
Bayangan wanita-wanita yang pernah bermain ranjang dengan suaminya membuat rasa sesak itu menyeruak di hati Jihan. Lututnya seketika lemas, memory buruk yang hampir membuatnya putus asa itu kembali menghantuinya.
Bagaimana bisa seorang istri harus berbagi wanita, meski bibir berkata tidak, tapi hati pasti menangis. Cairan bening itu berhasil lolos dari pelupuk mata Jihan. Mengalir deras bagai hujan lebat yang membasahi bumi. Dion tak kuasa melihat kesedihan di wajah mamanya, hingga ia kembali memeluknya dengan erat.
"Jika, Mama nggak ingin melihat Papa, biarkan Dion mengusir papa, Ma."
Bibir Jihan masih kelu untuk berucap. Ia belum bisa berpikir saat ini. Kepalanya terasa panas jika dipaksa mengingat semua memory saat itu.
"Kenapa lelaki itu harus ke sini?" batin Jihan.
Sakit, sakit rasanya melihat pengkhianatan suaminya itu. Terlebih perbuatan menjijikkan itu bukan sekali dua kali ia memergokinya. Siapa yang kuat diperlakukan seperti itu. Hanya demi putra semata wayangnya ia masih bisa bertahan sampai saat ini.
"Ma, aku antar ke kamar, ya?"
Jihan mengangguk, selera makannya sudah sirna, jadi buat apa dia berada di ruangan yang satu oksigen dengan lelaki bejat itu. Lebih baik ia kembali ke kamar untuk menenangkan pikirannya. Setelah memastikan Mamanya sudah membaik, Dion kembali turun dan menemui ayahnya.
Melihat Dion kembali sendirian, Dimitri sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi. Mana mungkin Jihan sudi bertemu dengannya. Bahkan jika bisa lari, ia sudah berlari sejauh mungkin dari jangkauannya sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Sorry, Pa. Mama nggak enak badan."
"No problem, Dion. Papa perlunya sama kamu, jadi papa ke sini."
"Oke, jadi ada perlu apa, Papa mencari Dion?"
"Kamu ingat Veeya Nazia Raya, teman masa kecil kamu."
"Iya, kenapa memangnya?"
"Papa hanya ingin kamu mencari dia, Papa ingin bertemu dengan Ve."
"Buat apa, Pa?" tanya Dion curiga.
"Papanya Ve minta tolong pada Papa buat ngajarin dia belajar bisnis."
"Papa? Bukankah beliau sudah meninggal?"
Dion terheran-heran akan pernyataan dari papanya barusan. Melihat putranya bingung, Dimitri baru sadar jika sang putra masih belum mengetahui kebenarannya.
"Sorry, maksud Papa, pamannya."
"Oh, kebetulan aku satu kelas dengan Ve di sekolah."
__ADS_1
"Oh, ya. Kalau begitu nanti biar aku yang ajak Ve untuk ketemu Papa."
"Terima kasih, Dion."
"Sama-sama, Pa."
Sementara itu, Jihan semakin terisak di dalam kamar. Ia meringkuk diatas kasurnya. Pikirannya benar-benar kacau balau. Panas, otaknya seketika panas hingga membuatnya tak bisa berpikir selain mengingat semua perbuatan mantan suaminya. Meski kejadian itu sudah berlalu sekian tahun yang lalu, tetapi ternyata semuanya sama saja.
.
.
...⚜⚜⚜...
...Kediaman Veeya...
"Ve, besok kamu berangkat bareng Ken atau ... " tanya Al sambil memandang Ken dan Ve secara bergantian.
Ve yang bingung hanya bisa memandang Ken.
"Tenang Ve, seragam sekolah kamu udah aku pindahkan ke sini dan semua pernak-perniknya, nggak percaya? Coba kamu tengok ke dalam almari di kamar kamu."
"Ha-ah, berarti semua barang-barang pribadiku juga kamu pindahkan?"
"Ish, nggak sopan, napa nggak ijin dulu, sih."
"Wkwkwk, maaf, kan kamu lagi sibuk sama nenek, jadi aku memilih untuk mengambil sendiri."
"Lain kali jangan diulangi lagi," ucap Ve sambil cemberut.
Ken tergelak, ia paham apa yang ditanyakan Ve. Ken mengangguk sehingga membuat wajah Ve merona, karena ia terlalu malu.
"Bisa-bisanya harta berharga dilihat orang lain, huaaa," batin Ve menjerit.
Sementara itu Al sudah merasakan hawa panas di dalam hatinya. Ya, ia akui ia cemburu, meski hanya karena hal kecil seperti ini.
"Kenapa mereka harus sedekat ini?" batin Al cemburu.
"Sudah-sudah, kalian nanti saja bicaranya, sekarang kita makan dulu, nggak enak kalau dingin," ucap Nenek Safa menengahi.
"Siap, Nek."
__ADS_1
Nenek terlihat bahagia saat ini, terlebih bisa melihat cucunya kembali tersenyum dan ditambah lagi dengan dua orang cucu laki-laki, Al dan Kenzo. Setidaknya kehadiran mereka membuat hati nenek bahagia.
.
.
...⚜⚜⚜...
...Kediaman Aiden...
"Malam Tuan, maaf tadi Nyonya sempat berteriak histeris tapi sekarang sudah kembali tidur," lapor asisten rumah tangga Aiden.
"Oke, terima kasih ya, Bik."
"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu, saya permisi."
"Hm, oh ya, ini ada imbalan ucapan terima kasih untukmu karena sudah lembur malam ini."
"Terima kasih banyak, Tuan."
Setelah itu, Aiden segera berlalu ke lantai dua untuk melihat keadaan Lisa. Diraihnya gagang pintu secara perlahan lalu ia masuk dan melihat istrinya masih terlelap.
Baru saja Aiden melangkah, Lisa menoleh, "Kamu dari mana, Pa?"
"Dari nebus obat buat kamu, bagaimana kondisi kamu? Sudah merasa lebih baik?"
Aiden kini sedang duduk di tepi ranjang sambil membelai pucuk kepala istrinya. Lisa memang membiarkan Aiden pergi kemana saja. Toh sebentar lagi, ia akan kehilangan dia, jadi ia berusaha menguapkan perasaan di hatinya.
"Sudah, terima kasih."
"Ya, sudah kalau begitu, aku bersih-bersih dulu, oke."
"Hm."
Tak lupa Aiden masih bersikap manis pada Lisa, hal itu akan ia lakukan selama istrinya itu tidak berulah. Lisa memang tak bisa berubah, tapi ia bisa berpura-pura baik tetapi jika ia sudah merasa sakit hati, ia bisa membalaskan dendamnya secara membabi buta sampai ia puas.
Semoga saja Lisa bisa membedakan mana kebaikan dan balas budi, setidaknya ia tidak akan membalas sakit hatinya pada Veeya. Aamiin.
.
.
__ADS_1
...🌹Bersambung🌹...