MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU

MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU
TAK SENGAJA


__ADS_3

Ternyata memang benar, Bella sudah mengadu pada Darren. Hingga menyulut api di hatinya.


"Gilak, ngapain juga Al bentak Bella! Ngomong baik-baik 'kan bisa!"


Karena kesal Darren bahkan sudah menggebrak meja di kamarnya. Putri yang mendengar suara gaduh di lantai atas segera naik menuju sumber suara.


"Ada apa sih?"


Setelah sampai, Putri segera mengetuk pintu kamar putranya.


"Darren, kamu di dalam?"


"Iya, Ma. Masuk aja gak apa-apa, pintu gak aku kunci!"


Putri segera menekan knop pintu, terbukalah pintu kamar Darren, dan di atas ranjang terlihat ia sedang duduk disana. Putri segera mendekati putranya itu.


"Kamu kenapa, sayang? Mama dengar dari bawah kayaknya ada bunyi sesuatu di sini tadi?"


Putri mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar, tapi tidak mendapati apa-apa. Kini Darren hanya bisa meringis ketika aksinya ketauan sama mamanya.


"Al bikin ulah di sekolah, Ma."


"Masa, perasaan yang suka bikin ulah tuh kamu, bukan Adik kamu deh."


"Ah, Mama selalu aja Al, dan Al, apalah Darren bagi Mama."


Darren pun membuang muka. Putri yang sadar telah salah berucap segera menghampiri putranya yang sedang ngambek itu.


"Bukan begitu sayang, memangnya dia berbuat apa, sampai kamu begitu marah sama Adik kamu?"


Tak mau menunggu lama, Darren pun menceritakan semuanya. Putri hanya menghela nafas setelah mendengarkan cerita putra sulungnya. Sebenarnya yang salah disini bukan Al ataupun Darren, melainkan sikap Bella yang se-enaknya sendiri.


Tak berapa lama kemudian dari halaman rumah terdengar suara mobil berhenti.


"Nah, itu Al sudah pulang, sana tanya baik-baik sama Adik kamu, gak usah pakai emosi, ngerti 'kan maksud mama?"


Darren mengangguk. Setelah memastikan keadaan Darren sedikit membaik, Putri segera turun ke lantai satu untuk kembali melanjutkan membuat makan siangnya.


"Assalamu'alaikum, Ma."


"Wa'alaikumsalam sayang, sudah pulang?"


"Sudah, Ma."


Al segera menyalami tangan Mamanya dan mengecupnya.


"Hm, wangi banget Ma, masak apa sih?"


"Kesukaan kamu, dah sana, ganti baju trus makan bareng, sekalian ajak Kakak kamu, oke !"


"Males ah, Ma."


"Loh kok gitu, Dek!"


Terlihat Al sedang menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas. Tetapi tiba-tiba Darren muncul dan menghadang Al di ujung tangga. Tanpa menyapa ia malah menghadiahi Al bogem mentah.


BUGH!


Al meringis kesakitan.


"Apa, mau protes, hah!" gertak Darren.


"Apa-apan sih, Bang, ngapain lu pakek pukul gua!"

__ADS_1


Al pun tak terima, ia hendak melawan Darren tetapi ibunya lebih dulu datang.


"Kalian kenapa lagi sih, Mama 'kan sudah bilang bicara baik-baik dulu, jangan asal main tangan!"


Putri pun mengubah pandangannya dan kini menatap Darren.


"Ini juga, udah Mama bilangin, jaga sikap kamu, masih aja begitu, kalian benar-benar, ya!" ucapnya kesal.


Melihat Darren yang belum berubah, ia pun menjadi kesal.


"Al ikut Mama!"


Kini tangannya sudah digandeng Putri menuju kamarnya. Tentu saja ini dilakukan untuk mengobati luka di sudut bibir Al.


"Al, tolong maafin kakak kamu ya!"


"Iya, Ma."


Tetapi di dalam hati Al, ia masih menggerutu. Al berjanji setelah ini, ia akan menyelidiki hal ini dengan teliti.


🍃Tiga hari kemudian.


Perang dingin antara Al dan Darren masih terjadi hingga saat ini. Kedua orangtuanya pun sudah angkat tangan tentang hal ini. Al memang adik kandungnya, terkadang sikap Darren terlalu bertindak sesukanya dan lebih mempercayai orang lain membuat mereka seperti kucing dan anjing yang tak pernah akur.


Meskipun Darren playboy, Bella adalah salah satu pacar yang paling ia sayangi. Sehingga jika ia terluka, meski itu sedikit, tetap akan menyulut api di hati Darren.


🍃Pagi itu.


"Pa, besok Darren pengen bawa mobil?"


"Buat apa?"


"Buat ngeliat kampus-kampus disini."


Darren mengangguk.


"Oke, besok papa temenin kamu!"


"Oke," jawab Al dengan malas.


Beberapa saat kemudian, Putri teringat rujak.


"Kayaknya enak makan rujak," batin Ibu Al.


Lalu Putri teringat sesuatu, ia pun menoleh pada Al sembari tersenyum. Al yang kebetulan melihat mamanya, sudah bisa menebak apa yang dipikirkan mamanya.


"Kenapa feeling gue gak enak ya!" batin Al.


"Al, kata kamu neneknya Ve jual rujak ya?"


"Hm, iya, Ma. Memangnya kenapa?"


"Mama kok pengen rujak ya?"


"Ha-ah, Mama ngidam?"


"Mungkin, emang gak boleh?"


"Dih, Mama sih pakai hamil segala, kita kan udah gede, masa iya punya adik bayi sih, Ma!" protes Darren.


Sebenarnya apa yang mereka protes benar, tetapi rezeki yang dititipkan Tuhan tak mungkin ditolak, bukan? Apalagi ini rezeki tentang kehadiran seorang anak.


"Hust, kan Mama masih pengen punya anak cewek, memangnya nggak boleh?"

__ADS_1


"Boleh sih, tapi ...."


"Tapi kalian malu!" tanya Mama sudah dalam mode marah.


Karena semua terdiam, Al pun angkat bicara untuk mengusir keheningan di meja makan.


"Eh, Ma. Rujaknya jadi, kalau iya, biar nanti aku beliin di dekat sekolah aja, gimana?"


"Gak mau, pokoknya Mama hanya mau rujak buatan Neneknya Ve! Titik gak pake koma!"


"Puftttt, iya, Ma."


Mau tak mau, Al harus memutar cara agar ia bisa wujutin keinginan mamanya kali ini. Meski harus dengan membuang gengsinya.


...⚜⚜⚜...


...SMA TUNAS BANGSA...


Pagi itu seperti biasa, Kenzo sudah apel pagi di kelas 1A. Melihat hal itu Al bersikap normal dan santai. Ia pun menuju tempat duduknya.


"Pagi Al," sapa Kenzo dan Ve bersamaan.


"Pagi," jawab Al singkat.


Tanpa menghiraukan kehadiran Al, Kenzo dan Ve melanjutkan obrolannya. Sampai tak terasa bel sekolah berbunyi. Kenzo pun segera berpamitan padanya. Hingga akhirnya jam pelajaran dimulai.


🍃Dua jam kemudian.


"Ve ...."


"Iya, Kak. Ada apa?"


"Mama aku bisa pesan satu porsi rujak buatan nenek kamu, bisa nggak?" ucap Al berbisik.


"Ha-ah, kakak bicara apa?"


Mau tak mau Al mendekatkan dirinya lalu berbisik tepat di telinga Ve.


"Mamaku kepingin pesan rujak buatan nenek Kamu, bisa nggak?"


Ve yang sudah mendengar permintaan Al segera mengangguk, tetapi sayangnya tiba-tiba Ve berbalik dan menoleh ke arah Al yang masih condong ke arahnya.


Cup, kedua bibir mereka menempel sempurna.


Ve pun kaget dan melotot matanya. Begitu pula dengan Al yang ekspresinya sudah sama persis dengan Ve. Jangan ditanya lagi debaran jantung mereka sudah jedag-jedug tak karuan.


Mereka pun reflek membenahi posisi badannya. Lalu menetralkan detak jantungnya sebelum mereka berbicara satu sama lain.


"Astaga, apa yang kita lakukan barusan?" Ve pun merasakan debaran aneh di hatinya.


"Hah, hah, hah! Apa yang aku perbuat tadi?" gumam Al.


"A-aku ...."


"Ma-aaf ...."


Untuk mengusir kecanggungan yang terjadi mereka pun tersenyum satu sama lain, lalu meminta maaf untuk hal yang terjadi barusan.


...🌹Bersambung🌹...


Sambil nunggu up, boleh mampir di karya teman Fany ya.


__ADS_1


__ADS_2