MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU

MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU
APAKAH INI CINTA?


__ADS_3

Hampir semua siswa sudah mengumpulkan surat persetujuan dari wali murid tentang rencana camping bulan depan. Termasuk Ve dan yang lainnya juga sudah mengumpulkannya kepada Pak Prapto.


Senyum Pak Prapto tak pernah pudar karena hampir seluruh siswa dari kelasnya bisa mengikuti program tahunan dari sekolah.


"Kenapa senyum-senyum Pak?" tanya Tristan pada wali kelasnya itu.


"Ganggu senyum saya saja! Tau nggak kamu tuh bikin mood saya anjlok!" ucap Pak Prapto menoleh tajam ke arah Tristan.


"Yee, bapak nggak seru!" cibir Tristan.


"Serah elu, emang urusan saya!" ucap Pak Prapto menurunkan kaca matanya.


Takut, oh tentu tidak, anak-anak kelas satu A sama sekali tak takut pada gurunya. Tentu saja karena kekuasaan orang tua mereka jauh diatas segalanya.


Bukannya para siswa nggak patuh pada gurunya melainkan mereka terlanjur menganggap akrab seperti teman pada gurunya eh wali kelasnya. Jadi hal seperti ini sudah biasa.


Setelah itu semua pelajaran berjalan seperti biasanya. Hingga tiga setengah jam kemudian pelajaran telah usai. Tibalah dimana anak-anak pulang.


"Bro, lu nggak bisa pulang dulu, ada rapat OSIS sepulang sekolah!" sapa Al pada Kenzo yang bersiap mengajak Ve pulang bareng.


Kedua tangan mereka sudah saling bertautan sedari tadi. Hingga membuat Al sedikit merasa kepanasan.


Menyadari tatapan Al yang mengarah pada tangannya, Ve segera menarik kembali tangannya dan membuat kening Ken berkerut. Lalu tatapannya segera beralih pada Al.


"Oh ...." gumamnya.


"Ku tunggu kalian di ruang rapat!"


"Asiap, Pak Ketua!" ucap Kenzo sembari memberi hormat.


Setelah melihat Al pergi, Kenzo mengurung Ve ke dalam dua kungkungan tangannya. Dan Ve berada di tengah-tengah tangan Kenzo.


Tatapannya jelas terkunci pada mata Ken yang memikat itu.


"A-ada apa, Kak!" ucap Ve tergagap.


"Aku ada rapat, apa kamu bersedia menungguku?"


Kenzo seolah meminta ijin dari Ve untuk ikut rapat. Padahal mereka tidak ada hubungan apa-apa saat ini, lalu apakah ini artinya?


Banyak sekali kupu-kupu yang bertebangan di dalam perut. Ada rasa menggelitik ketika suara Ken yang lembut mengucap namanya.


"Ve, hallo, apa kamu melamun?" tanya Ken perlahan.

__ADS_1


"Eh, em, itu, a-anu ...."


Ken tertawa, melihat ekspresiku yang sedang malu-malu saat ini. Seolah ia berhasil membuatku terbang akan semua perhatiannya saat ini. Tapi memang betul, saat ini aku merasa istimewa di depan seorang lelaki.


"Aku bisa pulang sendiri, Kak!"


"Sudah, aku yang jemput kamu, aku juga yang bertanggung jawab mengantarkan kamu pulang."


Entah apapun yang dikatakan Kenzo seolah adalah keputusan mutlak dan aku tidak bisa menolaknya. Bahkan ketika tangan lembut itu menyentuh tanganku dan menuntunnya untuk pergi ke ruang rapat OSIS.


Baru saja kakiku melangkah masuk, tatapan tidak suka langsung Al hadiahkan untukku. Tanpa melihat kami, Al langsung menegur Ken yang turut membawaku ikut serta rapat siang itu.


"Saudara Kenzo yang terhormat. Kamu tahu kan peraturan yang mengatakan bahwa orang luar tidak bisa mengikuti agenda rapat rutin yang diadakan oleh anggota OSIS!"


Kenzo tersenyum puas ketika melihat Al kebakaran jenggot. Tentu saja ia tau kalau sebenarnya Al juga mencintai Ve, tapi Ken mengabaikannya.


"Kalau kamu keberatan, biarkan saya mengantarkan ia pulang terlebih dahulu baru saya mengikuti rapat."


Al menatap sinis ke arah Ken, bukan menjadi takut, Ken juga menatap tajam ke arah Al. Tak mau kedua orang penting di ruangan itu bersitegang, Ve memilih pergi meninggalkan ruang rapat.


"Maaf, saya tau diri, saya keluar!"


Melihat gadisnya pergi, Ken mengejarnya.


Nggak dengar jelas bohong, tapi saat mendengarnya membuat hati Ken bahagia.


"Sebegitu bencinya kah dia sama Al?" batin Ken.


"Ve tunggu!"


Mendengar namanya terpanggil, Ve menghentikan langkahnya lalu menoleh.


"Iya, Kak!"


"Kamu tunggu di perpus aja, ya satu jam lagi aku balik, atau kalau enggak kamu bisa telepon aku, Oke."


"Ehm, oke kak."


Setelah memastikan keadaan Ve baik-baik saja, Ken kembali ke ruang rapat. Sementara itu, Dion sedang menunggu kedatangan Ve. Ia tentu tau mau pergi kemana Ve setelah ini, dan dengan siapa ia pergi, ia pun tau.


Saat Ve mulai melangkah, Dion menarik Ve dan membekap mulutnya.


"Ishhh ...." desis Ve ketika menyadari ada mau berbuat jahat padanya.

__ADS_1


"Syutt, ini aku!"


Ve menoleh untuk melihat siapa yang berniat jahat padanya kali ini.


"Dion!" pekik Ve.


Tangannya spontan memukul wajah pemuda blasteran Indo-Korea itu.


"Awh ... awh ... sakit Ve, ampunnnn ...."


"Nggak ada ampun-ampunan, ngapain pakek bekap gue segala, lu mau culik gue lagi ya?"


"Enggak kok suer, cuma mau ngobrol aja Ve, please kasih kesempatan gue buat minta maaf sama kamu."


"Minta maaf apaan, kan lu nggak salah sama gue."


"Jadi, kamu nggak marah sama aku?" tanya Dion penasaran?"


"Enggak lah, ngapain juga marah nggak ada alasan."


"Alhamdulillah, gue seneng banget Ve, thank's ya."


"Hm, sama-sama."


"Balik bareng yuk!" ajak Dion.


"Nggak bisa, aku dah janji sama Kak Ken buat nungguin dia sampai selesai rapat."


"Kok gitu? Emang kalian pacaran?"


"Enggak gitu juga kalik, cuma lagi deket aja."


Dion menduduki tempat kosong di sebelah Ve sambil memandangnya.


"Sebenarnya gue juga suka sama elu Ve," batin Dion sambil melirik gadis pujaannya itu."


"Tapi, kalau kamu memilih yang lain, aku akan selalu mendukungmu, toh aku tetap bisa dekat dengan kamu."


.


.


...🌹Bersambung🌹...

__ADS_1


__ADS_2