
"Masih mau di sini, atau kita lanjut pulang?" tanya Al membuyarkan lamunan Ve.
"Pulang, Kak. Maaf, aku belum bisa menjawabnya saat ini."
Ve tertunduk, ia tak mampu berpikir jernih saat ini. Lebih baik mengatakan segalanya daripada membuat Al menunggu lebih lama lagi.
"Baiklah, aku akan tetap setia menunggumu di sini," ucap Al sambil menepuk dadanya.
Setelah mendapat instruksi dari Ve, Al mulai melajukan mobilnya kembali. Menjauhi desa itu untuk kembali ke kota besar. Tetapi suara cacing dari perut Ve membuatnya menepi di sebuah resto.
"Aku lapar, kita makan dulu, yuk!" ajak Al sambil melepas seat belt-nya.
Ve malu, ini semua pasti ulah cacing di perutnya yang tidak bisa diajak kompromi. Tapi inilah dirinya yang apa adanya. Meski malu, Ve segera menyusul Al yang sudah lebih dulu turun. Ternyata Al masih setia menunggunya.
Tangannya bergegas meraih tangan Ve, sesaat setelah Ve keluar dari mobil. Digenggamnya dengan erat tangan gadis pujaan hatinya itu. Seolah ingin mengatakan pada dunia, jika saat ini Ve adalah pemilik hatinya.
...⚜⚜⚜...
...Tuhan, jika dia memang kau ciptakan untukku, maka jagalah hati kami untuk bisa selalu bersama untuk selamanya....
...⚜⚜⚜...
Malam itu, mereka makan malam secara romantis. Meski tidak secara privat tapi mereka saling mengulas senyum di sela-sela acara makannya. Tidak ada kecanggungan seperti tadi. Senyum yang telah lama hilang itu akhirnya muncul di kedua pipinya.
Tak lupa Ve mengabadikan moment bersama malam itu. Meski belum menjadi sepasang kekasih. Tetapi setidaknya Al tidak pernah meninggalkannya. Ve bersyukur untuk hal itu.
"Terima kasih Al, kamu memberi warna yang lain untuk hidupku."
"Aku harap setelah ini, aku yang akan berada di dalam hatimu, Veeya."
Cekrek.
"Selesai," ucap Ve senang akan hal itu.
Setelah itu mereka kembali ke Ibu Kota dengan sebuah cerita baru dan semoga kebahagiaan akan selalu menghampiri Al dan Ve.
.
.
...⚜⚜⚜...
...Rumah Sakit Harapan Kita...
Karena tubuh Ken yang masih lemah, terlebih ia baru saja melakukan perjalanan jauh, membuat demam yang dialaminya semakin tinggi. Panas di tubuh Ken hampir menyentuh tiga puluh delapan setengah derajat celcius, atau setidaknya hampir menyentuh angka tiga sembilan.
__ADS_1
Lisa masih bolak-balik di depan ruang rawat Kenzo. Cemas karena kondisi Ken yang tidak kunjung membaik. Kenzo sudah dirawat selama kurang lebih tiga jam, tapi kondisinya belum juga berubah.
Aiden menyentuh pundak istrinya tapi Lisa menampiknya.
"Jangan sentuh aku, Mas!"
Aiden mundur, ia mengusap kasar wajahnya. Ingin rasanya ia menampar wanita di depannya saat ini. Wanita yang dulu ia anggap berhati malaikat tapi ternyata menjelma menjadi seorang iblis.
Jika bukan karena permintaan Maya, ia juga tidak sudi menikah dengannya. Apalagi sampai terlahir Kenzo. Ingin rasanya ia mengulang masa lalu dan merubah segalanya.
Daripada melihat keadaan Kenzo yang tak kunjung membaik, Aiden memilih pergi dan meninggalkan Lisa sendirian di Rumah Sakit. Tangan Lisa mengepal melihat kepergian suaminya.
"Mau pergi kemana lagi dia?" batin Lisa.
Saat hendak pergi, salah seorang perawat menegurnya.
"Maaf, apakah Anda keluarga pasien?"
Lisa menoleh, "I-iya, Sus."
"Bisa minta waktunya sebentar, dokter ingin berbicara dengan Anda."
Lisa menoleh ke arah suaminya yang sudah menghilang di balik tembok, lalu bergantian memandang suster tersebut.
"Oke."
Akhirnya Lisa mengikuti kemana suster itu melangkah, sedangkan Aiden kembali ke rumahnya untuk menenangkan diri.
"Permisi, dok, ini ada keluarga pasien atas nama Kenzo Brawijaya."
"Silakan masuk!"
Lalu Lisa memasuki ruangan dokter tersebut. Ia duduk tepat di depan seorang dokter muda.
"Maaf dengan ibu siapa?"
"Lisa Brawijaya."
"Baik, dengan Ibu Lisa. Perkenalan saya dr. Vallery penanggung jawab pasien atas nama Kenzo Brawijaya."
"Sebelumnya apakah pasien mengalami short term memory?"
Lisa mengangguk.
"Kemungkinan karena beban pikiran pasien bertambah banyak, sehingga membuatnya mengalami stress. Akibatnya panas ditubuhnya sulit untuk turun."
"Tapi saya hanya memastikan kondisi pasien Nyonya, sehingga tindakan yang akan saya ambil akan lebih tepat setelah ini."
__ADS_1
"Selamatkan anak saya."
"Akan saya usahakan yang terbaik."
Kecemasan di wajah Lisa sedikit menurun setelah mendengar pernyataan dari dokter. Tapi masih ada satu hal lagi yang harus ia selesaikan setelah ini. Mendatangi Nenek Safa untuk menuntaskan segalanya.
"Kau harus membayar semuanya Nenek, sekali lagi kau menyakiti putraku, maka cucumu akan bernasib sama."
"Baik, kalau begitu saya permisi, dokter."
"Silakan."
Setelah memastikan putranya baik-baik saja dari ucapan dokter, Lisa menuju kamar Kenzo untuk sementara waktu. Diusapnya wajah putranya yang semakin memucat itu.
"Sayang, kamu harus sembuh. Mama janji akan membuat orang yang menyakitimu terluka sedalam-dalamnya, Mama janji."
Kenzo masih tak merespon apapun, karena saat ini ia pun terjebak dalam mimpinya. Di dalam mimpinya ia semakin terjebak dalam ilusinya.
"Ve, apakah itu kamu?"
Wanita itu menoleh dan tersenyum pada Ken.
"Kenzo, aku memang bukan ibumu, tapi Ve adalah adikmu, aku mohon jagalah dia untuk kami."
Sesaat setelah wanita itu berbicara, seorang lelaki datang menghampirinya.
"Meskipun ayahmu telah merusak hidup istriku, tapi aku telah memaafkannya. Tapi kami tak bisa pergi dengan tenang jika Ve belum bisa bahagia."
"Veeya? Si-siapa kalian?"
"Aku Vano dan ini istriku Maya, bukankah Maya istriku sangat mirip dengan Ve?"
Lelaki itu tersenyum dan memandangi Ken yang masih terdiam membisu.
"Itu hukuman untuk semua kejahatan yang telah ayahmu lakukan pada istriku."
"Meski begitu, ini bukan salah kami, kami bahkan sangat menyayangi kedua orang tuamu, tetapi entah mengapa rasa cinta sepihak merusak segalanya."
Vano menepuk perlahan bahu istrinya.
"Tolong jaga adikmu dari kejahatan ibumu Kenzo, aku yakin kamu adalah anak yang baik."
Belum sempat Kenzo menjawab sebuah cahaya yang menyilaukan mata datang menghampiri Kenzo. Hingga setelah cahaya itu pergi, kedua orang tua Ve sudah menghilang.
.
.
__ADS_1
...🌹Bersambung🌹...