
Happy reading all😘
.
.
Meski tak mendapatkan apa-apa selain bogem mentah dari Ve, setidaknya Dion sudah tau rumah Ve. Masih dengan muka masam, Ve melangkahkan kakinya menuju rumah nenek.
"Assalamu'alaikum ..." Ve menyapa ramah neneknya lalu mengecup tangan nenek sebelum masuk rumah.
Setelah itu ia bergegas masuk ke dalam kamarnya. Ia melempar kasar tas sekolahnya, lalu mengacak gemas rambutnya.
"Hhhh, sebel, dasar cowok kam****, gue benci lu!"
Ve pun meluapkan kekesalannya dengan terus memaki Dion dengan kata-kata kasar. Ia juga masih bolak-balik di dalam kamarnya.
"Berarti dia ngebuntutin gue dong! Asem, awas aja lu ya, berani deket atau ganggu gue lagi, nih bogem bakal melayang ke wajah lu yang sok manis itu, eh ... dia emang manis sih."
"Elaah Ve, meski dia manis tapi songong Ve, buang pikiran kagum sama dia."
"Argggghhhhh ... kesel."
Ve menjejak-jejakan kakinya ke lantai kamar. Tentu saja hal itu membuat suara gaduh luar biasa, dan menarik perhatian Nenek Safa. Dari teras nenek bergegas masuk ke dalam rumah untuk mengecek kamar Ve.
"Raya, kamu nggak apa-apa kan, tadi nenek dengar suara ribut dari kamar kamu?"
Ve yang ketauan bersuara gaduh di kamar, membuka pintu kamarnya sedikit, kepalanya mengintip ke luar kamar.
"Hehehe, nggak apa-apa kok, Nek. Maaf tadi Raya cuma kesel aka kok sama teman sekolah."
Tak puas dengan jawaban Ve, nenek menarik lengan dan tubuh Ve keluar kamar. Karena terlalu kuat, ia pun hampir jatuh. Meski usianya sudah mendekati enam puluh tahun, tetapi tenaga nenek masih luar biasa. Tentu saja karena nenek dulu juga bekas mantan atlit beladiri.
Ketika diinterogasi, Ve hanya nyengir kuda. Bukan untuk dimarahi, tetapi nenek hanya mengkhawatirkan kondisi Ve, terlebih nenek sudah tahu tentang kasus bully yang dihadapi Ve saat sekolah.
"Iya, Nek. Setelah ini Ve akan lebih hati-hati lagi nantinya."
"Ya, sudah, ayo ganti baju lalu makan siang."
"Siap, Nenek."
.
.
...⚜⚜⚜⚜...
...RUMAH DION...
Setelah menemui Ve, Dion bergegas pulang. Sampai di rumahnya, Dion memarkirkan motornya sembarangan. Kebetulan di rumah, mama Dion baru selesai masak. Melihat putranya datang, ia pun menawarinya.
__ADS_1
"Sayang, sudah pulang? Makan dulu yuk, Nak."
"Bentar, Ma. Mau ganti baju dulu."
"Oke, Mama tunggu ya."
Beberapa waktu kemudian, akhirnya Dion sudah bergabung dengan Mamanya.
"Ma, Mama ingat nggak dengan gadis kecil saat kita belum pindah ke Swiss beberapa tahun yang lalu?"
"Yang mana ya?"
"Itu lo, Ma. Waktu aku masih sekolah dasar, aku 'kan dekat sama salah seorang cewek yang tomboy banget."
"Bentar-bentar, coba Mama inget-inget dulu," ucap Mama Dion sambil mengetuk-ngetuk pipinya dengan jari.
"Eh, jangan-jangan cewek yang rambutnya pendek sebahu trus suka pake celana pendek yang suka balapan sepeda sama kamu bukan?"
"Nah, iya, yang itu ...." ucap Dion setuju.
"Trus, memangnya kenapa, apa kamu ketemu dia lagi?" tanya mama sambil memasukkan satu sendok sayur ke mulutnya.
"Kalau nggak salah sih, iya."
"Kok bilangnya begitu?"
"Soalnya, di sekolah aku yang baru itu ada cewek yang punya tanda lahir persis kaya punya dia, Ma."
"Terus, karena aku iseng, dia aku kerjai, Ma."
"Ya, ampun, Dion. Kamu tuh, ya, udah dibilangin, hilangkan kebiasaan buruk kamu, kok malah makin menjadi kayak gini sih?" ucap mama dengan gemas.
"Iya, maaf, Ma. Itu ...."
Dion menemukan ujung jari telunjuknya satu sama lain. Ia begitu takut menceritakan semua ini pada mamanya karena ia tau, jika amukan dari mamanya lebih dahsyat ketimbang di cakar macan.
"Itu, kenapa, ngomong jangan di putus-putus, kenapa sih?"
"A-anu ...."
"Dion, bilang yang jujur atau Mama tabok!"
"Mama, ih, bilang nggak bilang sama aja kena tabok," gumam Dion menatap tajam sang mama.
"Dion keterlaluan saat mengerjai dia, Ma," ucapnya sambil menunduk.
Mata Mama Dion mulai memancarkan aura mencekam. Dion yang sudah mengumpulkan segenap keberaniannya, seketika luntur karena tatapan mamanya.
"Dion hampir memperkosa dia, Ma."
__ADS_1
Pletak, satu jitakan manis mendarat mulus di kening Dion.
"Ma-mama ...." protes Dion.
"Apa, nggak terima, kamu kira yang kamu lakukan itu pantas, Mama nggak didik kamu buat menjadi lelaki kurang ajar kayak gitu tahu!"
"Iya, Ma. Dion ngaku salah."
"Satu minggu ke depan, semua akses transportasi kamu, Mama cabut!"
"Ha-ah!"
"Dan satu lagi, semua kartu kredit, ATM dan lain-lainnya mama sita!"
"Kok gitu sih, Ma."
"Masih kurang, Ha-ah!"
"Enggak, enggak, Ma. Sudah cukup, ampun," ucap Dion pasrah.
"Kalau kamu mau semua fasilitasmu kembali, minta maaf sama gadis itu dan bawa dia ke rumah."
"Ha-ah!"
"Ha, he, ho ... mulu, pokoknya turuti semua perintah Mama kalau mau fasilitasnya kembali."
"Oke."
...⚜⚜⚜...
Demi menjalankan misinya, Dion akhirnya harus mulai mendekati Ve dan mencari tahu kebenarannya sendiri. Hampir setiap hari dan di mana saja Dion selalu mengikuti Ve. Hal itu sempat membuat Ve risih.
"Itu cowok kenapa, sih. Kurang kerjaan banget ngikutin gue mulu."
Sedangkan Dion masih sembunyi-sembunyi dalam mengikuti Ve. Tapi mata Ve terlalu jeli akan tingkah laku Dion. Sampai suatu saat Ve yang sudah terlalu risih menegur Dion.
"Sekali lagi lu ngikutin gue, bakal gue laporin sama Pak Prapto!" gertak Ve.
Bukannya takut, Dion semakin percaya jika Ve memanglah Raya yang selama ini ia cari.
.
.
Hayoloh, mau Ve sama siapa, nih? comment ya ...
...🌹Bersambung🌹...
...Jangan lupa VOTE/GIFT-nya ya kak, makasih ...
__ADS_1
Â
Â