MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU

MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU
BAB 67. PERASAAN APA INI


__ADS_3

Mendengar berita kedatangan Kenzo membuat Ve menjadi bingung, apalagi tentang ucapannya yang ia utarakan selama di dalam bus tadi semakin membuat Ve tak bisa menemukan jawaban atas semua pertanyaannya.


Hingga ia lebih memilih untuk menghubungi Al. Satu-satunya orang yang ia anggap bisa memberikan jawaban untuk semua pertanyaannya.


Karena jarak mereka tak begitu jauh, saat Ve menelpon secara otomatis Al langsung mengangkat teleponnya. Reflek, ucapannya juga ikut tergagap karenanya.


"Ya, Ve. Ada apa?"


"Hehehe, udah sigap aja, padahal aku lom ngomong apa pun loh," kekeh Ve saat mendengar Al yang lebih dulu berbicara.


"Ups, sorry, kelupaan, hehehe .... "


Al menyugar rambutnya ke belakang sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi kemudi.


"Kakak masih di jalan? Kok berisik."


"Iya, belum sampai rumah nih, tapi bentar lagi sampai kok."


Tiba-tiba bus telolet lewat.


TELOLET ... TELOLET ...


"Jurusan Kebun Semangka," teriak sang kernet.


Samar-samar Ve mendengar bunyi yang sama dengan suara yang terdengar dari telepon Al.


"Kok mirip, emang kakak di daerah mana?"


"Oh, adalah, kenapa?"


"Mungkin halusinasi gue aja," batin Ve.


"Nggak apa-apa, mungkin bus nya kebetulan sama."


"Semoga Ve nggak liat mobil gue, ngapain juga bus itu lewat!" batin Al merutuki kebodohannya.


"Owh, oh ya tadi pengen ngomong apa?"


"Nanti les bisa jemput lebih awal nggak, aku ingin bertanya sesuatu sama kamu."


"Hm, boleh, ya udah, nanti kalau aku sudah sampai rumah, aku segera balik ke rumah kamu."


"Eh, nggak gitu juga kali, maksud aku, sekitar tiga puluh menit di awal ya."


"Hm, oke deh."

__ADS_1


"Ya, dah, makasih, Kak."


"Sama-sama, Ve."


Al mengusap dadanya perlahan, beruntung Ve tidak melihatnya tadi. Ia pun segera melajukan mobilnya menuju rumah.


Sementara itu Ve segera bergegas kembali ke rumah. Sampai di rumah, dilihatnya banyak sekali pembeli yang mengantri untuk membeli rujak milik neneknya itu. Karena itu Ve hanya berganti pakaian lalu segera bergabung dengan neneknya untuk membantunya.


"Eh, si eneng, kenapa baru pulang? Trus mana cogan yang biasa nganter kamu?" sapa Mbak Flo ketika melihat Ve sudah berdiri menggantikan nenek untuk membungkus pesanan, sementara nenek sedang mengambil cabai di dalam rumah


"Wkwkwk, lagi di rumah, hari ini aku lagi pengen naik bus."


"Oh, tapi aku lama nggak liat yang satunya loh, Cin."


"Oh, ya? Memangnya yang mana? Kan cuma ada satu."


"Enggak lagi siapa ya namanya, bentar ey-ke lupa."


Tangan Mbak Flo bersedekap, lalu salah satu ujung jari telunjuknya mengetuk pipinya.


"Hm, siapa ya namanya?" ucapnya sambil mengingat-ingat.


"Ahai, ulala ... ey-ke dah ingat. Si ganteng Kenzo, yang mirip Cha eun wo itu loh," serunya sambil berkedip-kedip manja.


"Wkwk, jangan ngaco deh, dia tuh nggak pernah main ke sini kok!" elak Ve.


"Dih, kata siapa, dia, 'kan hampir setiap hari antar jemput kamu!"


"Kapan? Emang pernah, Mbak?"


"Pernah, kamu tuh lupa ya? Ups, sorry aku kayaknya salah ngomong ya?"


Mbak Flo menjadi tidak enak hati karena hal ini. Tapi sepertinya ia tidak salah jika mengatakan hal yang sebenarnya, siapa tau bisa memulihkan ingatan Ve.


"Ah, sebaiknya aku menceritakan sebenarnya saja, sudah kepalang tanggung," batin Mbak Flo.


"Sebelum kamu camping, yups, tapi setelah itu, balik-balik kamu dah di Rumah Sakit, terus sehabis itu kamu nggak keliatan bareng dia."


"Masa, sih?"


"Tanya aja tuh sama nenek."


Ve menoleh melihat kedatangan neneknya.


"Emang bener, Nek, sebelum aku camping aku sangat dekat dengan Kenzo?"

__ADS_1


"Iya. Tapi nggak tau lagi setelah itu kalian malah semakin menjauh, jadi nenek nggak ikut campur urusan kalian lagi."


"Ha-ah?"


Tanpa ia sadari ujung pisau itu mengiris jemari Ve.


"Awhhh," keluhnya.


"Kamu kenapa? jangan berpikir aneh-aneh, kerja jangan sambil melamun!" tegur nenek.


"Ma-maaf," cicit Ve.


"Ya ampun Cin, sini ey-ke bantu obatin tuh luka. Daripada keburu keluar banyak darahnya, ntar kamu jadi kehabisan darah loh."


"Hm, kata siapa?"


"Kata ey-ke barusan," ucap Mbak Flo sambil ketawa cekikikan.


Dari dalam rumah, Nenek Safa datang membawakan kotak P3K, lalu menyerahkan pada Flo, sementara nenek melanjutkan menyiapkan rujak pesanan orang-orang.


"Kamu bantu Raya sebentar ya, nenek mau lanjutin nyiapin pesanan orang-orang."


"Siap, Nek."


Dengan telaten Mbak Flo mengobati luka Ve sambil menanyakan beberapa hal yang sebenarnya terjadi saat itu. Tapi sayang Ve sama sekali tidak mengingat apapun. Meski Flo adalah makhluk jadi-jadian, tapi ia sangat menyayangi Ve dan neneknya. Jadi kalau ada apapun dia-lah orang ter-update di komplek itu.


Semetara itu, dalam ingatannya, yang terakhir kali Ve ingat adalah ia baru pertama kali masuk sekolah, jadi wajar teman-teman sekelasnya begitu asing terhadap kehadirannya.


"Ya sudah, kalau begitu, kamu berdoa saja untuk menenangkan dirimu, agar tidak kecapekan trus cepet sembuh."


"Makasih."


.


.


...Kita tidak bisa menilai seseorang dari penampilannya saja, melainkan murni dari perbuatannya. Oleh karena itu, teruslah bersikap baik pada siapapun....


...-Veeya Nazia Raya-...


.


.


...🌹Bersambung🌹...

__ADS_1


Jangan lupa mampir di karya teman Fany ya.. "Cinta Suci Amayra" karya kak Irma Kirana. Ditunggu jejak cintanya.



__ADS_2