MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU

MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU
BAB 69. TUNGGU AKU


__ADS_3

Melihat kedekatan Ve dan Al yang semakin kompak membuat dada Salsa bergemuruh. Semakin ia memberikan kesempatan pada mereka berdua untuk bersama, ternyata semakin menyakitkan.


"Kalau kamu beneran suka sama Al, harusnya kamu mendekati mamanya Sal. Karena camer tu lebih suka sama camun yang dekat dengan mereka," obat Bella menasehati sepupunya itu.


"Ha-ah, camun apaan Bel?"


"Calon mantu dudul, kamu ih, nggak gaul banget sih!"


"Loh, kok aku yang salah sih!"


"Kamu tuh, ya. Udah nggak punya pengalaman pacaran masih ngeyel dibilangin."


Bella segera mendudukkan dirinya di kursi dapur sambil memetik sayuran. Salsa yang merasa salah segera mendekati kakak sepupunya itu.


"Ya, deh. Salsa ngaku salah. Kakak Bella yang baik hati, ajarin aku agar bisa masuk keluarga Al dong, please."


Bella hanya geleng-geleng menanggapi keponakannya yang sama sekali tidak berubah manis itu. Tapi bagaimana pun, untuk memasuki Keluarga Al itu emang gampang-gampang susah. Dia saja harus berjuang ekstra agar bisa masuk ke dalam keluarga tersebut.


Tetapi, kalau untuk Salsa sepertinya cara untuk masuk ke sana tidaklah mudah. Apalagi sikap Salsa yang manja pasti tidak disukai Al.


"Kamu tuh bodoh Sal, harusnya kamu banyak belajar dari rival kamu tentang bagaimana cara dia bisa dapatkan perhatian dari Al."


Salsa mendongak kesal menatap kakaknya.


"Sabar Sa, setelah kamu mendapatkan Al, kamu nggak membutuhkan Bella lagi kok, sabar ya."


Dengan mengulas senyum palsunya, Salsa tetap berusaha meminta pertolongan Bella. Karena tak enak hati, Bella pun setuju untuk membantu Salsa.


"Makasih, Kak!"


"Sama-sam, Bel."


.


.


...⚜⚜⚜...


...Zurich, Swiss...

__ADS_1


"Maksud kamu apa, Ken? Kamu belum ada satu minggu di sini dan sekarang sudah memutuskan untuk kembali ke Indonesia?"


Ken menoleh memandangi wajah Mamanya, tapi kali ini ia lebih mementingkan hatinya ketimbang orang tuanya.


"Sejak kapkpakamu berubah, Mama sudah tidak mengenali kamu lagi, Ken."


Entah sejak kapan hati Linda menjadi lebih sensitif. Apalagi setelah mendengar sebuah kenyataan bahwa putranya lebih memilih pergi kembali ke Indonesia ketimbang tinggal bersama mereka di Swiss.


"Ma, maaf, aku tidak bisa membohongi hatiku lagi. Aku tidak mau kehilangan cintaku hanya demi memenuhi ambisi kalian. Sekali lagi aku minta maaf pada kalian."


"Ken ...." panggil Linda dengan berlinang air mata.


Sementara itu, Ken telah naik ke kamarnya yang berada di lantai dua. Ia bahkan telah mengepak beberapa pakaian dan barang-barang miliknya.


Sebuah foto yang terpajang di dinding kamar itu sempat membuat hati Ken goyah, tapi ia tak bisa hidup tanpa cintanya. Baginya kehadiran Ve mampu membuat harinya lebih berwarna.


Sulit memang berada dalam situasi ini, tapi ini lebih baik dari segalanya. Tiket sudah berada di tangannya kali ini. Jam keberangkatannya juga sudah pasti. Hanya tinggal menunggu waktunya tiba.


Sambil menunggu waktu keberangkatan tiba, Ken mencorat coret wajah Ve di sebuah kertas. Melukiskannya dalam sebuah goresan pensil di atas kertas.


KIni Ken sudah mempunyai sebuah kebiasaan baru, yaitu membuat sebuah sketsa gambar. Entah bakat itu ia peroleh darimana tapi yang pasti ia menyukai bakat terpendamnya saat ini.


.


.


"Ya, ada apa Raya?" ucap nenek setelah menaruh perlengkapan sholatnya di ruang ibadah.


Nenek Shafa mendekati Ve, ia mngusap perlahan punggung tangan Ve.


"Nek, apa boleh Ve mengunjungi makam ayah dan ibu?"


"Hm, boleh, memangnya kapan kamu mau ke sana?"


Ve tampak berfikir sejenak, lalu ia mulai berbicara kembali.


"Kalau nenek mengijinkan Ve akan berangkat sabtu siang sepulang sekolah."


"Loh kok cepat, memangnya sudah beli tiket?"

__ADS_1


Ve tersenyum kecil lalu menoleh pada neneknya.


"Ve diantar Kak Al kok nek, jadi nenek nggak usah khawatir, oke?"


"Kalau itu sudah menjadi agenda kalian, nenek bisa apa, hah. Bukannya hanya restu yang kalian minta dari nenek?" ucapnya sambil tersenyum.


"Terima kasih, Nek."


"Sama-sama sayang."


Di tempat lain, seorang ibu masih terlihat tidak terima atas keinginan sang putra yang lebih memilih pergi meninggalkan kedua orang tuanya hanya demi seorang gadis.


Suaminya yang baru saja kembali dari kantor bingung melihat kondisi istrinya yang acak adul dan sangat terlihat tidak bersemangat. Ia memegang bahu istrinya lalu mendekapnya dengan lembut.


"Ada apa, Ma?"


"Ken, Mas."


"Ada apa dengan Ken?"


Linda terisak ketika menceritakan semuanya, tapi ia tidak bisa menahan rasa sakit ketika putranya lebih memilih pergi.


"Lalu dimana Ken sekarang?"


"Baru saja ia pergi diantar supir ke bandara."


"Lalu keapa kau tak menahan atau mengejarnya?"


"Aku bingung, Mas, maaf" ucapnya menahan tangisnya.


Akhirnya ia kembali mendekap istrinya itu dan mencoba untuk menenangkannya.


"Tenangkan dirimu lalu kita akan menyusul Ken ke Indonesia."


.


.


...🌹Bersambung🌹...

__ADS_1


__ADS_2