
"Bagaimana, apa surat yang saya bicarakan kemarin sudah siap?"
"Sudah, paling lambat besok siang sudah saya kirimkan ke rumah."
"Tidak usah, kamu datang ke sini saja. Jangan lupa hubungi Rumah Sakit Jiwa sekalian."
"Buat apa, Tuan?"
"Nggak usah tanya, besok kamu pasti akan tau sendiri jawabannya."
"Siap."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Aiden tampak memijat pelipisnya, ia merasa kesakitan di area punggung karena tadi malam ia tidur di sofa.
"Semua karena kamu, Lisa."
Aiden berbalik, lalu menghubungi teman lamanya, Dimitri. Kedua lelaki cukup umur itu sepertinya sedang menyusun sebuah rahasia besar sehingga intensitas pertemuan mereka akan lebih intens saat ini.
Melihat Aiden hendak pergi, Ken berusaha menyusulnya. Ternyata Ken masih menempel pada Aiden. Ia ingin mengetahui langkah apa yang akan diambil olehnya kali ini. Karena hal itu, maka Ken selalu mengawasi ayahnya.
"Papa mau kemana?"
"Loh, ada kamu, Ken?"
"Iya, Pa. Kenapa?"
"Enggak apa-apa, cuma kaget aja, tumben kamu berada di situ."
"Lagi pengen bareng, Papa. Boleh 'kan?"
"Boleh, memangnya Papa mau ke mana?"
"Mau ke kantor."
"Boleh ikut?"
"Ayo."
Tidak membutuhkan waktu yang lama, kedua anak dan ayah itu menuju halaman rumah. Di depan rumah sudah terparkir sebuah mobil CRV TURBO berwarna hitam di sana. Kini keduanya segera pergi dan beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di tempat tujuan.
Sebuah gedung pencakar langit dengan sentuhan gaya arsitek yang berkelas di setiap ruang-ruang penting. Kenzo takjub dengan kemampuan arsiteknya yang mampu mendesain setiap ruangan para petinggi dengan desain ekslusif.
Kenzo menahan rasa keingin-tahuannya saat ini dan lebih memilih mengikuti ayahnya. Banyak karyawan yang menunduk hormat atau sekedar menyapa kedatangan Aiden di kantor itu. Sehingga tanpa Aiden sadari, hal itu membuat Ken menyimpan sejuta asumsi untuk ayahnya.
"Selamat datang, Tuan Aiden dan Tuan Kenzo. Silakan masuk!"
"Terima kasih."
__ADS_1
Setelah pintu terbuka, terlihat seorang lelaki berusia hampir sama dengan ayahnya duduk disebuah kursi kebesarannya.
"Selamat datang Aiden, selamat datang Kenzo."
"Terima kasih."
"Ternyata putramu sangat mirip dengan wajahmu waktu masih muda."
"Ha ha ha, tentu saja, dialah Kenzo Brawijaya calon penerus Bravo corp."
"Betul, silakan duduk. Jangan sungkan."
"Terima kasih, paman."
"Oh, ya, kamu sudah menyiapkan berkas-berkas yang aku minta kemarin, bukan?"
"Tentu saja sudah, kamu tau sendiri kalau aku paling suka bertindak secara profesional."
"Itulah kenapa aku sangat percaya kerjamu."
Kedua lelaki itu saling membicarakan bisnis. Setelah itu mereka makan siang bersama
"Andai aku punya seorang putri, pasti sudah aku jodohkan padamu."
"Ha ha ha, tetapi sayang, kau hanya memiki seorang putra."
"Betul sekali, sungguh rugi kau tidak bisa berbesan denganku."
Ternyata kedua lelaki itu saling membicarakan kedua putranya. Sayang, Ken merasa diacuhkan, oleh karena itu, ia memainkan ponselnya. Ada rasa kangen ingin menemui Ve.
Ya, ia melupakan Ve sejenak.
"Bagaimana kabar Ve saat ini?"
Karena tugasnya sebagai masih sebagai Waketos, ia mengecek website sekolah. Begitu paniknya saat ia melihat berita di sana.
"Ada apa ini, pasti semua ini ulah Salsa," ucap Ken geram.
Aiden menoleh ke arah Ken, "Ada masalah apa Ken?"
Ken menunjukkan ponselnya kepada ayahnya. Aiden begitu geram melihat berita sekolah saat itu
Bisa-bisanya status anaknya dijadikan bahan buly-an.
"Kamu tahu siapa dalang di balik semua ini?"
"Aku tau Pa, serahkan semuanya padaku."
"Tidak Ken, karena ini menyangkut Ve, maka Papa akan ikut campur."
"Baiklah kalau begitu."
__ADS_1
Tiba-tiba Dimitri mendapatkan sebuah ide. Ia pun memberitahukan rencananya itu pada Ken dan Aiden.
.
.
🍂KEDIAMAN DION
Langit tak begitu suram sore itu. Semburat jingga nampak indah melukis langit. Diselingi beberapa awan putih tergores indah di ufuk barat. Hembusan angin terasa lembut menyentuh kulit.
Menerbangkan dedaunan yang sudah kering, sehingga nampak menari-nari mengiringi nyanyian senja kala itu. Membuat siapapun terpukau akan kebesaran Ilahi yang tercipta.
Tetapi semua itu tak bisa mengubah suasana hati seorang gadis. Ve sedang menatap kosong hamparan rumput yang tersaji di hadapannya.
Saat ini Ve masih berada di kediaman Mama Jihan, orang tuanya Dion. Demi keselamatan Ve dan Nenek Safa, Jihan mengijinkan mereka tinggal di rumah mereka.
Hati Jihan merasa sedih ketika melihat keadaan Ve saat ini. Senyuman miliknya raib, akibat keegoisan Lisa. Jihan tak menyangka jika masalah yang dihadapi Ve begitu rumit.
Ia tak bisa membantu banyak saat ini, karena ia juga masih belum bebas dari jerat masa lalunya Bagaimana ia bisa membantu Ve. Satu-satunya orang yang bisa menolong Ve adalah ayah kandungnya.
Jihan yakin, pasti ada sebuah alasan kenapa Aiden bisa melakukan hal ini. Sayang, Aiden berteman dekat dengan suaminya, Dimitri.
Tak sanggup melihat Ve sendirian, Jihan mendekati Ve. Mungkin karena Ve sedang melamun, ia tak menyadari kehadiran Jihan. Ia menepuk perlahan bahu Ve, tetapi membuatnya sempat tersentak.
"Kamu melamun, Sayang?" tanya Jihan.
Ve menoleh, "Eh, enggak."
"Maaf tante, sejak kapan tante berada di sini?"
Jihan tersenyum manis.
"Sejak tadi, sih. Memangnya apa yang sedang kamu pikirkan?"
"Nggak ada, cuma lagi kangen rumah kedua orangtuaku.
"Hah, dimana itu?" tanya Jihan penuh dengan kesopanan.
"Itu rahasia," ucap Ve sambil mengerling.
.
.
Sementara itu di perusahaan, ketiga lelaki itu saling membicarakan proyek yang akan mereka kerjakan beberapa bulan ini. Sebenarnya proyek ini akan melibatkan Ve, tetapi masalah saat ini membuat beban tersendiri di hati Aiden, Kenzo dan Ve.
Sekarang yang terpenting adalah misi keselamatan Ve.
.
.
__ADS_1
...🌹Bersambung🌹...