MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU

MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU
BAB 73. DERAI HUJAN


__ADS_3

"Ma, Pa, sebenarnya ada banyak sekali kebingungan yang Ve rasakan selama ini. Tapi Ve bingung harus bertanya dengan siapa?"


"Kehidupan yang awalnya biasa saja kenapa semakin ke sini semakin banyak hal-hal aneh yang bermunculan? Kata nenek saat ini aku hilang ingatan, tapi anehnya kenapa aku tak melupakan kalian, lalu kenangan tentang siapa yang terhapus saat ini?"


Ve mengusap nisan Ayah dan Ibunya secara bergantian. Andai mereka masih hidup mungkin Ve akan bermanja pada mereka saat ini. Tapi sayang, Tuhan lebih menyayangi mereka. Kini hanya tinggal nisan yang berwujud nyata di depannya saat ini.


Sementara itu, Al sejak tadi terus memandangi Ve, hatinya merasa terenyuh ketika melihat wanita pujaannya begitu rapuh saat ini. Ia tak pernah melihat gurat kesedihan yang mendalam seperti yang terlihat di depan matanya saat ini. Tapi Al juga tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa memandanginya tanpa bisa menyentuhnya.


Ve adalah gadis tegar di mata Al. Tapi ini apa, ternyata Ve adalah gadis biasa dibalik semua ketegaran yang ia perlihatkan selama ini. Ingin rasanya merengkuh tubuh yang lemah itu. Mendekapnya dalam-dalam agar ia bisa berbagi beban atau setidaknya bisa mengurangi kegundahan hati Ve.


Langit yang tadinya terang, kini perlahan semakin menghitam. Awan-awan gelap itu mulai muncul dan tertata rapi di angkasa. Hembusan angin yang lembab kini menyapa kulit. Membisikkan kata jika sebentar lagi hujan akan turun.


Al menepuk pundak Ve, mencoba menyadarkannya jika mereka harus segera meninggalkan tempat itu dengan segera. Ve membuka kedua matanya lalu memandang wajah Al.


"Sepertinya hari akan segera hujan," ucap Al.


Ve memandangi langit, seolah ia baru menyadari jika langit bersamanya saat ini. Sekelam itukah jalan hidupnya saat ini. Bahkan langit pun tahu jika dirinya sedang terluka saat ini.


Kini kedua remaja itu segera beranjak pergi meninggalkan makam yang sebentar lagi akan diguyur hujan. Benar saja, sesaat setelah mereka masuk mobil, hujan turun dengan lebatnya.


"Beruntung kita tidak kehujanan," ucap Al sesaat setelah menutup kaca mobil.


Ve hanya terkekeh melihat kepanikan Al.


"Kenapa? Ada yang lucu, 'kah di wajahku?"


"Hahaha, enggak cuma sebegitu takutnya sama air hujan."


"Enggak takut sih, cuma aku jadi teringat filosofi tentang hujan."


"Tentang apa itu, Kak."


"Kamu pernah lihat hujan? coba deh kamu hitung berapa jumlah air hujan yang turun, maka sebanyak itulah sayang dan cintaku kepadamu."


Ve yang mendengar ucapan Al seketika menjadi cengo, ia bahkan tak tau apa yang diucapkan Al hanyalah bualan atau kata hatinya yang sebenarnya. Al terkekeh dan kembali melihat ke depan.

__ADS_1


"Ve, kalau kamu ingin tau apa yang sebenarnya aku rasakan saat ini, maka lihatlah ke dalam mataku."


"Di sana kamu akan melihat kejujuran hatiku, dimana dan bagaimana rasa itu bisa muncul, aku pun tak bisa mendefinisikannya."


Al melihat ke arah Ve. Memberanikan dirinya dan mencoba menggenggam kedua tangannya. Ingin rasanya Ve menarik tangannya, tapi entah kenapa ia tak bisa. Hangatnya jemari Al membuat hati Ve menghangat.


"Aku jatuh cinta padamu Veeya Nazia Raya."


Seketika kedua pasang bola mata mereka bertemu. Ve menatap mata itu dalam-dalam, mencari kebenaran untuk ucapan Al barusan.


"Di bawah rintik hujan yang turun ini, aku ingin mengatakan keseriusanku padamu."


Hening, seketika suasana menjadi hening. Hanya rintikan air hujan yang terdengar membasahi mobil mereka.


"Biarkan derai hujan semakin deras, hingga ku dapat menitipkan rindu lewat air yang akan mengalir ke hatimu."


Ve masih menatap lekat lelaki disampingnya itu, tapi ia tidak tau apa yang harus ia lakukan saat ini. Bibirnya terlalu kelu untuk menjawab pertanyaan dari Al. Al yang melihat Ve masih syok akan ungkapan hatinya hanya bisa bersabar.


"Ve, aku tak berharap banyak, tapi satu hal yang pasti, aku sudah mengatakan isi hatiku padamu, setidaknya kamu bisa mengerti bahwa inilah aku seseorang yang sangat mencintaimu."


.


.


Rintik air hujan, perlahan tapi pasti mulai membasahi tubuh Ken. Tapi Ken tak beranjak pergi, matanya terpejam menikmati sentuhan air hujan yang terus mengguyur tubuhnya. Apakah langit sedang menertawakan hidupnya? Ataukah ia sedang memeluk tubuhnya yang kini merapuh?


"Tuhan kenapa engkau tidak adil padaku, kenapa harus aku yang menanggung segalanya? Apa salahku?" ucap Ken frustasi.


"Seharusnya, aku tak jatuh cinta saat hujan. Karena setiap hujan menyapa, sesak ku terulang bersama genangan yang bernama kenangan."


Seketika tubuh Ken luruh, terduduk dengan tubuh yang terus terguyur derasnya air hujan. Sakit, sakit sekali hatinya saat ini. Rasanya takdir telah mempermainkan dirinya. Ingin marah tapi tak bisa. Bagaimanapun Lisa tetaplah ibu kandungnya, tapi ia tak menyangka terlahir dari rahim pembunuh.


Lisa yang baru saja sampai di depan gang rumah Ve seketika membeku melihat putranya dalam keadaan tidak baik-baik saja. Banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepalanya.


"Apakah Ken sudah mengetahui segalanya?"

__ADS_1


"Lalu aku harus berbuat seperti apa?"


Tepukan halus dari Aiden mengagetkan lamunan Lisa. Bayangan-bayangan masa lalu mereka seolah berputar kembali. Ketakutan Lisa jika ia sampai bertemu dengan Ibunya Vano dan darah daging suaminya semakin membuat Lisa lemas. Ingin ia berlari menjauhi tempat terkutuk itu, tapi ketika melihat keadaan Ken, hatinya juga ikut terluka.


"Biarkan Ken mengetahui segalanya, itu akan lebih baik bukan, sebuah rahasia tidak akan bisa selamanya tersimpan, Lisa. Apa yang kau perbuat di masa lalu pun harus kamu bayar saat ini."


Lisa menoleh ke arah suaminya. Dipandanginya lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.


"Andai kecemburuanmu tahu tempatnya, semua ini tak akan terjadi," ucap Aiden kembali.


"Jadi, Mas menyalahkan aku?" ucap Lisa tak terima.


Lisa mendorong tubuh suaminya dengan kasar.


"Asal kamu tahu Mas, ini bukan salahku, tapi salahmu! Andai kau bisa menahan nafsumu, semua ini tak akan terjadi!" bentak Lisa.


Lisa bergegas meninggalkan suaminya lalu mendekati Ken. Direngkuhnya tubuh putrnya yang sudah mulai dingin itu. Tak lama kemudian Ken jatuh pingsan.


"Ken, Kenzo? Bangun sayang, hei, jangan buat Mama khawatir!"


"Ken, bangun!" bentak Lisa.


Tapi Kenzo tak juga membuka matanya, hingga akhirnya Aiden segera menggendong tubuh putranya itu dan melarikannya ke Rumah Sakit terdekat. Nenek Safa yang sejak tadi mengintip dari celah tirai jendela kamarnya hanya bisa mengusap dadanya.


"Maafkan nenek, Nak Kenzo."


.


.


...🌹Bersambung🌹...


Sambil nunggu update jagan lupa mampir di karya teman Fany


__ADS_1


__ADS_2