
Sebuah mobil CRV TURBO berwarna hitam kini telah terparkir rapi di depan sebuah gang.
"Yakin parkir di sini aman?"
"Aman lah, Ma. Masa enggak, biasanya aku juga parkir di sini."
"Oke, kita turun."
Sepasang ibu dan anak itu kini sedang menuju ke rumah Ve. Mama Dion sudah kangen berat dengan Ve dan neneknya. Terlebih lagi ia juga sangat penasaran dengan gadis itu, apakah benar ia Ve teman masa kecil Dion ataupun bukan.
"Jalanannya sempit banget, gimana kalau kita beliin rumah buat Ve."
"Hm, boleh sih, tapi apa Ve mau?"
"Nanti biar Mama yang ngomong sama neneknya Ve."
Dari kejauhan tampak sebuah rumah minimalis meski kecil tapi ia yakin kalau rumah itu sangat nyaman. Di depan rumah itu tertata meja dan etalase kecil yang ada tulisannya "Kedai Rujak Nek Safa."
"Hm, nenek masih sama seperti yang dulu. Andai kami tidak pindah, mungkin saat ini kehidupan Ve akan lebih layak," batin Mama Dion.
"Beneran ini 'kan rumahnya, Dion?" tanya mama penuh selidik.
Dion mengangguk. Lalu ia mengetuk pintu rumah itu.
"Assalamu'alaikum ...."
Kebetulan Nenek dan Ve baru saja mau makan malam, tetapi ketika ia mendengar pintu rumah diketuk, membuat Ve harus membuka pintu terlebih dahulu. Nenek terlihat sudah menarik kursinya hendak berdiri.
"Biar Ve saja yang buka, Nek."
Lalu Ve segera menuju pintu utama, dibukanya pintu itu sambil membalas salam tersebut.
"Wa'alaikum salam, sebentar."
"Hai, selamat malam," sapa Mama Dion.
Sementara itu Dion hanya tersenyum menatap Ve penuh arti.
"Malam, tante, malam Dion."
"Silakan masuk!"
Karena Ve terlalu lama dan tidak segera kembali membuat Nenek Safa ikut pergi dan menengok ke kamar depan.
__ADS_1
"Maura ...." sapa Nenek ketika melihat siapa tamu yang berkunjung malam itu.
"Nenek, apa kabar?" ucap Ibu Dion sambil memeluk tubuh renta itu.
Mata nenek tampak berkaca-kaca saat ini. Ia tak menyangka jika saat ini ia bisa bertemu dengan sahabat putranya semasa kecil. Karena itulah air matanya luruh juga. Itulah salah satu alasan kenapa Dion dan Ve bisa dekat sejak kecil.
Setelah melepaskan rasa kangennya pada nenek, kini Maura memeluk Ve.
"Ini pasti Ve, cantik ya, tapi tetep gaya tomboy-nya enggak ilang," pujinya pada Ve.
"Muji atau nyela sih, Tan? Kok aku agak ngerasa gimana gituh!" ucapnya sambil memeluk Mama Dion.
"Hahaha, kamu tuh beneran cantik sayang, buktinya Dion nggak bisa move-on dari kamu."
"Ha-ah!" Ve yang kaget langsung menoleh pada Dion.
"Move-on kenapa Ndut, kan kita cuma teman."
"Skakmat!"
"Mam-pus lo! Ve cuma menganggap elu sebagai teman," batin Dion.
Maura nampak melirik wajah putranya lalu beralih pada Ve.
"Eh, karena kita sedang makan, bagaimana kalau kita makan malam bersama!" ajak Nenek Safa.
"Kita ganggu ya Nek?" tanya Dion basa basi.
"Ganggu sih enggak, cuma anu ...." ucap Ve sengaja dibuat ambigu.
Hingga membuat mereka tertawa akibat ulah Ve barusan. Maura menggandeng tangan Nenek menuju ruang makan.
Sementara tangan Dion yang hampir memegang pinggang Ve, ia urungkan. Tentu saja karena sorotan tajam Ve yang membuat Dion mengurungkan niatnya.
"Mau apa lu!" ejek Ve.
"Enggak mau ngapa-ngapain sih," elak Dion sambil mengusap kepalanya.
Begitulah arti tatapan Dion dan Ve barusan. Sesampainya di ruang makan, nenek meminta maaf karena hidangan malam ini begitu sederhana.
"Maaf tapi cuma ada menu sederhana di sini."
"Ya, ampun. Enggak apa-apa Nek, lagian aku lagi pengen makan tempe garit, tumis kangkung kayak gini," ucap tante Maura sangat berselera.
__ADS_1
"Hahaha, apakah di luar negeri enggak ada ini?"
"Nenek, ya jelas nggak ada lah, mana ada tempe garit di Swiss," ucap Ve terus terang.
"Astaga Ve, kamu tuh ya, sopan dikit napa, kan Nenek yang tanya sama tante."
"Ya, maaf Nek, kan udah jadi kebiasaan, wkwkwk."
"Nih lagi gendut, dari tadi nggak mau ngomong," senggol Ve pada Dion.
"Hehehe, bukannya nggak mau ngobrol tapi sepertinya saya salah tempat, ini kumpulan ibu-ibu RT berapa ya, kok rame banget," canda Dion.
"Wkwkwk, bilang aja cemburu sama Mama 'kan?"
"Em, rahasia deh ...." elak Dion sambil mengerling.
.
.
...⚜⚜⚜...
...Sementara itu di rumah Al...
"Al, aku mau tanya?" ucap Darren di sela makan malamnya.
"Hm," jawab Al singkat.
"Apa sih hubungan kamu sama Ve, kentara banget lu suka sama dia," ucap Darren penuh selidik.
"Apapun hubungan gue sama dia, lu nggak berhak ikut campur."
"Mm, iya sih, tapi siapa tau gue bisa bantu."
"Mm, nggak usah, makasih buat kemarin malam."
"Sama-sama."
Lalu kedua pemuda tadi sudah terdiam kembali dan menghabiskan makan malamnya dengan keheningan.
.
.
__ADS_1
...🌹Bersambung🌹...