
Tanpa sepengetahuan Lisa, orang yang selama ini membantu perekonomian keluarga besar Lisa adalah Maya. Maya bukanlah orang yang bisa mengabaikan kesusahan yang dialami sahabatnya. Tanpa diminta, Maya akan membantu mereka.
Begitu pula dengan biaya operasi adik Lisa yang terkena gagal jantung. Sebenernya bukan Aiden yang membiayai semua pengobatan adik Lisa saat itu. Tapi semua itu dilakukan oleh Maya tanpa sepengetahuan Lisa.
Demi mendekatkan Lisa dan Aiden, Maya sampai menyisihkan sebagian hartanya untuk membiayai pengobatan adik Lisa yang terkena gagal jantung. Begitu pula dengan Keluarga Lisa yang mengetahui kebenarannya sampai saat ini masih menutupi kenyataannya dari Lisa.
Meski saat ini mereka bergelimang harta, tetapi mereka tidak pernah melupakan jasa Maya. Mereka juga terpuruk saat mengetahui bahwa malaikat tanpa sayap yang selama ini melindungi keluarga mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan.
Tapi mereka tak berani mendekati keluarga Maya karena saat itu, mereka langsung menutup kasus itu dan mengatakan jika itu adalah murni sebuah kecelakan bukan sabotase.
Aiden satu-satunya yang mengetahui jika hal itu ada campur tangan Lisa. Meski ia hanya sebagai otak utama dan yang mengeksekusinya adalah orang kepercayaannya.
Mengingat masa lalu yang memuakkan ini sangat membuat Aiden tidak betah saat disuruh tinggal di Indonesia. Demi keamanan Veeya dan neneknya, ia sampai meninggalkan Kenzo dan membawa Lisa pergi dan menetap di Swiss.
Aiden paham jika Lisa sebenarnya masih menyimpan dendam saat ia dibawa ke Swiss dan ia yakin jika suatu saat hal seperti ini pasti akan terjadi. Beruntung, ia sudah mengantisipasi semuanya. Meski dalam perhitungannya ada beberapa hal yang meleset dan di luar bayangannya.
Tak berapa lama kemudian, Aiden telah sampai pada sebuah toko kelontong. Ia turun dari mobil dan melangkahkan kakinya menuju toko tersebut. Kebetulan keadaan toko sedang sepi, sehingga ia bisa langsung bertemu dengan pemilik toko tersebut.
"Mas Aiden," sapa pemilik toko.
"Silakan masuk, sebentar saya panggilkan Mas Romi," ucap wanita berhijab itu.
Tak lama kemudian datang lelaki berpenampilan sederhana. Ia tersenyum ketika melihat kedatangan kakak iparnya. Sejenak mengucap salam lalu bersalaman dengannya.
"Mari, silakan duduk, Mas."
"Terima kasih, saya hanya ingin meminta tolong padamu sesuatu hal."
"Apa itu, Mas?"
"Kamu masih ingat Mbak Maya?"
Sejenak laki-laki itu mencoba mengingat-ingat siapa wanita yang disebut kakak iparnya itu. Lalu kemudian ia mengangguk perlahan.
"Alhamdulillah masih, Mas. Tapi bukankah beliau sudah meninggal?"
"Iya, tapi aku ingin kau membantuku sesuatu, dan hal ini menyangkut putrinya Maya."
"Loh, dimana sekarang putrinya tinggal?"
__ADS_1
Karena ia takut rencananya gagal, maka Aiden membisikkan sesuatu pada Romi. Sesekali Romi mengangguk dan mengelus dada. Bagaimana mungkin rahasia sebesar ini disembunyikan dari Keluarga Besar Lisa. Sementara di luar sana, kehidupan putrinya terlunta-lunta.
Miris, tapi ini adalah realita. Mungkin kini saatnya ia membalas semua kebaikan almarhum Maya. Sehingga setelah ini tidak akan ada kesakitan lagi di sana.
Romi tampak memikirkan rencana kakak iparnya itu. Lalu setelahnya ia menyetujui rencana tersebut. Berbekal map yang dibawa Aiden, besok ia akan mendatangi Kakaknya, Lisa.
"Ya sudah kalau begitu, saya pamit dulu."
"Iya, Mas. Terima kasih, saya usahakan besok pagi saya akan datang ke rumah Mas."
"Terima kasih Rom, sampaikan salamku pada istrimu."
"Siap."
Lalu Aiden kembali melanjutkan perjalanan menuju apotek untuk menebus obat istrinya dan beberapa vitamin.
.
.
...⚜⚜⚜...
"Dion, dion ..." teriak sang Mama.
"Iya, Ma, Dion turun."
"Makan malam dulu, Nak."
"Oke."
Saat Dion hendak menarik kursinya, ada suara ketukan pintu. Mereka berdua saling menatap satu sama lain.
"Siapa?"
Mamanya hendak berdiri, tapi di cegah Dion. Karena jam segini asisten rumah tangganya sudah pulang, jadi Dion terpaksa yang membuka pintu.
Dion menatap nanar lelaki di depannya ini. Seorang lelaki berpostur tegap dengan wajah yang masih terlihat segar dan tampan berdiri di depannya. Dialah Dimitri, ayah kandung Dion.
"Pa-papa?" ucap Dion tak percaya.
__ADS_1
"Putraku!"
Dimitri langsung memeluk tubuh putranya itu. Menumpahkan rasa rindu yang telah tertimbun selama bertahun-tahun.
"Putra papa sudah besar?"
Dion tersenyum lalu mengajak ayahnya itu masuk rumah dan menutup kembali pintu rumahnya. Karena memang hari sudah beranjak malam. Sementara Jihan yang tak mendapati putranya kembali segera beranjak menyusul ke ruang tamu.
Tapi belum lama ia melangkah, Jihan membeku melihat mantan suaminya datang berkunjung. Dikuatkan hatinya saat itu lalu ia menghardik mantan suaminya itu.
"Untuk apa kau datang kemari!" gertak Jihan.
Dimitri tersenyum lalu kembali melanjutkan langkahnya untuk mendekati Jihan. Melihat mamanya ketakutan akan kedatangan papanya, Dion mencekal lengan Dimitri sehingga membuatnya menoleh.
"Maaf, Pa, papa tunggu di sini. Biar aku berbicara dengan Mama terlebih dahulu."
"Baiklah, aku tunggu di ruang tamu saja."
Dimitri menepuk lengan Dion dan berbalik ke ruang tamu. Sementara itu, hati Jihan yang memanas membuat air matanya mengalir. Hal itu sempat dilihat oleh Dion yang kemudian memeluk tubuh mamanya itu.
"Maaf, Ma. Maaf Dion nggak tau kalau mama masih benci sama Papa."
Jihan masih terisak dalam dekapan putranya. Bagaimana pun perasaannya, ia memang tidak boleh egois. Tapi entah kenapa hatinya masih belum bisa menerima kehadiran mantan suaminya itu. Terlebih jika mengingat semua kelakuan bejatnya. Sungguh, jika boleh memilih Jihan akan bersembunyi di bagian bumi lain agar tidak bisa bertemu dengannya kembali.
Sesak sekali rasanya melihat seseorang yang pernah ia cintai, lalu dengan sengaja mempermainkan cintanya. Belum lagi sosoknya yang tiba-tiba hadir di depan mata kepalanya sendiri.
.
.
..."Cinta memang misteri, tapi cinta bisa berubah menjadi benci, saat kita dipermainkan oleh cinta."...
...⚜⚜⚜...
.
.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1