
Hari yang ditunggu telah tiba, Al sudah memarkirkan mobilnya di depan gang rumah milik Ve. Sementara saat ini, ia sedang menunggu kedatangan Ve yang masih berpamitan pada neneknya. Beberapa saat kemudian, Al sudah melihat Ve yang berjalan mendekat ke arahnya. Tentu saja hal itu membuat senyum Al merekah seketika.
"Sudah siap?" tanya Al ketika Ve sampai di depannya.
"Sudah."
"Oke kita berangkat."
Al segera membuka sebelah pintu mobilnya untuk Ve, tapi Ve malah melenggang masuk ke pintu sisi belakang. Tak mau berpikir aneh-aneh, Al menutup kembali pintu mobilnya lalu segera masuk mobil.
Setelah semuanya dirasa siap, Al segera menginjak gas mobilnya, hingga mobilnya segera melaju. Mobil yang dikendarai Al dan Ve melaju membelah jalanan meninggalkan hiruk pikuk perkotaan.
Sementara itu pesawat yang ditumpangi Ken baru saja mendarat. Ken membuka kaca matanya lalu tersenyum ke arah jendela.
"Sebentar lagi kamu juga akan mengingat semuanya Ve. Kita bisa memulainya dari awal."
Setelah pesawat benar-benar berhenti, satu-persatu penumpang mulai keluar dari pesawat. Hari ini tujuan utamanya adalah menuju ke rumah Ve.
Dengan segenap harapan yang besar, Ken berjalan mantap keluar dari bandara. Ken tak memberi kabar pada orang rumah, tetapi ia lebih memilih menaiki taksi online untuk menggantarkan dirinya ke rumah Ve. Lagi pula barang yang ia bawa tidak terlalu banyak.
.
.
Di sisi lain, Ve berada dalam satu mobil dengan Al. Ve menatap pemandangan dari kaca jendela mobil. Sementara Al berada di kursi kemudi, Ve malah memilih duduk di kursi belakang.
Awalnya ia merasa baik-baik saja akan kondisi itu, tetapi lama-lama ia jengah karena merasa seperti sopir.
"Ve, kamu beneran nggak mau duduk di depan? Aku merasa jadi sopir nih kalau enggak di temenin."
Ve sebenarnya tidak enak bersikap seperti itu, tapi entah sadar atau enggak, ternyata ia malah duduk dibelakang sejak tadi.
"Wkwkwk, maaf lagi pengen selonjoran nih, makanya duduk dibelakang."
"Nggak lucu, kalau kamu tetap di belakang aku berhenti nih!" ancam Al pada Ve.
"Iya-iya bawel, aku pindah ke depan."
Al yang memang pandai menekan Ve saat ini, apalagi ia selalu menggunakan berbagai cara agar Ve benar-benar bergantung padanya. Tetapi entah kenapa Ve masih merasakan ada kejanggalan di hatinya saat ini.
__ADS_1
"Astaghfirullah, aku lupa sesuatu!" teriak Ve tiba-tiba.
Tentu saja teriakan Ve membuat Al harus menginjak rem dengan mendadak. Ia menoleh memperhatikan Ve.
"Ada apa Ve?" tanya Al yang ikut panik.
Ve meringis, ingin berucap tapi takut menyinggung perasaan Al. Serba salah, 'kan?
Al membuka pintu mobilnya lalu membuka pintu tepat di samping tempat duduk Ve lalu menarik Ve agar duduk di depan. Ve tentu saja pasrah dengan sikap Al. Tapi hati kecilnya tak akan memberi tahu kalau Ken hari ini sedang dalam perjalanan pulang ke Indonesia.
"Maaf," cicit Ve ketika Al sudah melajukan kembali laju mobilnya.
"Kamu sebenarnya mikirin apa sih?"
"A-aku ... entahlah aku begitu bingung dengan semua kejadian yang terjadi belakangan ini kak."
"Kalau kamu butuh teman curhat, aku siap kok, tapi kalau kamu nggak yakin, ya aku nggak bakal maksa."
"Iya, terima kasih."
.
.
Dari kejauhan terlihat sekali jika rumah Ve selalu ramai pengunjung. Tapi kenapa ia sama sekali tak melihat Ve. Karena merasa tak enak, Ken mempercepat langkah kakinya.
"Assalamu'alaikum ..." ucap Ken sesaat setelah sampai di rumah Ve.
Pisau yang dipegang Nenek Safa sampai terjatuh karena kaget akan kedatangan Ken yang tiba-tiba. Ken malah tersenyum lalu menyalami tangan nenek dan tak lupa mengambilkan pisau yang terjatuh tadi.
"Nenek apakabar?"
"Kenapa nenek seperti melihat hantu sih? Aku Kenzo nenek, masa lupa?"
Mbak Flo yang kebetulan sedang lewat depan rumah Ve menoleh ketika bintang idolanya sedang berada di situ.
"Ulala, debaran jantung ini tolong dikondisikan Ya Allah."
Ia pun membetulkan rambutnya lalu berlenggak lenggok menuju ke arah Ken dan nenek.
"Assalamu'alaikum cogan, godain ey-ke dong, ehem!" ucap Mbak Flo dengan gaya kemayu-nya.
"Wa'alaikum salam Mbak Flo," sapa Ken ramah.
__ADS_1
"Aaahhh ..." teriaknya kegirangan sambil melompat-lompat.
"Ya ampun senangnya dijawab sama calon imamku, uhuk!"
Hampir saja Mbak Flo menyerobot ingin memeluk Ken tapi sudah dihalangi Nenek Safa.
"Dih, nenek, nggak seneng ya liat akika bahagia, akika kan pengen meluk dikit," ucap Mbak Flo dengan gemas.
"Nggak boleh, sebaiknya kamu balik sana, nenek ada urusan dikit sama Ken."
"Ya sudah, karena nenek lagi sensi sama akika, nanti aja deh aku balik lagi ke sini, yuk dadah papay calon imamku, emmuuaacchhh ...."
Kenzo terkekeh akibat ulah lucu Mbak Flo yang menurutnya sangat menghibur. Belum lagi tingkah kemayu-nya mampu membuat mood Kenzo sedikit membaik.
Setelah berpamitan dan memberikan kiss bye, Mbak Flo beranjak pergi. Sedangkan Ken sudah ditarik masuk ke dalam rumah, sementara para pembeli nenek disuruh pulang sebentar.
"Ada apa, Nek?" ucap Kenzo yang kebingungan karena baru saja ditarik paksa nenek masuk ke dalam rumah.
"Nak Ken, nenek minta maaf sebelumnya jika perkataan nenek akan menyinggung perasaan kamu."
"Sebentar, memangnya apa yang akan nenek bahas?"
"Ini semua tentang hubungan kamu dengan Raya."
"Lalu ada apa sebenarnya ini?"
"Jadi begini, sebaiknya mulai detik ini Nak Ken jauhi Raya."
"Kenapa?"
"Karena kedua orang tua Nak Ken tidak akan pernah setuju jika kalian bersama," ucap nenek sambil menunduk.
Ken mengacak rambutnya frustasi.
"Apa lagi ini?"
.
.
...🌹Bersambung🌹...
Sambil nunggu up mampir di karya kak EuRo40 dengan judul Wanita Tangguh yuk, ditunggu.
__ADS_1