MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU

MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU
Bab 107. ARTI SAHABAT


__ADS_3

Saat suara monitor terus berbunyi nyaring, para tenaga medis terus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan Ve. Belum lagi mereka harus menunggu transfusi darah dari Ken dan Aiden.


Beruntung golongan darah Aiden dan Ken sesuai dengan golongan darah Ve, sehingga dengan cepat mereka mengambil darah dari Aiden dan Ken. Mungkin inilah yang dinamakan takdir. Sebuah takdir yang membawa mereka menjadi suatu keluarga di waktu yang tepat


Setelah mendapat yang dibutuhkan di ruang operasi, perawat wanita itu segera masuk ke ruang operasi. Sesaat kemudian mereka segera melakukan transfusi darah. Memastikan kondisi Ve mulai stabil. Operasi kembali dilanjutkan.


Dua jam telah berlalu, para tenaga medis terus berpacu dengan waktu, sambil sesekali melirik pada salah satu monitor untuk memastkan bahwa kondisi Ve membaik. Beruntung masa kritis telah usai, sehingga mereka semua kini bisa bernafas lega.


"Alhamdulillah, operasi berjalan lancar."


"Alhamdulillah," seru tenaga medis lainnya.


Operasi yang dilakukan mereka berhasil, kini Ve sudah lolos dari masa kritis. Semuanya kini bernafas lega. Kepala dokter yang memimpin operasi keluar dari ruangan operasi. Saat ia keluar, beliau disambut oleh Al yang berdiri langsung dari tempat duduknya.


"Bagaimana keadaan gadis di dalam tadi, dok?" tanya Al dengan wajah khawatir.


"Alhamdulillah operasinya berjalan lancar, kini pasien akan dibawa ke ruangan transisi untuk memudahkan memantau kondisi pasien."


"Alhamdulilah," seru yang lainnya.


Belum sempat Al bertanya lebih lanjut tentang kondisi Ve, brankar Ve sudah didorong melewati tubuhnya. Benar saja, setelah kepala dokter tadi keluar dari ruang operasi, tubuh Ve yang berada di atas brankar segera dipindahkan ke ruangan transisi. Beberapa tenaga medis tampak mengiringi kepergian tubuh Ve. Begitu pula dengan dirinya yang juga mengikuti kemana mereka pergi.


Saat tenaga medis sudah berhasil membawa masuk tubuh Ve ke dalam ruangan transisi, terpaksa Al hanya bisa melihatnya dari sisi luar jendela. Begitu pula dengan anggota keluarga Ve yang lain. Sementara itu Aiden dan Ken baru saja sampai di sana.

__ADS_1


Ken menepuk bahu Al, "Bagaimana kondisi Ve?"


"Alhamdulilah Ve selamat, dia sudah berhasil melewati masa kritis."


"Alhamdulilah, kalau begitu kamu istirahat dulu, biarkan aku yang menjaganya."


"Tidak usah, kamu yang seharusnya beristirahat, kata dokter bukankah kamu harus banyak beristirahat juga."


"Iya, tapi aku mohon kamu jangan keras kepala. Ve tidak suka dengan sikapmu yang seperti ini."


Al masih tampak menunduk memandang ke bawah dan mencoba mencari sebuah ketenangan di sana.


Ken kembali menepuk pelan bahu Al, "Sebaiknya ikut aku ke mushola, kita berdoa bersama-sama untuk kesembuhan Ve."


Tanpa berkata-kata, Al mengikuti ajakan Kenzo untuk beribadah. Ia seperti tersihir akan ucapan Ken barusan. Dengan langkah perlahan kedua remaja tadi menuju musholla di lantai paling atas di Rumah Sakit tersebut.


Tidak disangka Aiden dan Lisa juga mengikutinya dari arah belakang. Namun tujuan mereka berbeda. Karena Lisa mengajak Aiden untuk makan siang yang terlambat. Ken menoleh ke arah kedua orang tuanya.


"Pa, Ma, aku ke mushola dulu," pamit Ken pada Aiden dan Lisa.


"Iya, Nak."


"Tolong jaga Ve selama kami pergi."

__ADS_1


"Sip, tanpa kamu minta, Mama akan selalu menjaganya, tapi Mama juga minta ijin mau bawa papa kamu ke kantin dulu."


"Iya."


"Nanti kami menyusul ya."


"Siap Ma."


Lalu kedua pemuda melanjutkan langkahnya menuju musholla terlebih dahulu. Karena setelah beribadah niscaya hati akan lebih tenang.


Al mengambil air wudhu, membasuhnya tubuh dengan air wudhu ternyata menyegarkan. Seusai berwudhu, Al berjamaah dengan Ken. Wajah meneduhkan Ken membuat Al bangga memiliki teman seperti dirinya. Ia merasa malu, ternyata Ken jauh diatasnya. Pantas saja, Ve lebih memilih bersamannya ketimbang menemui dirinya yang sedingin es.


"Terima kasih, Al. Kamu memang sahabat terbaik," batin Al.


Kini kedua remaja itu berdoa untuk kesembuhan Ve. Tidak ada hal yang lebih menenangkan ketimbang menyertakan Allah di setiap langkah hidupnya.


Seusai beribadah, Ken mengajak Al untuk makan di kantin.


"Maaf ya, selama ini aku sudah salah paham kepadamu," ucap Al lirih.


"Tidak apa-apa, yang penting aku sudah mempercayakan Ve kepadamu."


"Terima kasih untuk kepercayaan yang telah kau berikan padaku, Ken. Aku berjanji akan selalu menjaga Ve seumur hidupku."

__ADS_1


Ken sedikit lega ketika melihat kesungguhan Al di dalam kedua bola matanya.


"Semoga kalian bahagia selalu. Aamiin."


__ADS_2