
Kedua mata Kenzo akhirnya terbuka lebar. Dilihatnya ruangan disekitarnya.
"Rumah Sakit? Sejak kapan dia berada di sini?"
Pikiran Kenzo jauh menerka-nerka. Hal yang ia ingat terakhir kali saat ia masih berada di depan rumah Neneknya Ve dan ia masih bersimpuh di bawah rintik air hujan. Bersama derasnya air hujan malam itu ia ingin menghapus semua luka yang ia rasakan sendiri.
Ken mengusap kasar wajahnya, ia ingat malam itu ia melihat bayangan ibu dan ayahnya. Dengan segera ia bangkit lalu melepas infus yang berada di tangannya dengan paksa. Berlari dengan cepat agar ia bisa keluar dari Rumah Sakit.
Teriakan suster ia hiraukan begitu pula dengan darah segar yang masih menetes di pergelangan tangannya akibat ia mencabut paksa selang infusnya tadi.
Dibenaknya hanya satu, Veeya pasti dalam keadaan tidak baik-baik saja. Memang benar malam itu Ve baru saja tiba. Al juga bergegas pamit untuk pulang. Sementara di kejauhan ada Lisa yang masih membaca situasi rumah itu.
"Sial, wajah Veeya sangat mirip dengan Maya," batin Lisa dengan amarah yang masih berkobar.
Setelah mobil Al meninggalkan rumah Ve. Lisa mendekati rumah itu dan ia berlari ke arah Ve. Mendengar derap langkah yang begitu cepat mendekati rumahnya membuat Ve langsung menutup rumahnya.
"Buka, buka!" teriak Lisa penuh amarah.
Nenek Safa melihat Ve ketakutan mendekatinya.
"Siapa?"
"Nggak tau, Nek," ucap Ve setengah berbisik.
Nenek mengintip di celah jendela yang terbuka.
"Astaghfirullah, wanita itu, mau apa lagi dia," ucapnya sambil mengelus dada.
Nenek segera menyuruh Ve untuk masuk ke dalam rumah. Sebenarnya ia ingin sekali menemui wanita di depan rumahnya itu tapi sorot mata nenek menyuruh Ve untuk masuk kamar segera.
"Jangan keluar tanpa nenek suruh."
Ve mengangguk, lalu nenek segera membuka pintu rumahnya.
"Dimana anak itu, katakan wanita tua!" bentak Lisa yang sudah kehilangan adat istiadatnya.
"Siapa?"
"Cih, masih menyembuhkan cucumu? Ingat perkataanku kapan hari, jika ia masih mendekati putraku, maka ingatlah, setelah ini kalian tinggalah sebuah nama."
__ADS_1
Nenek mengusap dadanya perlahan, sahabat anaknya kini telah berubah, dulu ia wanita yang lembut tapi ternyata hanya karena cinta buta, ia menggadaikan arti sebuah persahabatan dan keluarga.
Sementara itu, mobil taksi yang dikendarai Ken sudah sampai di depan gang. Ia berlari masuk ke dalam gang agar cepat sampai di rumah Ve.
Benar dugaannya, ibunya berada di Rumah Nenek Safa. Bahkan saat ia datang, ibunya masih membentak Nenek Ve tersebut.
"Mama, apa-apaan ini?" seru Kenzo dari arah belakang.
Lisa menoleh, "Sayang, kenapa kamu disini! Kamu harus dirawat."
Kenzo menampik tangan ibunya yang hampir menyentuh lengannya.
"Kamu kenapa, Ken?"
"Mama yang kenapa? Bukankah Mama mengizinkan aku berpacaran dengan siapa saja, lalu ini apa?"
Ken mendekati Nenek Safa yang menunduk.
"Nenek tidak kenapa-napa?"
Ve yang mendengar suara Kenzo segera keluar kamar. Ia tau ada yang tidak beres di sini.
"Veeya?"
Hati Ken berdenyut nyeri melihat Ve dari kejauhan. Melihat wanita pujaannya tidak dapat ia miliki membuat Ken semakin kesakitan. Ve yang awalnya tersenyum kini bingung kenapa Ken menatapnya dengan aneh.
Ve berjalan perlahan mendekati nenek dan Ken. Sementara Lisa mematung, kakinya bergetar hebat. Ingin rasanya ia menyakinkan dirinya bahwa gadis di depannya ini bukan Maya melainkan anaknya Ve. Seorang anak yang merupakan darah daging suaminya dengan teman masa kuliahnya.
Lisa tersenyum smirk. Di dekatinya Ve tapi ternyata Ken lebih dulu berdiri menghadangnya.
"Mama mau apa?" bentak Ken.
"Minggir Ken!"
"Nggak, nggak bakal Ken minggir sebelum Mama mengatakan alasan di balik Mama terbang ke Indonesia dan malah datang ke rumah ini?"
Ve mendelik, ia tak menyangka jika Mama-nya Ken datang ke rumahnya dan kini beliau berdiri di depannya. Tapi ia juga bingung dengan keadaan ini. Kenapa Ken seperti tidak suka jika Mama-nya datang ke rumahnya. Bukankah dia sendiri yang bilang akan mengenalkan kedua orangtuanya jika mereka kembali dari Swiss.
"Ha-ah, sejak kapan ingatanku kembali?" Ve merasa aneh dengan kondisinya saat ini.
__ADS_1
Kapan ia mengingat semuanya, ia sama sekali tidak ingat. Hingga semua mengalir begitu saja.
Lisa membeku melihat tatapan tidak suka dari Ken. Hingga ia tersenyum, "Kenapa kamu melarang Mama mendekati calon istrimu?"
"Karena aku yakin jika Mama mempunyai niat jahat dengan Ve."
"Iya, memangnya kalau benar Mama punya niat buruk, kamu bisa apa!"
"Aku bisa membenci Mama selamanya!" gertak Ken.
Ve semakin bingung akan kondisi ini.
"Ada apa ini?"
Darah Kenzo yang masih menetes membuat Ve buru-buru memegang tangan Ken.
"Kak, tangannya, sebentar aku ambilkan obat!" ucap Ve yang hendak berlalu.
Tapi Ken menarik tangan Ve dan mendekap tubuhnya. Setidaknya ia ingin mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Lisa yang tidak tahan segera berteriak.
"Lepaskan anak haram itu!" ucapnya sambil bergetar.
PLAK!
Tangan Nenek menghadiahi mulut Lisa yang seenaknya menyakiti Ve.
"Jaga ucapanmu Nyonya!"
"Veeya bukan anak haram, tapi suami-mu yang kurang ajar!"
Tubuh Nenek Safa bergetar hebat, tiba-tiba ia merasakan sesak yang teramat sangat di dadanya. Sambil memegangi dadanya Nenek pun jatuh pingsan.
"Ne ... nenek!"
.
.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1
Apa yang terjadi dengan nenek? Bagaimana kalau beliau sakit? Lalu siapa yang akan melindungi Ve setelah ini?