MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU

MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU
SALSA TERJEBAK


__ADS_3

Dion mengerlingkan matanya ke arah Ve, tetapi lain halnya dengan Ve yang membalasnya dengan senyum malas.


"Dasar playboy cap kadal," cibir Ve.


Entah kenapa Ve yang biasanya kalem mendadak jadi bar-bar sejak pengakuan Dion kemarin. Apalagi saat ia mengetahui kalau dia adalah sahabat masa kecilnya.


Demi melancarkan semua rencananya, tanpa diketahui Al dan Salsa, Ve mengendap-endap keluar kelas. Secepat mungkin Ve berlari ke arah rooftop, lalu bersembunyi di balik ruang gudang. Tak lupa satu kamera pengintai ia bawa. Sebuah alat yang akan ia gunakan untuk merekam semua kejadian siang itu.


Beruntung postur tubuh Tristan agak mirip dengan Al, sehingga ia pun menyamar menjadi Al palsu. Kini ia berdiri membelakangi pintu masuk rooftop, sambil menunggu Salsa datang.


"Semoga aja si Salsa nggak tahu kalau itu aku," doa Tristan dalam hati.


Di kelas, Salsa sudah selesai membetulkan make up miliknya. Kini ia bersiap sendirian naik ke rooftop sesuai perintah Al. Dalam perjalanan esekali ia membetulkan poni dan rambut miliknya.


"Hm, udah perfect belum ya?" tanya Salsa dalam hati sepanjang perjalanan ke rooftop.


Sesampainya di rooftop ia sudah bisa melihat punggung Al, hingga hati Salsa bergetar hebat karena hal itu.


"Hai, Al, apa kabar?" tanya Salsa bahagia dan berhambur memeluk tubuhnya dari arah belakang.


Sementara Al yang asli sudah selesai mencoba seragam basket miliknya, dan bersiap mencari seragam putih miliknya. Seingatnya, tadi ia melepas seragam bagian atasnya ia letakkan di sebuah kursi. Tetapi di saat ini baju seragamnya tidak ada di tempat. Kalau istilah kerennya hilang.


Panik nggak, ya iyalah masa enggak sih? Apalagi ini baru pertama kali dialami oleh Al.


"Perasaan tadi aku taruh sini, kenapa bisa hilang?" tanya Al.

__ADS_1


Kalau bukan karena diminta oleh guru pembimbing, ia juga tidak akan datang ke ruangan olahraga dan melepas bajunya. Tetapi kehilangan seragam putihnya membuat ia sedikit kalang kabut. Memang ini masih jam istirahat, tapi sebentar lagi pasti bel masuk akan berbunyi.


Tadi ia memang diminta datang ke ruang olahraga bersama beberapa siswa lain calon tim basket yang baru. Tapi Tristan tau akan hal itu, ia pun yang memberi ide pada Ve dan Dion agar melakukan trik ini.


Karena Tristan sudah tau hal itu, maka ia pun meminjam baju Al dan memakainya lalu pergi ke rooftop tanpa meminta ijin pada pemiliknya.


"Bau badan Al memang begitu maskulin." Batin Salsa ketika selesai memeluk tubuh Al.


"Hm, sebenernya aku sangat sayang sama kamu, apakah kau juga merasakan hal yang sama padaku?" ucap Salsa yang semakin berdebar.


Al palsu mengangguk perlahan.


Melihat kebingungan yang terjadi pada Al, sisa tim basket mendekatinya. "Ada apa?"


"Ha-ah, hilang, masa?"


Al mengangguk. Sementara itu di rooftop, Salsa semakin bergelayut manja di lengan Al. Ia bahkan mengutarakan semua isi hatinya. Lalu Al palsu meminta agar ia mengakui semua kejahatannya yang telah ia lakukan pada Ve.


"Untuk apa?"


"Jika kamu memang mau jadi kekasihku, maka kamu harus berteman akrab dengan semua temanku. Itu artinya jika kamu pernah berbuat salah maka kamu harus jujur dan meminta maaf pada mereka."


"Em, oke kalau begitu."


"Ya, memang semua hal yang aku lakukan pada Ve adalah rencanaku karena aku nggak suka kalau Ve dekat dengan kamu."

__ADS_1


"Kamu hanya milikku seorang Al, nggak ada laki-laki lain yang mampu meluluhkan hatiku."


"Dasar gadis gila, lagi pula siapa yang suka dengan Al, aku cuma kebetulan dekat itupun tak berarti aku suka," batin Ve.


"Al, nggak asyik tau kalau kamu membelakangi aku sedari tadi," gerutu Salsa.


Hingga saat Tristan berbalik, Salsa kaget luar biasa.


"Ka-kamu, ngapain kamu di sini?" ucap Salsa terbata.


Lalu dari arah pojok, Ve keluar.


Prok ... prok ... prok


Ve bertepuk tangan, "Oh, jadi dalang di balik semua ini, kamu?"


"I-iya, kenapa? Nggak terima?"


"Kenapa kamu sangat membenci aku, bukankah kita ngggak pernah ada dendam sebelumnya, lalu kenapa kamu seperti ini?"


"Suka-suka aku lah."


Dari arah pintu muncul Dion yang juga bertepuk tangan. "Oh, jadi begini cara kamu berteman? sungguh wanita rubah!"


"Jaga mulut kamu!"

__ADS_1


__ADS_2