
Akhirnya hari yang ditunggu telah tiba. Hari dimana hampir keseluruhan siswa kelas satu sangat menantikan datangnya hari itu.
Di depan sekolah, sudah ada empat bus besar yang berbaris rapi. Bus yang akan mengantarkan para siswa kelas satu SMA TUNAS BANGSA untuk pergi camping ke daerah pegunungan yang berada di salah satu kota istimewa.
Setelah mengikuti upacara keberangkatan, satu persatu siswa mulai menaiki bus masing-masing. Kali ini mereka terbagi menurut kelasnya. Satu buah bus untuk siswa satu kelas. Otomatis Ve akan terpisah dengan Ken.
Sebelum berpisah, Ve dan Ken sudah saling bertukar pesan dan saling menyemangati satu sama lain.
📱My Quen Ve
"Jangan lupa berdoa kakak, sampai ketemu di tempat tujuan, semoga selalu happy selama perjalanan. Aamiin."
📱My King Kenzo
"Oke baby, kamu juga ya, hati-hati selama perjalanan, jangan nakal and may you always be happy during this journey. Aamiin."
Setelah meletakan ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku, beberapa saat kemudian bus segera berangkat. Tepat pukul delapan pagi, bus yang berjumlah empat buah itu melaju di tengah jalanan Ibu Kota, membelah hiruk pikuk perkotaan, hingga satu jam kemudian rombongan telah keluar dari area Ibu Kota.
Pemandangan yang tadinya hanyalah gedung-gedung tinggi, kini telah berganti dengan hamparan sawah dan beberapa rumah kecil yang berjajar rapi di pinggir jalan. Menyejukkan mata karena saat ini hamparan sawah yang masih hijau itu sedikit memberikan ketenangan di hati para siswa.
Kali ini Ve duduk dekat dengan Luna, sedangkan Al duduk dengan Tristan, Dion dengan siswa lain. Agar suasana tidak membosankan, Pak Prapto mempunyai sebuah ide.
"Pagi anak-anak?" sapa Pak Prapto.
"Pagi, Pak."
"Agar suasana tidak terlalu membosankan, bagaimana kalau kita bernyanyi dan berkaraoke di dalam bus?"
Anak-anak sama sekali tak merespon, sampai akhirnya Al maju dan memberikan solusi lain.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita bermain quis aja?" usul Al.
Para siswa yang sebelumnya mengabaikan kehadiran Pak Prapto segera memandangnya. Kini semua perhatian tertuju pada Al. Lalu sesaat kemudian mereka mengangguk setuju.
"Benar-benar beda ya, aura orang tua sama cogan beda banget, beh!" seru Pak Prapto sambil memandang Al.
"Oke, karena kegiatan ini tanpa persiapan, maka hadiahnya menyusul ya?"
"Oke-oke, gak pakek hadiah nggak apa-apa kok Al, asal kamu jadi pacar aku," seru Salsa dari kursinya.
"Hu ...." cibir anak-anak lainnya.
"Yeay, kenapa kalian jadi sewot sih, iri ya? Iri bilang, Bos."
Melihat situasi makin tidak terkendali, Trio Gokil segera menenangkan para siswa. Setelah dirasa cukup aman, maka Al segera melanjutkan ucapannya.
"Oke, karena banyaknya siswa yang sangat mengapresiasi usulan saya, maka saya minta bantuan wakil ketua kelas untuk maju ke depan."
Betapa hebohnya suasana di bus Ve dan Al ketika pasangan ketua kelas dan wakil ketua kelas itu disandingkan. Lihat saja, Salsa yang sudah kebakaran jenggot karena di depan sana ada Al dan Ve yang berdiri berdampingan.
Ve menyikut lengan Al sambil melotot, "Apa-apaan sih loe, napa aku ikut-ikutan di sini."
Bukannya takut, Al malah sengaja mendekati tubuh Ve sambil berbisik.
"Sekali-kali jangan ketus gitu napa kalau sama gue, nggak bisakah lembut seperti saat kamu dekat dengan Ken?" tanya Al.
"Dih, salah minum obat nih cowok," ucap Ve sambil merinding.
Belum sempat Al mengucapkan pertanyaan pertama, tiba-tiba bus mengerem mendadak. Tentu saja membuat keseimbangan Ve mendadak hilang dan hampir terjatuh. Beruntung salah satu tangan Al menopang tubuh Ve agar tidak jatuh. Akibatnya Al seolah memeluk Ve di depan sana.
__ADS_1
Tentu saja Salsa dan Dion sempat berdiri dari tempat duduknya karena merasa tak rela mereka bermesraan di depan sana.
"Al ..." seru Salsa.
"Ve ..." seru Dion.
Lalu kedua remaja tadi saling memandang satu sama lain, lalu sesudahnya mereka kembali duduk di kursinya.
Satu detik ...
Dua detik ...
Tak ada pergerakan sama sekali. Kedua pasang mata mereka saling memandang satu sama lain. Al semakin mendekap tubuh Ve. Begitu pula dengan Ve yang menikmati pelukan dari Al.
Mereka semakin terpaku dan nyaman dalam posisi itu, mereka juga tak menyadari pandangan dari seluruh penumpang bus itu. Hingga deheman dari Pak Prapto menyudahi moment terindah itu.
"Ehem, ehem, udahan ya peluk-peluknya, jiwa jones saya menjerit seketika, paham!"
"Eh, eh, maaf, Pak!" ucap Ve terbata.
Lalu ia segera kembali ke tempat duduknya. Sementara dari wajah Al terlihat sangat tidak rela jika Ve meninggalkannya di depan sendirian.
"Maaf, Pak, nggak jadi aja Quisnya," ucap Al sambil berlalu dan kembali duduk di seberang kursi Ve.
"Ma-maaf," cicit Al sambil menoleh ke arah Ve.
.
.
__ADS_1
...🌹Bersambung🌹...