
Melihat pertengkaran Ve dan Lisa, membuat Salsa bersorak. Ia amat senang karena mempunyai senjata pamungkas untuk menjauhkan Ve dengan Al pujaan hatinya.
Perkataan Lisa tadi terus terngiang di telinga Salsa. Bahkan ia sempat merekam adegan duel tadi sebelum kedua orang tuanya menariknya masuk mobil.
Sedangkan Ve dan Lisa masih saling menatap tajam di halaman sekolah. Beberapa orang tadi memang berhasil memisahkan mereka. Tetapi aura kemarahan Lisa sepertinya sudah diambang batas. Hingga Ve maju dan menggertaknya.
"Anda belum tau marahnya orang sabar, 'kah?"
Ve berbalik, "Kalau belum, maka sekali lagi akan saya tunjukan kepada Anda, Nyonya Lisa Brawijaya yang terhormat."
Ve langsung menggandeng lengan neneknya untuk meninggalkan tempat tersebut menggunakan taksi online. Ia buru-buru sampai meninggalkan piagam dan pialanya di tepi. Hingga Jihan memungutnya.
"Dion, kejar Ve dan nenek, sekarang!"
"Oke, Ma. Ayo!"
Ibu dan anak itu segera mengejar kepergian Ve. Sementara Putri menatap garang ke arah Lisa. Ia tak menyangka jika ibunya Ken bisa se-anarkis itu. terlebih menyakiti seorang gadis yatim piatu seperti Ve.
Sama halnya dengan Jihan, Putri juga menarik paksa Tiyan dan Al untuk segera menyusul putri. Lisa masih tertawa terbahak-bahak atas aksinya barusan. Umpatan-umpatan kasar yang telah ia berikan pada Ve membuat hatinya lega.
Beruntung saat kejadian tak banyak pasang mata yang melihat, tetapi Aiden sangat malu akan kejadian barusan. Hingga akhirnya ia menyeret Lisa pergi dari sana diikuti Ken dengan mobil pribadinya.
Pihak sekolah segera menormalkan keadaan. Bisik-bisik dari beberapa guru tak berani mereka perlihatkan saat anggota dewan sekolah masih berada di sana.
"Memangnya ada apa, ya? Bukankah Ve anak yang baik dan berprestasi?" ucap salah seorang guru.
"Apa kita cabut saja beasiswa sekolahnya?"
"Jangan tergesa-gesa. Kita tunggu keterangan dari Ve esok pagi."
Pak Prapto hanya terdiam di tempat duduknya. Ia masih mencerna keributan yang baru saja terjadi. Entah kenapa ia merasa Ve tidak bersalah dalam kasus ini.
__ADS_1
.
.
Di dalam taksi online, Ve menangis di dalam dekapan neneknya. Ia tak menyangka jika kebencian Ibunya Ken semakin menjadi. Bahkan ia tak malu menunjukkannya di depan umum.
Merasa tak dihargai sebagai manusia, Ve tak bisa tinggal diam. Ia harus menyelidiki kebenaran tentang masalah rumit antara mereka. Apalagi mereka telah berani mengusik ketenangan hidup neneknya dan juga mendiang kedua orang tuanya.
"Ve, sebaiknya sekarang kita kembali ke rumah nenek saja. Atau setelah ini bukankah ada liburan semester, bagaimana kalau kita pulang ke rumah bibimu di Sumedang?"
Nenek mengusap lembut kepala Ve. Sementara Ve sedang menyusun rencana yang tepat setelah ini. Tapi entah kenapa ucapan Lisa yang mengatakan jika dirinya anak haram membuat Ve tak kuasa menahan air matanya.
Meski bukan seorang gadis yang lemah, tapi Ve juga manusia biasa. Mungkin jika tidak di depan orang banyak, rasanya tak akan sesakit ini. Sungguh menjadi seorang yatim piatu bukan pilihannya. Tapi jalan takdir dari Tuhan yang dipilihkan untuknya.
"Sebaiknya kita mengemasi barang di rumah baru dan kembali ke rumah lama saja, Nek."
"Kalau kamu merasa lebih tenang seperti itu, kenapa tidak? Toh kita masih punya rumah."
Masa lalu memang telah berlalu, tapi selama masih ada masalah yang belum terselesaikan, sampai kapan pun akan terus berlanjut bahkan menjadi sangat sulit.
Sekarang tugasnya adalah menyelesaikan masa lalu itu. Sehingga tak akan bisa mengusiknya lagi.
Aiden sangat marah kali ini. Sepertinya ia harus melayangkan sebuah ancaman untuk Lisa agar ia bisa mengerti kondisinya saat ini. Melihat jalan yang diambil Aiden bukan jalan ke rumah, Lisa melotot tajam pada suaminya itu.
"Mau kemana, Mas?"
"Bukan urusanmu, ikut saja dan tidak usah protes!"
"Mas, kenapa kamu berubah?"
"Kamu yang berubah! Kenapa kamu menjadi seperti orang gila!"
__ADS_1
"Apa, jadi, Mas menganggap aku gila? Aku masih waras, Mas."
"Orang waras bisa berpikiran jernih, tidak seperti kamu yang suka bilang kendali dan emosian!"
"Ini semua salah kamu, Mas. Semua salah kamu!"
"Kenapa aku, beraninya kau menyalahkan orang lain."
"Kalau saja waktu itu kau bisa menahan nafsumu, semua tak akan seperti ini."
"Seharusnya aku tidak menikahimu, Lisa!"
Lisa menoleh, menatap garang suaminya. "Bisa-bisanya suaminya berkata demikian?"
"Kenapa baru sekarang, di saat ia sudah menemaninya hidup berumah tangga selama bertahun-tahun?"
Sungguh, Lisa menyesal mencintai Aiden. Kalau bukan karena harta, tidak mungkin ia mengincarnya. Tapi ternyata, harta dan kekayaan tak menjamin kebahagiaan seseorang. Buktinya saat ini ia sangat terluka karena hal ini.
Lisa menunduk, meresapi semua perkataan dari suaminya tersebut. Belum lagi Lisa ia tenang. Suara Aiden membuat air mata Lisa turun dengan derasnya. Tanpa suara hanya aliran air mata yang menganak sungai.
"Demi kebaikan kita, sebaiknya kita berpisah saja!"
"Tega! Kamu sangat tega, Mas. Aku benci kamu!"
.
.
...🌹Bersambung🌹...
Sudah cukup belum hukuman buat Lisa, atau mau ditambah lagi nih, komen yuk😘
__ADS_1