
Melihat istrinya yang semakin terluka, Aiden berniat untuk membawa Lisa ke psikiater. Jiwanya harus pulih sebelum ia membawa Ve masuk ke dalam hidup Lisa, Aiden dan Ken. Aiden memang memutuskan untuk membawa Ve ikut serta bersamanya setelah Lisa sembuh.
Setidaknya sebelum ia memegang perusahaannya, ia bisa tinggal bersama putrinya. Tugasnya setelah ini masih panjang, ia juga akan menjaga Ve sampai ia bertemu dengan calon pendamping hidupnya. Meski hanya sebentar tetapi setidaknya ia sudah melakukan yang terbaik untuk putrinya itu.
Sementara itu di dalam kamar mandi, Ken membawa Lisa keluar dari bathup. Tetapi ia bingung saat ingin mengganti pakaian ibunya, lalu ia teringat ayahnya yang berada di luar kamar. Ken berlalu untuk memanggil ayahnya.
"Pa, papa ..." teriak Ken dari kamar mandi.
Aiden yang mendengar teriakan Ken segera berdiri sambil mengusap air matanya.
"Ada apa, Ken?"
"Tolong, papa ganti baju Mama, kasihan baju Mama basah karena aku mengguyurnya dengan air tadi."
Aiden mengangguk sambil memegang bahu Ken.
"Nggak apa-apa, Ken. Biar papa yang mengurus Mama kamu setelah ini, Kamu bantu Ve di Rumah Sakit saja."
Ken menepuk keningnya, "Astaga, sampai lupa, oke, aku balik ke Rumah Sakit, Pa."
Setelah mengucap itu, Ken segera berpamitan pada Aiden. Sementara itu Aiden bergegas ke kamar mandi untuk mengganti baju istrinya dan membawanya ke kamar. Tak lupa ia menelpon dokter untuk memeriksa keadaan istrinya yang sudah mulai demam.
Aiden memegang kening Lisa, diusapnya wanita yang sudah menemani dirinya hampir selama dua puluh tahun, tapi sama sekali belum masuk ke dalam hatinya. Pernikahan yang mereka jalani hanya sebatas status tanpa melibatkan hati Aiden Karena sejujurnya hanya Maya yang menghuni hati Aiden sampai saat ini.
Oleh karena itu, ia sampai nekad melakukan hal itu tanpa ada yang tau kecuali Vano, Lisa dan nenek Safa. Jika sampai keluarga besarnya tau, bisa dipastikan Aiden akan di depak dari Keluarga Besar Brawijaya.
__ADS_1
Sampai ketukan di pintu yang dilakukan oleh pembantunya tidak terdengar.
"Biar saya saja yang masuk ke sana, terima kasih, Bik sudah mengantar sampai ke sini."
"Sama-sama, Tuan."
🍃Sementara itu di Rumah Sakit.
“Jika aku tak berhak bahagia, beri waktu aku sejenak untuk membahagiakan nenek, Ya Allah” doa Ve ketika ia sudah selesai beribadah.
Sementara Al juga sudah selesai beribadah, ia segera mengajak Ve kembali ke ruang rawat nenek untuk membantu mengemasi barang-barang nenek.
“Sudah lebih tenang?” tanya Al pada Ve yang sudah melepas mukenanya.
Ve mengangguk. Lalu segera menyusul Al beranjak pergi meninggalkan musholla Rumah Sakit. Beberapa saat kemudian, Ken langsung menuju bagian administrasi untuk membereskan semuanya dan mengambil kuintansi bukti pelunasan biaya Rumah Sakit.
Tetapi ia menyuruh Ken untuk menunggu di lobby, ia takut jika Ve tidak bisa mengendalikan emosinya. Karena tak ingin melihat amarah di kedua mata Ve, Al mengajak Ve untuk beribadah terlebih dahulu. Setidaknya bisa memberikan ketenangan di hatinya.
Kedua remaja itu saling berdampingan menuju ke ruang rawat nenek. Ternyata nenek sudah bersiap-siap di sana. Mereka tinggal membantu nenek untuk membawakan tasnya dan membantu beliau berjalan ke luar.
“Maafin Ve, ya Nek. Karena kelamaan nunggu malah membuat nenek berkemas sendiri.”
“Nggak apa-apa, Sayang. Lagi pula baju nenek juga nggak banyak kok.”
Saat di lobby, mereka melihat keberadaan Ken di sana. Nenek tersenyum pada Ken. Karena Al sudah memberinya isyarat, Ken memberanikan dirinya mendekati Ve.
__ADS_1
Melihat Ken mendekat, ia tak kuasa menahan gejolak di hatinya. Ingin marah tapi tak bisa, karena Ken juga tidak tahu menahu hal ini. Ia tak boleh membenci Ken, bagaimana pun Ken pernah berada di hatinya, hanya saja Tuhan tidak mengijinkan mereka bersatu, sehingga menyatukan mereka dalam arti keluarga yang sesungguhnya.
Ve mencoba tersenyum, dan akhirnya memeluk Ken setelah mendekat. Betapa lega hati Al dan nenek melihat respon Ve. Setidaknya meski Ve membenci kedua orang tua Ken, tapi tidak membenci Kenzo.
Tak lama kemudian, mereka segera meninggalkan Rumah Sakit untuk menuju rumah baru yang sudah dipersiapkan Aiden. Ve masuk ke dalam mobil Al, sementara nenek bersama Ken. Ve yang hafal rute jalan ke rumahnya menjadi bertanya-tanya sambil memandangi wajah Al.
"Kita mau kemana?"
"Ke rumah kamu, lah."
"Tapi ini bukan arah jalan ke rumah, Al?"
"Rumah kamu sudah nggak aman, jadi kita akan ke rumah yang baru bersama Ken."
"Ha-ah? Kok aku nggak tahu."
"Tapi nenek sudah setuju."
"Kenapa, nenek nggak cerita?"
"Belum sempat, Ve. Semua ini juga untuk kebaikan kamu dan nenek."
Ve menghela nafasnya, ia tidak tau hal ini akan terjadi, tapi untuk saat ini, biarkan ia mengikuti semua kemauan Keluarga Ken. Ia yakin semua ini pasti rencana mereka. Sambil memandang ke luar jendela, ia menghafalkan rute jalan menuju rumah mereka yang baru.
.
__ADS_1
.
...🌹Bersambung🌹...