Bagaimana bisa seorang Waketos yang terlihat cool dan anti cewek selama satu tahun bisa bersikap seperti ini? Belum lagi tiba-tiba tangan Al menggandeng salah satu tangan Ve di bawah meja, hingga sukses membuat Ve menoleh dan melihatnya kembali.
"Kangen, sayang. Biarin seperti ini, ya?" arti sorot mata Al yang memandang mesra Ve.
__ADS_1
Ve yang baru saja menjadi pacar Al pasrah dengan sikapnya barusan, tetapi di dalam hati ingin sekali memberi pelajaran pada Al tentang attitude berpacaran jika sedang berada di area sekolah.
Tapi suasana kelas masih bergemuruh, apalagi mereka melihat keuwuan yang diciptakan Ve dan Al masih berlanjut hingga di tempat duduk mereka. Hal itu sukses membuat Pak Prapto mengencangkan dasi miliknya sambil berdehem dengan keras.
"Uhuk, uhuk!"
Anak-anak masih tidak merespon, hingga suara menggelegar keluar dari tempat duduk Pak Guru.
"Diaaaammmm!"
Sontak saja suasana kelas menjadi hening. Mata mereka saling beradu lalu fokus ke satu titik, yaitu tempat dimana wali kelas mereka berada. Tidak berapa lama kemudian, akhirnya pelajaran bisa dilanjutkan kembali.
Saat ini Ve masih merapikan buku-buku yang ia bawa dari perpustakaan tadi, sementara Al masih asyik memandangnya.
"Oh, tadi ke perpus, pantes nggak ngajak aku," batin Al.
Tetapi Ve segera meluruskan pandangannya ke depan dan kembali duduk manis di kursinya ketimbang memikirkan kelakuan Al dan Salsa seharian ini. Ada rasa cemburu yang hinggap tetapi ia tidak bisa berbuat banyak tentang hal itu
Ve masih terlalu awam untuk pacaran sehingga saat ini ia membiarkan kedekatan Al dan Salsa masih berlanjut. Meski rasa cemburu itu ternyata masih ada tetapi Ve berdamai dengan perasaannya.
Andai ada Kenzo di sekolah, ia bisa membalas semua ini secara langsung. Sayang, ia sudah keluar dari sekolah. Ada sedikit kerinduan jika mengingat Kenzo, terlebih sebelum ini siswa yang selalu membuatnya betah ketika berada di sekolah hanya Kenzo seorang.
"Ken, jika saja kamu masih di sini, tentu ada sedikit kebahagian untukku," batin Ve sambil melihat penjelasan materi dari Pak Prapto.
Meski begitu rasa kangen pada Kenzo masih belum terobati, ingin rasanya bercerita panjang padanya lagi. Mungkin karena rasa rindu yang tidak terbendung membuat sekelebat bayangan Kenzo terlihat tersenyum di papan tulis. Hal itu sukses membuat Ve mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali.
"Bayangin apa sih, gue. Veeya fokus pada pelajaran kembali, please," batin Ve.
"Menahan rindu itu berat, biar Dilan aja deh yang menanggungnya, aku nggak kuat, hiks."
Sementara Al yang sejak tadi mencuri pandang pada Ve sedikit heran akan tingkah lakunya barusan.
"Veeya kenapa sih, kok gitu," batin Al penasaran.
Akhirnya pelajaran telah usai. Sejak pendemi virus corona merebak, jam sekolah tatap muka dikurangi oleh pihak sekolah.
Pihak sekolah mewajibkan siswanya untuk mematuhi protokol kesehatan yang diberlakukan oleh pemerintah. Setidaknya agar bisa mengurangi dampak perkembangan virus tersebut. Begitu pula dengan peraturan dari tempat Ve sekolah yang sangat mematuhi kebijakan pemerintah.
Saat ini Ve sudah mengemasi seluruh peralatan dan buku sekolah miliknya. Begitu pula dengan Al yang juga sudah selesai, mereka pun mengulas senyum bersama lalu keluar dari kelas menuju tempat parkir.
Ve masih bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, tetapi di dalam hati Al, ia masih sedikit kurang nyaman dengan tatapan Ve barusan. Belum lagi sikapnya yang belum mengucapkan sepatah kata pun padanya.
Gerak-gerik Ve dan Al yang kembali bersama menuju tempat parkir membuat Salsa berpikir dua kali untuk mencelakai Ve. Ia hanya bisa mengepalkan tangannya ketika melihat interaksi Ve dan Al.
"Sebenarnya kalian ada hubungan apa sih, kok aku makin nggak suka akan kedekatan kalian?"
🍂Di dalam mobil.
"Langsung pulang, 'kan Kak?" tanya Ve ketika masuk mobil.
"Maybe yes, maybe no."
"Dih, kok gitu, kan tadi perjanjiannya langsung pulang."
"Iya Tuan Putri tapi nanti dulu ya, perutku laper banget nih."
"Hm, terserah deh, yang penting jam berkunjung ke Rumah Sakit enggak berkurang."
"Asiap, cantikku."
__ADS_1
"Dih, mulai nggombal, nggak suka ih."
"Trus sukanya apa dong?"
"Kedondong, wkwkwkwk."
"Ngeles aja."
"Biarin."
"Iya, aku ngalah deh."
Setelah cukup lama berdebat, ada senyum terukir di wajah Al. Mobil yang dikendarai Al sudah hampir sampai di sebuah cafe. Kali ini ia memang sengaja mengajak Ve kesana karena ingin memberikan kesan pacaran pertama pada Ve. Ia juga berniat untuk meminta maaf atas semua kelakuannya hari ini di sekolah.
Meski ia tidak mengatakan secara langsung, tetapi Al bisa melihat kecemburuan dari mata Ve. Oleh karena itu, Al akan membuat kembali senyuman indah Ve kembali.
Sementara itu, setelah bertengkar cukup hebat dengan istrinya Lisa, Aiden menurunkan Lisa di tengah jalan, lalu setelahnya Aiden meninggalkannya dan pergi ke sebuah cafe.
Sebuah cafe yang sama dengan tempat Al dan Ve singgah. Di dalam cafe, Al sudah memesankan menu makan siang untuk mereka berdua. Saat ini mereka sedang asyik menyantap makan siangnya berdua.
Secara tak sengaja salah satu pelayan menabrak Aiden hingga jas yang ia pakai terkena coffe yang tumpah. Sehingga ia berdiri tepat di samping meja Al dan Ve.
Al yang sangat hafal dengan wajah ayahnya Ken menyapa Aiden.
"Om, Aiden?" sapa Al.
"Alfarizi ..."
"Iya, Om, selamat siang."
"Selamat siang, tumben Om ke sini."
"Iya, mumpung lagi di Jakarta pengen maen ke sini."
"Kamu sendiri sedang apa?" tanya Aiden yang belum menyadari jika Ve berada di situ.
"Lagi makan siang dengan Ve, ayo gabung Om."
"Boleh."
Lalu sambil membersihkan jas yang ia pakai ia duduk di samping Ve.
"Siang Om," sapa Ve ramah.
"Si-siang."
Aiden tertegun sejenak melihat wajah Ve yang sangat mirip dengan Maya.
"Veeya?"
"I-iya, maaf Om siapa?"
Al baru sadar jika Ve belum menyadari jika lelaki di depannya itu adalah ayah kandungnya.
"Apakah aku salah datang ke tempat ini?" batin Al melihat interaksi anak dan ayah tersebut.
Sementara Aiden masih betah membisu. Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya ya? Apakah Aiden akan mengakui jika ia adalah ayahnya ataukah Al yang akan membantu Aiden menjelaskan semuanya. Kita tunggu part selanjutnya ya.
.
__ADS_1
.
...🌹Bersambung🌹...