MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU

MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU
BAB 64. KEKOSONGAN HATI


__ADS_3

...Ketika orang yang pernah hadir dan singgah di hati kita pergi, akan ada sebagian hati kita yang ikut pergi bersamanya....


...⚜⚜⚜...


.


.


"Raya, kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Nenek ketika menyadari ada sikap aneh Ve yang terlihat di wajahnya.


Nenek Safa adalah nenek yang paling peka terhadap perasaan cucunya itu. Bahkan sejak putranya masih hidup, ia juga melakukan hal yang sama.


Semenjak kepergian kedua orangtua Ve, Nenek Safa sudah menanggap Ve sebagai sosok pengganti jiwa Ayah Ve yang sudah tiada.


Ada banyak kemiripan yang tinggal di raga Ve. Oleh karena itu, nenek sangat memahaminya.


"Raya, kalau kamu nggak mau cerita, setidaknya jangan puasa ngomong dong, kan nenek berasa ngobras sendiri."


"Ih Nenek, apaan sih."


"Sini sayang, peluk nenek."


Ve merentangkan kedua tangannya lalu mendekap erat sosok yang sangat ia hormati saat ini. Tak ada suatu hal pun yang bisa ia sembunyikan dari neneknya.


Sebulir dua bulir air mata mulai menetes dari kedua mata Ve. Kini ia mulai terisak, dadanya bergemuruh, Ve tak bisa lagi menahan kegundahan hatinya. Hati nenek ikut tersayat ketika melihat Ve menangis.


"Sabar ya Sayang, semua yang terjadi sudah kehendak Allah," ucap Nenek sambil mengelus pucuk kepala Ve dengan lembut.


Tiba-tiba rasa sakit kembali menyerang kepala Ve. Rasanya sangat tidak nyaman tapi Ve menyembunyikannya secara perlahan.


"Raya kamu kenapa?" tanya nenek khawatir.


"Nggak apa-apa, Nek."


"Tapi wajahmu, Nak."


Tanpa berbicara dengan neneknya, Raya segera mengambil obat pereda rasa sakit yang diberikan oleh dokter kapan hari, dan meneguknya dengan satu gelas air putih.


"Nek, maaf, Raya ingin istirahat sebentar."


"Iya, Sayang."


Setelah memastikan Raya terlelap, nenek segera meninggalkan kamarnya.


"Luka ini bisa sembuh asalkan ada beberapa orang yang membantunya mengingat masa lalunya, jangan sekali-kali menyembunyikan kebenarannya, atau lukanya akan semakin sulit disembuhkan."


"Saya ingatkan, tolong jauhkan cucu Anda dengan putra saya, atau kalian akan menyesal!"

__ADS_1


"Bu, jika suatu hari nanti kami pergi, kami berdua titip Raya ya, anggaplah sebagai pengganti kami."


"Bisnis yang aku rintis tak semuanya aku pegang, ada beberapa saham yang aku titipkan di perusahaan temanku. Itu untuk masa depan Raya. Nanti jika sudah tujuh belas tahun, ibu bisa memberitahukan semuanya."


Banyak sekali ingatan yang tiba-tiba muncul si kepala nenek. Tapi ia tidak bisa memendam beban ini sendirian. Melihat kondisi Raya yang belum membaik membuatnya berfikir dua kali.


Setelah cukup lama bermonolog pada dirinya sendiri, nenek bergegas pergi meninggalkan kamar Ve.


.


.


Sementara itu di Zurich, Swiss.


"Selamat pagi, Sayang."


"Pagi, Ma. Pagi, Pa."


"Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?"


"Lumayan."


"Ya sudah, nikmati makananmu dan akan Papa ajak kamu ke kantor."


"Ngapain ke kantor?"


"Aku tidak tertarik bisnis Pa!"


"Ken, kamu satu-satunya anak Papa dan Mama, kalau bukan kamu, lalu siapa yang akan meneruskan bisnis ini?"


"Terserah mau kalian buat apa, yang penting aku nggak suka berbisnis. Aku juga akan meneruskan kuliah di bidang kedokteran. Kalian gak usah repot-repot mengurusku."


"Ken!" gertak ayahnya.


Ken hanya melihat papanya dengan ekor matanya. Lalu bergegas meninggalkan ruang makan tanpa menghabiskan makanannya.


Lisa mengelus tangan suaminya.


"Mas, jangan terlalu keras pada Ken."


"Kamu nggak tau bagaimana aku membesarkannya, kalau juga bukan untuk masa depannya, aku tidak akan sudi tinggal di sini!"


Lisa sadar semua ini salahnya. Andai saja saat itu mereka tidak gegabah, hal ini tidak akan terjadi. Disaat mereka harus membangun sebuah bisnis di luar negeri. Anak laki-laki satu-satunya harus mereka tinggalkan di Indonesia.


Hanya dengan modal kepercayaan dan penjagaan yang ketat dari mereka, Ken tumbuh menjadi remaja yang sangat disiplin dan pandai. Tapi sejak kedatangan Ve di sekolah itu, semuanya berubah, Ken benar-benar menjadi orang lain.


Beruntung saat camping kedua remaja itu celaka, hingga tanpa bersusah payah, Ken dan Ve terpisah. Kini kedatangan Ken di Swiss hanya untuk pengobatan dan menyelesaikan studinya. Itu pun jika Ken bersedia tinggal di sana.

__ADS_1


Lisa menghela nafasnya secara perlahan lalu segera pergi ke kamar Ken setelah suaminya berangkat kerja.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Ken, ini Mama, bolehkah Mama masuk?"


Merasa tak ada jawaban dari dalam, Lisa tetap mengetuk pintunya.


KREKK ...


"Ternyata pintunya tidak dikunci?" gumam Lisa.


Ia pun melangkah masuk. Dilihatnya putra satu-satunya itu duduk diatas kasur sambil memegangi kepalanya.


"Kamu kenapa?" tanya Lisa khawatir.


Ia pun mendekati putranya.


"Sakit, Ma!"


"Kita ke dokter sekarang!"


Tak mau mengambil resiko lebih, jadwal pertemuan dengan dokter temannya ia majukan. Dengan diantar sopir, mereka berdua menuju Rumah Sakit.


Sepanjang perjalanan tangan Ken terus memegangi kepalanya yang semakin berdenyut keras.


"Kenapa sakit sekali? Apa Ve juga merasakan sakit yang sama?" keluhnya.


Mobil itu melaju dengan sangat cepat. Beruntung jalanan sepi jadi mereka hanya butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai dilokasi.


"Aaarggghhhhhh ..." teriak Ken yang sudah tak bisa menahan rasa sakitnya.


"Tenang sayang, sebentar lagi kita sampai."


"Obat Ma, aku mau obat!" teriak Ken dari dalam mobil.


"Obat apa Sayang, jangan bilang obatnya ketinggalan di Indonesia?"


Ken mengangguk.


.


.


...🌹Bersambung🌹...


Hai, sambil nunggu up bisa mampir ke karya Kak Chika Ssi ya dengan judul Love is Gone, ditunggu 🥰

__ADS_1



__ADS_2