
Karena Aiden sedang berada di Indonesia, mau tak mau ia pun bekerja di perusahaan itu. Sebuah perusahaan yang ia persiapkan untuk putri semata wayangnya tanpa sepengetahuan Ken maupun Lisa.
Meski dahulu, Lisa hampir mengetahuinya, beruntung ada Dimitri. Ayah Dion itu mampu menipu Lisa. Ia memanipulasi data sehingga semuanya terlihat jika pemilik perusahaan itu atas nama Dimitri dan hal itu membuat Lisa mempercayainya.
Tetapi karena saat ini situasi sedang genting, ia harus menemui Dimitri untuk membahas sesuatu yang sangat penting. Tanpa sepengetahuan Lisa, Aiden berangkat seorang diri ke Meive Company. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi IT.
Saat bangun tidur saja ia sudah tidak menemukan Lisa. Ternyata dia masak di lantai bawah, pantas saja tidak ketemu. Tanpa mau bersarapan bersama, Aiden melangkah pergi menuju halaman depan.
"Mas, nggak sarapan dulu?" tanya Lisa mencoba ramah.
"Nggak, aku buru-buru, maaf."
Sebelum pergi Aiden masih menyempatkan mengecup kening Lisa.
"Semoga saja ia tidak curiga," batin Aiden.
Sayang saat ia hendak sarapan, sehingga ia pun mengurungkan niatnya dan memilih pergi, meski ia masih bisa melihat Lisa dan putranya Ken. Tatapan Ken yang kurang ramah membuat Aiden tidak nyaman. Apalagi Ken sudah mengetahui semuanya, semalam masalah cek cok dengan ibunya ia juga tahu.
Ken merasa bersalah, sesuatu hal yang tidak ia inginkan terjadi. Ken hendak meninggalkan meja makan untuk meminta penjelasan dari ayahnya, tetapi Ken malah mendapatkan tamparan keras dari Lisa.
"Mau kemana?"
"Mau pergi, Ma, kenapa?"
"Jaga bicaramu, Ken."
Bukannya melawan atau protes Ken hanya mengusap pipinya yang masih terasa panas akibat tamparan Lisa, lalu beranjak pergi.
Sesuatu hal yang sama sekali tidak pernah Lisa lakukan kini malah ia sendiri yang melakukan hal itu. Penyakit lama Lisa sepertinya kambuh.
"Astaga apa yang aku lakukan barusan?" batin Lisa sambil memandangi tangannya.
"Apa penyakitku kambuh?"
Aiden sebenarnya belum pergi, ia sempat melihat hal tersebut, ia mengepalkan tangannya. Aiden harus harus memikirkan cara lain untuk mempertahankan rumah tangganya atau memutuskan hubungan mereka. Ia tidak mau berlama-lama lagi.
...⚜⚜⚜...
...Meive Company...
Mobil Aiden telah sampai di perusahaan miliknya. Ia segera turun dan masuk ke dalam. Hampir semua karyawan memberikan hormat kepadanya. Karena sebagian besar karyawan tau jika Aiden adalah pemilik resmi perusahaan tersebut.
Ternyata kedatangannya sudah ditunggu oleh Dimitri. Saat Aiden telah sampai, sekretaris Dimitri menyambutnya dengan ramah.
"Selamat datang Tuan, Anda sudah ditunggu oleh Tuan Dimitri di dalam."
"Terima kasih."
Sekretaris itu membuka pintu untuk Aiden lalu memberikan hormat kepadanya.
"Selamat datang Aiden."
__ADS_1
"Terima kasih untuk sambutannya, tetapi aku tidak perlu basa basi bukan?"
"Ha ha ha, tidak usah, silakan duduk."
"Hm."
Aiden lalu menyandarkan punggungnya pada badan sofa, sementara Dimitri sudah duduk di atas kursi kebesarannya.
Tidak lama kemudian mereka sudah membahas hal-hal yang penting. Mereka sengaja melakukan pembicaraan tersebut di dalam kantor, ruangan Dimitri karena dua hari ini ia selalu dibuntuti oleh Lisa.
"Bagaimana kabarmu Tuan Aiden?"
Aiden hanya membuang mukanya, ia tak ingin membuang waktu lagi karena keberadaan dan keselamatan Ve terancam.
"Bagaimana perkembangan kantor selama ini?"
Dimitri tersenyum padanya.
"Seperti yang kau lihat, semuanya berjalan lancar."
"Bagus, karena sebentar lagi kau harus mengajari putriku untuk mengelola perusahaan ini."
"Oh, kau sudah bertemu dengannya?" ucap Dimitri tak penasaran dengan ucapan Aiden barusan.
"Tentu!"
"Oke, bawa kemari dia, maka aku akan menyambutnya dengan tangan terbuka."
"Wkwkwk, santai, aku bisa membedakan mana urusan pekerjaan dan urusan pribadi."
Aiden berdecih kesal.
"Oh, ya aku dengar putra dan istrimu sudah kembali ke Indonesia, apa kau juga sudah bertemu dengan mereka."
Dimitri menaruh cangkir kopinya. Ia terlihat tidak suka dengan ucapan Aiden barusan. Baginya Dion dan Jihan sudah ia lupakan. Apalagi saat Jihan membawa paksa Dion untuk menjauhinya.
Sebenarnya ia bercerai juga bukan kemauan dirinya, tapi Jihan yang memaksanya. Melihat Jihan yang mampu membesarkan Dion seorang diri membuktikan bahwa mantan istrinya itu juga sangat pintar. Tak seperti wanita yang sudah ia kencani selama ini.
"Hah, jangan kau bahas mereka lagi. Lagi pula aku sudah tak memikirkan mereka lagi."
"Sungguh? Bagaimana bisa kau membuang darah dagingmu sendiri? Aku saja akan mempertahankan Kenzo demi kerajaan bisnisku!"
Dimitri berdecih kesal. Tapi perkataan sahabatnya itu membuatnya berpikir ulang. Ia sudah tidak lagi muda, ia juga membutuhkan penerus untuk perusahaannya ini.
Meive Company hanyalah pekerjaan sampingan. Sedangkan perusahaan miliknya ada dibawah naungan Meive Company. Meski tak sebesar Meive Company tapi cukup untuk kehidupan masa depan anak cucunya nanti.
Tiba-tiba dering telepon di ruangannya berbunyi. Dimitri berdiri untuk mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Hallo."
"Maaf, Pak ada seorang wanita memaksa masuk ruangan!"
__ADS_1
"Tanyakan dia siapa dan ada perlu apa?"
Sekretaris Dimitri bergetar melihat kedatangan Lisa yang hampir mengamuk tadi. Oleh karena itu, ia segera menghungi atasannya itu.
"Namanya Ibu Lisa Brawijaya, Pak."
Dimitri tersenyum, ternyata istri sahabatnya sudah tidak sabar. Ia pun mengatakannya pada Aiden.
"Bro, istrimu mengancam masuk! Katanya kalau tidak aku perbolehkan masuk, ia akan mengacaukan perusahaanku."
"Cih, wanita itu benar-benar sakit!"
"Kalau sakit kenapa kau jadikan istrimu!"
"Itu semua karena Maya yang memaksa. Terlebih ibuku sangat menyukai Lisa dan aku sangat menyayangi ibu."
"Tapi kau bodoh sampai nekad menghamili Maya dan kau tau akibatnya, sekarang!"
"Hm, aku sadari aku salah. Tapi aku akan memperbaiki keadaan ini sekarang, jadi kau tak usah cerewet!"
"Buaahaha ... seorang Aiden sudah menunjukan taringnya, aku takut!" kelakar Dimitri.
Aiden yang geram melempar asbak yang ada di sampingnya ke arah Dimitri.
"Woi, sabar Bro, lagi datang bulan, 'kah kau!"
"Gila!"
Mendengar sahabatnya emosi adalah sebuah kesenangan sendiri bagi Dimitri. Dengan langkah kesal, Aiden meninggalkan ruangan Dimitri untuk menemui istrinya dan pergi dengan segera. Sementara itu Dimitri semakin tersenyum senang.
"Lebih baik menggiring Lisa pulang daripada menghancurkan martabatku di sini," ucap Aiden dengan langkah lebarnya.
Sementara itu, Lisa sudah bertambah kesal karena Aiden sudah membuatnya menunggu lama. Tapi mendengar langkah kaki yang semakin dekat dengannya membuat Lisa menoleh.
"Aiden?"
Tidak menjawab pertanyaan dari istrinya, Aiden lebih memilih mengaja Lisa pergi dari Meive Company.
Di dalam mobil, Aiden tidak mengajak Lisa mengobrol. Ia lebih suka mendiamkan istrinya itu.
"Kenapa sikapnya secepat ini berubah?" batin Aiden kesal.
"Sebaiknya aku tidak mengajaknya bicara."
Lisa juga merasa bingung kenapa suaminya mendiamkannya. Padahal kedatangannya hanya untuk mengantarkan makan siangnya, tetapi karena Aiden mendiamkannya ia menjadi lupa akan tujuannya.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
__ADS_1