
Tak butuh waktu lama untuk sampai di kediaman Ve yang baru. Sebuah komplek perumahan sederhana tapi terkesan asri. Sebuah rumah minimalis dengan satu garasi mobil di samping rumah dengan halaman berukuran tiga kali enam meter yang penuh dengan tanaman hias.
Melihat rumah barunya, Ve masih belum merasa tenang. Meski di depan komplek ada pos penjaga, tapi Ve masih merasa jika nantinya Lisa akan bisa keluar masuk dengan leluasa.
Ken membantu nenek membawakan barangnya. Sementara Ve dan Al berjalan di belakang nenek. Rumah minimalis itu memang hanya terdiri dari tiga kamar tidur, satu kamar tamu, dapur minimalis yang menyatu dengan ruang keluarga dan satu ruang tamu.
Di belakang rumah ada tempat bersantai dengan sebuah mini gazebo di sana, lengkap dengan tanaman bunga-bunga di sampingnya, ada sebuah pohon palm dan mangga yang membuat udara di dalam rumah terasa sejuk karena ventilasi yang lumayan banyak. Sebuah pintu kaca yang mengarah ke halaman belakang membuat kesan dapur dan ruang keluarga terasa lebih luas.
Ve masih menemani nenek untuk berkeliling rumah, sementara Ken yang sudah kembali dari kamar nenek, segera mengambilkan minuman di sana dan menyajikannya pada mereka. Rumah itu memang sebelumnya sudah diisi dengan segala keperluan Ve dan nenek.
Bahan makanan juga sudah dipersiapkan tadi pagi oleh orang suruhan Aiden. Begitu pula dengan kebersihan rumah. Tapi setelah ini mungkin orang suruhan Aiden hanya datang saat membersihkan rumah dan mengantar bahan makanan saja. Itu pun dengan tanda pengenal khusus.
Aiden memang membuat privasi Ve dan nenek agar saat mereka tinggal disana merasa nyaman. Begitu pula dengan keselamatan mereka juga sudah ditingkatkan dengan beberapa bodyguard yang dipersiapkan di titik-titik tertentu untuk menjaga Ve saat di luar rumah.
Melihat nenek yang tersenyum, Ve merasa lega. Ia pun memeluk tubuh neneknya itu.
"Nenek suka?"
"Suka, bagaimana dengan kamu, Raya?"
"Suka asalkan nenek juga suka."
"Alhamdulillah."
Melihat Ken yang sibuk menyiapkan minuman, Al membantunya.
"Apa kau akan tinggal di sini juga?" tanya Al pada Ken.
"Mungkin," jawab Ken sekenanya.
__ADS_1
"Nggak boleh, kalian, 'kan bukan muhrim."
"Ha ha ha, kau lupa kalau Ve adikku? Atau kau cemburu karena Ve akan lebih dekat denganku?"
Dahi Al megeryit. Jika dibilang cemburu, tentu saja ia cemburu. Meski mereka kakak adik, tapi mereka pernah saling dekat lebih dekat dari seorang sahabat.
Ken menyenggol lengan Al, mengisyaratkan agar Al membantunya membawakan snack sebagai teman minum teh sore itu. Lalu mereka berjalan beriringan ke gazebo belakang.
"Loh, kok malah kalian yang repot, harusnya Ve yang membuat minuman untuk kalian," seru Nenek Safa tidak enak hati.
"Nggak apa-apa, Nek. Lagi pula kami juga tidak sibuk jadi lebih baik kita mengobrol di sini sambil ngemil dan minum teh."
"Ya sudah kalau begitu, silakan, mari kita nikmati bersama-sama."
"Mari," jawab Ken sambil tersenyum.
Ve masih belum bersuara saat ini, fokusnya masih terbelah, jadi ia sama sekali tak menyimak obrolan mereka bertiga. Al yang tau hal itu hanya berdiam diri, ia akan membiarkan Ve seperti ini dulu. Jika ia sudah siap, tanpa diminta pun ia akan bercerita kepadanya.
.
.
"Bagaimana, dokter?"
"Untuk masalah demamnya, beberapa jam lagi akan turun, tapi ada salah satu masalah yang ingin saya sampaikan kepada Anda."
"Apa itu dokter?"
"Sepertinya jiwa istri Anda sedang terguncang."
__ADS_1
Tak ada raut terkejut yang ditampilkan oleh Aiden. Bahkan ia terkesan biasa saja. Tentu saja hal itu membuat dokter bertanya-tanya. Tapi ia tidak boleh mencampuri privasi pasien. Oleh karena itu setelah menyampaikan prediksinya ia segera menyerahkan resep obat dan permisi pergi.
Setelah kepergian dokter, Aiden memandangi wajah istrinya kembali. Ia hanya tersenyum lalu meninggalkan kamar istrinya. Tak lama kemudian, Aiden tampak menelpon Ken untuk menanyakan kabar Ve dan neneknya. Setelah memastikan mereka nyaman, Aiden kembali ke kamar Lisa untuk mengecek kondisinya.
Aiden kemudian membuka brankas yang ada du kamarnya, lalu mengambil sebuah map dari dalam sana.
"Sepertinya ini akan lebih mengguncang jiwamu setelah ini Lisa. Aku yakin kamu akan merasa bersalah karena telah berani menyakiti mendiang Maya dan Vano," ucap Aiden sambil menutup kembali map itu.
Lalu ia membawa map itu pergi dan tak lupa mengunci kembali brankasnya. Setelah itu Aiden turun ke bawah dan memanggil asisten rumah tangganya.
"Bik, bibik," seru Aiden.
"Iya, Tuan, ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong jaga Nyonya, saya ada urusan di luar sebentar sekalian menebus obat untuk Nyonya. Selama saya pergi, tolong periksa kondisi Nyonya setiap tiga puluh menit dan laporkan pada saya."
"Baik, Tuan."
Setelah itu, Aiden segera menuju mobilnya. Ia akan mengunjungi sahabatnya lalu menceritakan semuanya ini dan juga meminta tolong sesuatu hal.
"Semoga ia masih berada di sana."
Aiden memang tak membawa berkas aslinya tetapi ia hanya membawa soft copy-nya. Sehingga jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, berkas aslinya masih aman.
Sebenarnya berkas apa sih? Sampai segitunya di simpan di brankas? simak di episode selanjutnya ya.
.
.
__ADS_1
...🌹Bersambung🌹...