MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU

MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU
BAB. 76 JUJUR


__ADS_3

Melihat tubuh nenek yang tak sadarkan diri membuat Ken harus melarikan satu-satunya keluarga Ve ke Rumah Sakit terdekat. Selama perjalanan itu pula, tangan Ken tak pernah melepas tangan Ve. Takut terjadi apa-apa dengannya, ia bahkan mengancam Lisa akan bunuh diri jika sampai Lisa nekad mencelakai Ve.


Mau tidak mau Lisa harus berpikir lebih untuk melakukan rencananya setelah ini. Oleh karena itu Lisa bersikap manis di depan Ken, tapi tidak dengan hatinya. Ia juga berpura-pura baik sama seperti sebelumnya.


🍃Di dalam ruang perawatan Nenek Safa.


Sedari tadi Ken menggenggam tangan Ve, membuat Ve semakin nyaman berada di dekatnya, ia pun menyandarkan kepalanya pada bahu Ken membuat si empunya terkejut. Meski rasa untuknya masih sama, tapi entah kenapa ada beban yang kini ikut hadir di dalam hati Ken. Ken mengusap kepala Ve, ia pun tersenyum ramah kepadanya.


"Kak Ken, aku sudah ingat semuanya."


Deg.


Meski lirih tapi Ken masih mendengar dengan jelas ucapan Ve barusan. Apakah ia menerima cintanya kapan hari? Begitulah pemikiran Ken saat ini.


"Terima kasih untuk semua perasaan Kak Ken kepadaku, tapi sepertinya orang tua Kak Ken tidak menyukai keberadaanku, jadi .... "


"Jadi ...." ucapan Ken tertahan.


"Jadi kita menjadi sahabat saja," ucapnya sambil tersenyum.


Ken memeluk tubuh Ve, mendekap erat sambil terus membelainya punggungnya. Dalam diam ia terisak, perih itulah perasaan yang ia rasakan saat ini. Tak ada yang lebih menyakitkan ketika mengetahui jika perasaan untuknya tak lagi bisa seperti dulu.


Bagaimana pun sekeras apa pun ia menolak, Veeya tetaplah adiknya meski bukan dari rahim yang sama dengan dirinya.


"Ve, apakah setelah ini hubungan kita akan berbeda?"


Ken mencoba memandangi adiknya itu, menelisik jauh ke dalam mata Ve yang sangat memporak-porandakan hatinya. Begitu pula dengan Ve yang tak tau harus berkata apa dan berbuat apa setelah ini.


"Maukah kau berjanji padaku satu hal?"


"Apa itu, Kak?"


"Jika aku mengungkap satu kebenaran yang aku dapatkan dari nenek, apakah pandanganmu terhadapku akan sama atau berubah?"


Ken menunduk, "Aku takut satu hal ...."

__ADS_1


Ken tampak menjeda kalimatnya, lalu membuang nafasnya kembali. Menatap gadis di depannya ini sembari tersenyum.


"Aku adalah kakakmu Ve, jadi sampai kapan pun, kita tidak akan pernah terpisah."


Hening, mulutnya begitu kelu, sebuah kenyataan baru begitu membuatnya semakin terpental jauh dari satu hal yang ingin ia dekati dan ia ketahui kebenarannya.


Tak mau membuat Ve berpikir lebih jauh, dengan suara tenang dan begitu lirih, Ken mulai menjelaskan satu persatu rahasia dari neneknya yang ia ungkapkan kemarin.


BRUK


Vee hilang kesadaran. Beban pikiran yang terlalu banyak membuatnya tidak bisa mengontrol emosinya. Terlebih ia baru saja mendapatkan kembali ingatannya.


Ken yang panik segera memanggil tenaga medis. Beberapa saat kemudian beberapa perawat datang ke ruangan nenek dan membawa tubuh Ve ke ruang pemeriksaan.


Sementara itu Ken meminta beberapa bodyguard untuk menjaga ke ruang perawatan nenek. Hal itu dilakukan demi keamanan dan kenyamanan nenek.


"Bagaimana dokter?"


"Pasien hanya syok, Anda tidak usah khawatir, sebentar lagi ia akan siuman."


"Sama-sama."


.


.


...⚜⚜⚜...


...Kediaman Tiyan dan Putri...


Darren yang baru saja pulang dari luar kota memeluk tubuh Putri lalu bersalaman dengan Tiyan.


"Tumben sepi, mana si kanebo kering itu?"


"Hust, kamu tuh, ya. Udah gede nyapa adiknya masih aja gitu!"

__ADS_1


"Ya kan bener Ma, lagian dia juga nggak bisa senyum gitu, beda kali sama aku yang ceria ini."


"Al ada di kamar, dia baru aja pulang dari luar kota, jadi kamu nggak boleh ganggu dia, biarin adikmu itu istirahat."


"Ha-ah, ngapain?"


"Nguntit gue, Ma?"


"Hust, dia juga punya urusan Darren, udah ah, sana kamu ganti baju atau istirahat biar badannya seger."


"Ih, Mama, bilang aja waktu nge-date sama Papa biar nggak keganggu, 'kan?"


Putri hanya meringis melihat kelakuan putra bungsunya itu. Sementara Tiyan sama sekali taj terusik akan percakapan anak dan istrinya karena dia sedang nonton bola.


"Oke Ma, anak Mama yang paling tampan naik dulu, ya."


"Hm."


Lalu setelahnya Darren menuju kamarnya di lantai atas bersebelahan dengan kamar Al. Perlahan dari kamar Al, Darren seperti mendengar sesuatu. Karena ia penasaran ia pun menajamkan pendengarannya lewat celah pintu.


"Trus, kamu di mana saat ini?" tanya Al tampak khawatir.


"Oke, besok pagi aku ke sana, maaf hari ini aku capek banget jadi nggak bisa ke sana."


"Kamu jaga diri baik-baik ya, percaya sama Ken, dia orang yang baik kok."


"Wa'alaikumsalam."


Ternyata yang barusan menelpon Ve. Dia begitu ketakutan dengan kehadiran Lisa, orang tua Ken. Oleh karena itu, ia pun menelpon Al dan menceritakan keberadaannya sekarang. Beruntung Al bisa meyakinkan kalau Ken itu benar orang yang baik. Tetapi untuk orang tuanya Ken, Al belum bisa memastikan, hanya saja Al tetap akan memantau Ve dari jarak jauh.


.


.


...🌹Bersambung🌹...

__ADS_1


__ADS_2