
Suasana sekolah nggak bakal seru selama Ve di skorsing. Tapi satu hal yang lebih menyebalkan adalah melihat Salsa dengan gaya anggunnya ikut menonton Al dan Kenzo latihan basket.
Muak, jelas! Hal itu terlihat jelas di wajah Al maupun Kenzo. Sejak jaman SMP sampai sekarang kebucinan Salsa pada Al tak pernah luntur sedikitpun. Sebenarnya Kenzo selalu mengusulkan agar Al menerima saja cinta dari Salsa, agar gadis itu bisa sedikit lebih di atur. Tapi rupanya pendirian Al lebih keras ketimbang batu karang. Sekali bilang enggak ya enggak, dan sayang, Al sepertinya menaruh hati pada gadis incaran Kenzo.
"Bro, lihat tuh, ratu loh udah nempel di dinding!" seru Kenzo pada Al yang masih fikus pada bola miliknya.
"Ratu lo kali, gue bukan raja jadi nggak punya ratu," seru Al sambil merebut bola yang Kenzo pegang.
Kenzo hanya tersenyum miring ketika Al selalu mengingkari kedatangan Salsa di tempat itu. Keringat yang mengucur pada kening Al menetes membasahi kaos miliknya. Membuat aura ketampanan miliknya menjadi berkali-kali lipat kali ini. Belum lagi wajahnya yang sangat jarang tersenyum membuatnya semakin menarik di mata kaum hawa.
Apalagi Al baru saja mencetak three points, membuat para gadis berteriak semakin histeris saat ini. Begitu pula dengan Kenzo yang kemampuannya dalam bermain basket sebelas dua belas dengan Al. Sayang mereka selalu dipasangkan menjadi teman satu tim, hingga kehebatan mereka juga disamakan satu sama lain.
Tetapi di mata Salsa, Al jauh lebih menarik ketimbang Kenzo. Dengan entengnya Salsa mendekati Al yang baru saja duduk di kursi cadangan untuk beristirahat sejenak. Di ulurkannya satu botol air mineral untuk Al. Tanpa menoleh atau pun memandangnya Al menenggak minuman miliknya sendiri.
Tanpa malu-malu Salsa yang membawa sebuah handuk sengaja mencari perhatian Al dengan mengelap keringat yang ada di dahinya.
"Singkirin tangan elu dari wajah gue!" gertak Al.
"Kamu kok jadi kasar sih Al," gerutu Salsa.
Mulutnya kini komat-kamit nggak jelas.
"Jauh-jauh dari gue, gih! Gue risih lama-lama dekat sama elu!"
Salsa menoleh, "Al, kamu kejam!"
Dengan wajah kesal dan mulut masih menggerutu Salsa meninggalkan arena lapangan basket. Sementara temannya mengikutinya dari belakang sambil berusaha menenangkan sahabatnya itu.
__ADS_1
Kenzo yang baru selesai latihan ikut duduk di sebelah Al.
"Lu apain lagi dia? Kok kayaknya sewot banget dia!" ucap Kenzo sambil menatap kepergian Salsa dengan tertawa.
"Udah yuk, balik!" ajak Al pada Kenzo.
Karena jam latihan basket udah selesai mereka pun bergegas untuk pulang.
...๐๐๐...
Sementara Dion hari itu bolos sekolah. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur di rumah ketimbang belajar di sekolah. Lagi pula di sekolah ia juga tidak bisa ketemu dengan Ve, jasu sekolah tidak terlalu penting untuknya.
Tapi gebrakan pintu dari mamanya, sontak membuat kedua mata Dion membuka dengan lebar.
"Mama kenapa berisik?" seru Dion tidak terima.
"Kenapa baru bangun? bolos lagi?"
"Ve nggak masuk Ma, jadi buat apa aku sekolah?"
"What's, dasar anak nakal!" seru Mama Dion sambil menjewer telinga Dion.
"Awh, sakit Mama!"
"Iya, Mama tau ini sakit, tapi kenapa kamu selalu ulangin hal yang sama setiap kali pindah sekolah!"
"Sepertinya kamu harus Mama nikahin sama Ve biar kamu jadi anak baik ya?"
__ADS_1
"Mau banget, Ma," ucap Dion dengan mata berbinar.
"Mau, mau! Sekolah dulu yang bener, baru Mama nikahin, emang anak orang mau kamu kasih makan apa, kalau kamu sendiri itu malasnya minta ampun!"
"Mama, itu beda lagi ceritanya, kalau Ve mau nikah sama aku, aku pasti rajin bekerja buat nafkahin dia lah Ma!"
"Nggak percaya!" bantah sang Mama.
"Akh, Mama nggak asyik!"
"Biarin, nggak asyik gini juga tetap Mama kamu!"
"Ckckck, gen emang nggak bisa bohong, aku ngaku kalah sama Mama."
"Dasar, sudah sana cepat mandi trus anterin Mama ke rumah Ve," titahnya.
"Asiap Mama," ucap Dion dengan semangat empat lima.
Dengan segera Dion menyambar handuk miliknya dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan mamanya hanya geleng-geleng melihat tingkah putranya yang belum bisa berubah.
"Andai kamu ada disini, Mas. Aku yakin Dion bakal lebih baik dari saat ini."
"Maafkan Mama, Sayang," ucapnya sambil berlalu dari kamar putranya itu.
Jauh dari semua ini, sebenarnya Dion anak yang baik, tetapi tingkahnya menjadi semakin tidak terkendali ketika dirinya berpisah dengan ayah kandung Dion.
.
__ADS_1
...๐นBersambung๐น...