MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU

MY KETOS VS SAHABAT MASA KECILKU
BAB 63. MAAF AKU HARUS PERGI


__ADS_3

Happy reading all😘


.


.


Setelah mendengar semua penjelasan dari Al, ke-empat anak itu terdiam membisu. Tak ada percakapan di sana, hanya ada suara hembusan nafas yang terdengar berat di sana.


Ken tak yakin jika penyakitnya ini tak bisa disembuhkan, lalu kenapa rasanya sakit sekali ketika ia ingin mengingat kenangan yang telah hilang itu. Pasti ada hal yang tidak beres di sini.


Ken sempat menatap wajah Ve untuk sesaat, ada getar-getar aneh yang ia rasakan saat ini. Tapi melihat tangan Al yang selalu menggenggam tangan Ve, membuat ia bisa menyimpulkan sesuatu saat ini.


"Bagaimana pun aku harus berusaha untuk mengembalikan ingatanku atau pun ingatan Ve."


"Aku yakin ada sesuatu yang tidak beres di sini, entah cepat atau lambat semua pasti terbongkar."


Lalu Ken mulai mengucapkan sesuatu yang membuat detak jantung Ve berhenti berdetak untuk sesaat.


"Terima kasih Al, setidaknya kau telah memberikan secercah harapan untukku, jadi aku bisa pergi dengan tenang."


Ve mendongak, wajahnya menatap seolah tak percaya jika Ken benar-benar pergi meninggalkannya. Ada rasa tidak rela yang terpancar dari sorot matanya. Tapi ia juga bingung akan perasaannya saat ini.


"Kenapa rasanya sakit di dalam sana?"


"Perasaan apa ini?"


Ketika mengetahui jika Ken memutuskan untuk tetap pergi setelah mengetahui semuanya, ada kelegaan tersendiri di hati Al. Meski ia tau ini salah tapi ia akan tetap bersikap biasa saja.


"Ok, take care, Bro. Have a safe trip."


"Thank's."


"Oh ya, selamat menikmati pesta. Semoga kalian bahagia selalu."

__ADS_1


Setelah mengucap semuanya, Ken meninggalkan mereka. Begitu juga dengan Sean, yang ikut pergi meninggalkan Al dan Ve.


Melihat semuanya pergi, dengan segera Al menggandeng tangan Ve untuk menuju ke lantai bawah tempat berlangsungnya pesta. Sementara Ve tidak bisa menolak ajakan Al untuk kembali bergabung ke dalam pasta itu.


Ada gurat kesedihan yang terpancar di wajah Ve, tapi Al mengabaikannya. Ia yakin akan membuat senyum di wajah Ve kembali seperti semula.


"Semoga kau bahagia Al," ucap Ken dari lantai atas.


Sementara Sean menepuk bahu Ken.


"Maaf, aku tidak bisa membantu banyak Kak."


"Nggak apa-apa Sean, terima kasih banyak."


.


.


Hari yang ditunggu telah tiba. Kini Ken telah berada di bandara diantar oleh Sean.


"Nggak, masalah. Thank's ya."


"You're welcome."



...⚜⚜⚜...


...Bandar Udara Internasional Zürich, Swiss...


Saat ini, Ken sudah menginjakkan kakinya di Bandara Zurich. Sambil menatap pesawat yang telah membawanya tadi, Ken melangkahkan kaki keluar bandara. Di sana sudah ada kedua orang tua Ken yang telah lama menunggu kedatangan putra satu-satunya itu.


"Hai, sayang. Bagaimana perjalananmu?" ucap Mommy Ken.

__ADS_1


"Ya, begitulah, Mom."


Ken lalu bersalaman dan memeluk tubuh Daddynya.


"Ya, sudah kita segera masuk mobil yuk."


Tak butuh waktu lama, mobil yang mereka kendarai telah masuk sebuah kawasan Plateau.


Karena mayoritas penduduk Swiss 's (hampir delapan juta orang) tinggal di daerah disebut sebagaiĀ "Plateau ",Ā di mana kota-kota padat penduduk Jenewa dan Zurich berada.


Swiss memang terkenal sebagai salah satu negara terkaya di dunia. Warga memiliki jumlah tertinggi aset non-keuangan dan moneter per individu dibandingkan dengan setiap warga negara lain di dunia.


Selain itu, Jenewa dan Zurich konsisten peringkat sebagai dua kota menunjukkan standar terbaik hidup di antara semua kota global lainnya. Apalagi Ekonomi Swiss 's stabil disebabkan swasembada melalui pertanian dan efektif praktek manufaktur yang memungkinkan untuk mengekspor sejumlah besar barang.


Itulah salah satu alasan kenapa Ayah dan Ibu Ken betah tinggal di negara itu. Tapi mereka tak mengajak Ken karena sesuatu hal yang mengakibatkan Ken harus tinggal sendirian di Indonesia.


"Ken, kamu serius, 'kan bakal menetap untuk tinggal di sini?" ucap Mommy Ken sambil membelai rambut putranya itu.


"Nggak tau juga Mom, kalau cocok ya bakal betah tinggal di sini, kalau enggak ya bakal balik ke Indo."


"Oh, ya bagaimana lukamu? Kamu berobat saja di sini, Mom ada kenalan dokter ahli yang bisa membantumu."


"Are you serious?"


Ken menatap dalam kedua manik mata ibunya secara berkali-kali. Tapi hal itu tak membuat sang mama kecewa, ia tau apa maksud dari pertanyaan putranya itu.


"Iya, Mom serius, besok sore kita ada jadwal bertemu dengannya."


"Jika bukan karena ingin tahu kebenarannya aku juga nggak bakal ke sini," batin Ken sambil menatap pemandangan di luar sana.


.


.

__ADS_1


Oh ya, sambil nunggu up boleh mampir di karya kak Bubu.id dengan judul Romansa Bias dan Zee.



__ADS_2